Sunday, March 27, 2011

Minggu Keenam Dalam Gua Batman: Jangan Mati Dulu, Mas Nano!

Baiklah, kali ini saya sungguh-sungguh menantang angin. I'm 2 days behind my schedule and now i'm writing this. Kemarin sedianya saya sudah akan bisa mengejar 1 hari kalau saja saya gak nekat nonton Teater Koma malam harinya. Dan guess what, I never regretted it even one bit! Sie Jin Kwie jilid dua ini adalah one the best productions they have ever done! Lebih bagus dari Sie Jin Kwie yang pertama, bahkan saya bisa bilang ini lebih bagus dari Sam Pek Eng Tay. Semua kelemahan Teater Koma yang selalu ada di tiap produksinya, kali ini hilang lenyap, gak ada sama sekali. Tidak ada dialog dan monolog panjang yang membosankan, humor yang keterlaluan, sound yang menusuk telinga, lagu yang tidak harmonis, jalan cerita yang berlibet, tata panggung yang nanggung, gak ada. Semuanya perfect, indah, bahkan para penarinya tampak sekelas para penari "So You Think You Can Dance". *setelah saya check, ternyata mereka adalah tim wushu Binus. panteeees..*

Saya melihat sebuah regenerasi yang cantik sekali. Ada nafas segar yang lain dalam produksi ini, sesuatu yang bukan seluruhnya mas Nano lagi. Terasa ada sentuhan segar orang muda di dalamnya, terasa ada proses evaluasi yang tidak berhenti, perbaikan yang tidak malas. Karena semuanya tetaplah berjalan dalam pakem dan ciri khas Koma, tapi semua kekurangan dipangkas habis. Saya gak akan ngulang semua virtues Teater Koma yang seluruh dunia juga sudah pasti tau; dialog lincah, menggelitik; humor cerdas, sederhana tapi kena; saduran indah; aktor-aktor kelas dunia; tata panggung ciamik; alur pertunjukkan flawless; dan pemanfaatan dimensi ruang dan media yang optimal, selalu menjadi ciri khas dan keunggulan kelompok ini dari sejak kelahirannya. Itu semua, namun kali ini tanpa segala sesuatu yang biasanya suka kelebihan atau malah kurang pas, ditambah dengan sentuhan baru yang makes it even better: musik yang bisa dinikmati, lagu dan harmoni indah, lompatan scene yang bikin gemes; dan ada "it" factor, sesuatu yang cuma bisa dirasakan, sulit untuk di-pinpoint, sesuatu yang saya refleksikan sebagai sentuhan generasi baru Teater Koma. Ini bukan Nano yang biasanya. Tapi nyata-nyata diwariskan dari Nano dan disempurnakan menjadi sesuatu yang lebih indah.

Wednesday, March 09, 2011

Minggu Ketiga Dalam Gua Batman

Hari ini, saya akan bekerja di teras di mana langit biru langsung terlihat dan ricik air kolam menyejuki pikiran yang sudah pasti akan keriting kribo. Saya datang bersama si ganteng ransel hijau khaki. Kali ini kompartemen kamera bukan berisi si Rebel SXi dan 50mm/1.4nya, tapi speedo dan perlengkapannya. Maaf ya, NatGeo, kamu saya lencengkan dari takdirmu.

Ndoey sudah menuangkan adonan brownies ke dalam loyang ketika saya datang dan langsung masuk ke dapur Amel yang seluas aula kelurahan itu. Mak, dia jadi pakai peanut butter, dan... marshmallow!

Dalam pengasingan saya di gua batman saat ini, saya dikejutkan dengan curahan cinta dari teman-teman yang luar biasa baik hati. Dari mulai sms kangen, pesan di wall, inbox, email, ajakan mengerjakan ini dan itu dan kesediaan menunggu hingga waktu saya luang lagi, hingga kiriman makanan kontinyu karena saya memang sering tidak sempat makan. Saya merasa sangat dicintai, terimakasih saya tak akan pernah cukup. Biarkan saya berdoa, agar cinta yang sama mengguyuri balik mereka semua. Limpahkan ya Allah, cintaMu pada mereka, berkali lipat, ya Allah.