Thursday, December 31, 2009

PTD: Istana Negara - PTD Tanpa Foto

PLESIRAN TEMPO DOELOE:
Hotel Des Indes - Kanaal Molenvliet - Harmonie - Istana Presiden

Minggu pagi 27 Desember 2009, dari Duta Merlin djalan kaki ke Istana Merdeka

Registration Desk

Nah! Begitulah. Selesai cerita. Gimana mau ada cerita kalo gak ada foto?

Yup. Masuk kompleks istana harus lenggang kangkung. Gak bawa apa-apa. Dompet dan hp boleh, tapi hpnya mati. Laaah, saya kan mau apdet status pas ada di dalem istanaaa!!!

Ya sudah. Mari bercerita tentang Hotel Des Indes yang sudah gak ada itu. Salah satu dosa besar Pak Harto: melenyapkan segala sesuatu yang mengingatkan akan jasa-jasa Bung Karno, adalah hilangnya Hotel Des Indes, digantikan dengan kompleks pertokoan Duta Merlin yang ada Carrefournya. Padahal, oh, di kepala saya berulang-ulang mengalun lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra, tentang sebuah kenangan di Hotel Des Indes.

The Sky of Used-To-Be Des Indes Hotel


Tempo sore berbintang di atas kota
ku pigi ke Hotel Des Indes
di dalemnya ada suatu pesta ria
sayang kudateng sendirian

Se-sloki whisky kuteguk nikmat
di salonnya Hotel Des Indes
satu perempuan asik dandanannya
tersenyum padaku malu-malu

Kuterpesona, tiada berkata
memandang seanteronya
kepingin tanya, siapa namanya
aduh kutelat, dia pun liwat

Di itu pesta nona asik berdansa
dengan dia punya boyfriend
akhirnya dapet kutau siapa dia
kiranya oh puteri residen.. 
("Nostalgia Hotel Des Indes"  by Guruh Soekarno Putra)

Cute Boy

Lalu berjalan kakilah kami semua, berjejer-jejer ratusan orang, kemayu mengenakan rok-rok panjang dan berbatik-batik, menyusuri yang dulunya Kanal Molenvliet, melewati patung hermes di Harmonie, hingga sampai di Koningsplein Paleis atawa sekarang Istana Merdeka. Tetapi oh tetapi, seperti yang sudah saya bilang tadi, ke istana merdeka kudunya lenggang kangkung, jadi perjepretan paling pol hanya boleh sampai gedung SetNeg saja. Ya sudaaah..

State Secretary Building - Duotone

Padahal, saya kepingin sekali motret beranda belakang yang luas dan nyaman itu. Yang kursi rotannya dari jaman Bung Karno dulu, karena waktu Bu Mega jadi presiden, beliau minta kursi rotan dari jaman beliau kecil dikeluarkan lagi dan dipakai di beranda belakang. Waaah, Bu Mega... saya paham dendam itu! It used to be your home ya, bu...

Surprisingly, istana merdeka look and feel sebagai tempat yang homy untuk ditinggali. I mean I can see myself living in there, hah! Langit-langit berteksur indah, ruangan-ruangan tempat menerima tamu negara, lukisan dan karya-karya seni, pajangan souvenir dari para kepala negara *gading, cuuuy..*, karpet dari Bekasi, hehehe... Saya senang sekali karena "bau" Bung Karno masih lumayan kental terasa. Weeh, jadi nepsong kepingin ke Istana Tampak Siring, Cipanas dan Bogor. Hm.

Sayangnya istana negara (beda sama istana merdeka yak) hanya bisa dilihat dari luar, karena presiden dan keluarga actually tinggal di sini. Gak kecewa, soalnya gak ngefans sama SBY. Voted for Amien Rais and the other candidate the second time around. Hee-hee.


Buat yang mau punya foto kayak di atas *where's Wally?*, tiap Sabtu dan Minggu istana dibuka untuk umum, setelah pak presiden dan keluarga mengungsi sementara ke Cikeas *paaak.. kayak ngekos ya, tiap sabtu-minggu pulang ke rumah orangtua*. Jangan sampe saltum ya. Gak boleh pake baju santai. Jeans, tanktop, sandal, kaos, lupakan saja! Pake sepatu, celana kain, rok, batik, atau baju resmi lainnya. Dan.. bawa KTP.

Sekarang giliran Adep 'ndongeng. Silaken, Dep..



Adep Mendongeng..

Apatah jang telah terdjadi pada tanggal 27 Desember 1949, atawa 60 tahon silam? ta' banjak jang inget bahoewa pada itoe hari, "achirnja" fihak Belanda mengakui Kedaulatan Republik Indonesia. Belanda bertjokol di Bumi Nusantara lebi dari tiga ratoes tahoen (kaloe dihitoeng sedari pertama kali tiba thn 1596).

Mak-dar-it  SAHABAT MUSEUM kassie adjak sodara-sodara sebangsa dan setanah air oentoek mempeladjari sedjarahnja langsoeng di satoe tempat jang bole dibilang poesatnja Hindia-Belanda tatkala prentah di negeri ini, jakni: Koningsplein Paleis (sekarang berganti nama: Istana Merdeka sejak 1949).

Oepaija Belanda dalem meredam actie Republiken agar tida berontak dan melakoekan perang ternjata moesti dibrentiken, sebab-sebab banjaknja doenia internationaal jang kassie ketjam itoe actie kekerasan jang tiada henti dan tiada djelas djoentroengannja :(

Bebrapa vergadering atawa pertemoean dilakoeken oleh kadoea koeboe dengen seksama, moelain sedari itoe Perdjandjian Linggardjati, Renville, Roem-Roijen, namoen hatsilnja njaris nihil, melaenken menerbitkan perang antara doea anak bangsa jang soenggoe tragisch dan bikin aer mata djatoeh bertjoetjoeran. Bahkan sampe terdjadi Agresi Militer (atawa Belanda bilang itoe adalah Actie Politineel) doea kali banjaknja, soepaija itoe kaoem para Pemberontak (Orang Indonesia maksudnya) sigra dapet ditoempas hingga ke akar-akarnja. Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada tanggal 27 Desember 1949 meroepaken achir dari segala itoe peroendingan-peroendingan jang akibatnya Kedaulatan Republik Indonesia diakui oleh Belanda, walaupun berbentuk Republik Indonesia Serikat (United States of Indonesia? USI doong.. hihihi) dari 27 Desember 1949 sampai ke tanggal 17 Agustus 1950, diboebarken oleh Presiden Soekarno.

Ach, bertjeloteh perihal itoe hari jang sanget bersedjarah ini tiada aken ada toentasnja. Kitaorang adjak toean en njonja oentoek kenalin bilangan istana ini dan sekitarnja. Sedjak Tentara Mataram en Kasoeltanan Banten tiada lagi kassie antjeman ka Batavia, ini kota mendjadi aman, tentrem en sentausa, maka para Orang Walanda bikin bangoenan-bangoenan roema en gedong jang mewah di loear Tembok Kota Batavia (jang pernahnja di bilangan Djakarta Kota sekarang). Saperti itoe Gouverneur-Generaal Petrus Albertus van der Parra bikin roema di Djalan Djacatra (Jacatraweg) atawa dideket bilangan Kampong Petja' Koelit sebelom daerah Mangga Doea (tau dong dimana?).

Lantas Reiner de Klerk poen ta' mahoe kalah, diaorang bangoen roema villa di loear Tembok Kota, jakni di Molenvliet West (skr: Jl.Gajah Mada). Kamodian di sepandjang Djalan Molenvliet ini, (skr: Jl.Gajah Mada & Jl.Hayam Wuruk) diberdiriken banjak hotel atau tempat logeren (menginap, nah inget Losmen? itu dari kata Logement, yang artinya tempat menginap) boeat Orang Belanda en djoega orang jang melantjong ke Batavia, dan sala satoe dari itoe hotel adalah Hotel Des Indes.

Hotel Des Indes poenja kisah perdjalanan jang erg interessant (very interesting). Ini hotel awalnja adalah roema boewat tetirah orang kaya Belanda tempo doeloe. Perkembangan kota dirintis dengan pemboeatan saloeran aer Molenvliet (Molen = kincir; vliet = aliran. doeloenja ada kincir air di ujung kanal ini, katanya...). Ini saloeran aer atawa kanaal (sungai buatan) dibikinin oleh Kapitein Tjina jang ketiga, ia itoe Phoa Beng Gam (Belanda nyebutnya: Bingam) di tahon 1648.

Adalah Adriaan Moens, saorang Directeur Generaal VOC jang miliki tanah dan bangoenan, jang di kemudian hari dibeli oleh bebrapa orang hingga achirnja dibeli oleh pengusaha Perancis jang bernama A.Chaulan. Tak heiran di deket daerah ini doeloe ada Jl. Chaulan (skr jadi: Jl. Hasyim Ashari). Moela pertama, itoe hotel dibri nama: Hotel Chaulan, lantas brobah mendjadi Hotel de Provence. Ada kisah menarik tentang hotel ini untuk menarik pengunjung. Marika bikin reclame di soerat chabar Javasche Courant bahoewa akan ada "Ijsavonden" (Ijs = es; avond = malam, ia itoe "Malem-malem minoem ijs). Itoe ijs diimport langsoeng dari Boston, dan boetoeh tempo 4 boelan lamanja sampe tiba Batavia, dan atjara minoem ijs (minoeman dingin) diselingi dengan Konser Musik! ah, ada-ada aja yah orang Belanda di Batavia tempo doeloe, dan kerana doeloe blom ada koelkast, maka diaorang simpen itoe botol-botol minoem di seboeah peti dingin atau koelbak! jang dilapisi timah hitam, dikassie aer dan belerang (hhhmm mungkinkah teknologinya mirip Es Goyang jaman sekarang? tapi kalo Es Goyang dipakein Garam yah? ada-ada aja yah :)
Makanya kitaorang sijap-sedia soegoehken Ijs Cream Ragusa koetika plesiran klaar dilakoeken!

Boekoe 50 jaar N.V.Hotel Des Indes dan djoega Boekoe Ketjil Korte Geschiedenis (Short History) djelasken perkara tjeritera-tjeritera uniek hotel ini, jang nantinja akan dibatjaken oleh Pak Liliek Suratminto, dimana banjak tjatetan detail seperti: Djalan Asphalt (aspal!) di dalam perkarangan hotel ini pandjangnja 2 KM, ada penangkaran rusa di halaman belakang hotel ini, laloe ada 120 samboengan telefoon, dan 500 percakapan telefoon lokaal per hari, juga 5000 percakapan interlokaal maupun international, terus nama-nama pegawai yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun, lalu, jabatan di hotel ini seperti Strijker (tukang setrika!), Kamerbaboe, Kamerjongen (Room Boy yah?), lantas Toekang-wasscherij (tukang cuci), dan hal-hal nan loetjoe dan menarik laennja :) Dan pada tahun 1948, pegawainya terdiri dari: 23 Orang Eropa, 50 Orang Tionghoa dan sekitar 590 Orang Indonesia (aje gillleee banyak banget yakh, tapi yah kebanyakan jadi Baboe-Jongos! yang sebagian tugasnya bawain makanan ala Rijstafel untuk Meneer dan Mevrouw jang pengen eten-eten (makan-makan) enak dengan Menu Lauk Pauk beraneka ragam yg rasanya maknyus..

Nadia Purwestri dari Pusat Dokumentasi Arsitektur menjelaskan arsitektur Hotel Des Indes ini sejak awal, hingga namanya menjadi Hotel Duta Indonesia dan dihancurkan di tahun 1971!!! Juga arsitektur dan bangunan-bangunan yang terdapat di sepanjang kawasan Harmonie dsk ini. Adapun Pak Alwi Shahab menerangken perihal Jakarta Tempo Doeloe, tatkala gedong Sociteit De Harmonie misih mendjadi tempat jang elite dan djoega tempat wong londo tjari djodoh, Jaga Monyet (kenapa monyet mesti dijaga? kayak kurang kerja'an aja...), lalu Patung Mercurius (atau Patung Hermes) yang setia bercokol di perempatan Harmonie ini pagi, siang, sore, malem.



Inilah Susunan Acara PTD:
Hotel Des Indes - Kanaal Molenvliet - Harmonie - Istana Presiden
Minggoe tanggal 27 boelan Desember tahon 2009

07.30 - 08.00: Pendaftaran Ulang di Parkiran Duta Merlin
08.00 - 08.15: Penjelasan Singkat tentang Hotel Des Indes
08.15 - 08.45: Keliling situs bersejarah bekas Hotel Des Indes
08.45 - 09.00: Jalan Kaki menelusuri Jl.Gajah Mada (Molenvliet)
09.00 - 09.30: Jalan Kaki ke Istana Merdeka, via Patung Hermes
(sekalian diceritakan riwayat Sociteit De Harmonie, Jaga Monyet!)
09.30 - 11.00: Keliling Istana Merdeka (doeloe: Koningsplein Paleis)
11.00 - 11.15: Jalan Kaki kembali ke Parkiran Pertokoan Duta Merlin
11.15 - 11.30: Dibagiin Es Krim Ragusa dan dimamam sampe tandas!



Until next PTD, everyone..

Sunday, December 13, 2009

Jiffest: Muallaf



Tahun ini sukses 'kali saya nge-Jiffest!

Rangkaian "pelarian" alias curi-curi waktu buat ngabur ke Blitz Grand Indonesia di sela-sela super ketatnya deadline buku, ditutup dengan manis oleh film terakhir yang saya tonton: Muallaf, directed by Yasmin Ahmad.

Saya yang kurang piknik ini hanya bisa terkesima ketika film berakhir. Kemana aja sih saya, baru kali ini nonton filmnya Yasmin Ahmad?

Seperti biasa, sessi nonton disambung dengan sessi diskusi bersama pembuat filmnya sendiri. Hanya saja, yang hadir adalah adik dari Kak Yasmin, karena ternyata wanita hebat yang tidak sempat saya kenal ini baru meninggal dunia beberapa waktu lalu. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun..

Sebuah film yang bagus. Dalam, kompleks, sekaligus sederhana dan cute, intense, and beautifully presented. I cried twice during the movie, simply because I connected easily with the problems, as I'm pretty sure many people did.

See you on the next film festival. Yea, you :)
This entry was posted in

Wednesday, December 09, 2009

Jiffest: "99% Honest" and "Coffe and Allah"

What a beautiful, soulful, groovy documentary. You only wished a documentary could be this enjoyable.

A documentary about United Minorities, a hip hop group in Norway. The film focused on 4 youngsters: Amina (Uganda), Assad (Pakistan), Haji (Iraq) and Emir (Bosnia). They got what it takes: talent, dedication, brain, maturity, and... Islam.

Beautiful music, beautiful voice.
Highly recommended.

"Coffee and Allah" was an elegant short story with a charming ending: a cup of coffee whose froth spelled "Allah". How can it go wrong.


Film Info:




99% Honest (99% Aerlig)

Synopsis:
Emir, Amina, Haji and Assad are all members of the hip hop group Forente Minoriteter (United Minorities). The film follows them through their musical process, with its ups and downs. The film crew has followed the band for two years, resulting in an intimate encounter with some very charming and open young people. They are all different but still find common ground through their passion for music and, not least, in finding their own space and identity amid conflicting demands from friends, family and Norwegian society.

Info:
Forente Minoriteter, the main subject of this documentary, are a group of people from different backgrounds who strive to raise awareness and promote cultural diversity in music, dance, film, theater and writing.

Director: Rune Denstad Langlo
Country: Norway
Year:2008
Genre: Documentary
Duration: 70 min.
Language: Norwegian (with English subtitles).

Awards:
Nominated for Best Documentary and Best Score at the 2009 Amanda Awards, Norway.





Coffee and Allah

Synopsis:
A young Muslim woman's appetite for coffee, Islam and a good game of badminton. When Oromo Ethiopian Abeba Mohammed moves to suburban Mt Albert, she has nothing but her faith in Allah, a taste for Ethiopian coffee, and a zest for life to sustain her. From behind her purdah, and no knowledge of English, Abeba struggles to make a connection with the people of her new homeland.

Info:
Coffee and Allah is not her only award-winning short film. Her 1996 short O Tamaiti won an award from New Zealand Film and TV Awards in 1996, while her 2001 short Still Life was awarded First Prize for Short Films at the 2001 Montréal World Film Festival.

Country: New Zealand
Year: 2007
Genre: Short
Duration: 14 min.
Language: English

Awards: 
Best Short Film at the 2008 Hawaii International Film Festival
This entry was posted in

Tuesday, December 08, 2009

Jiffest: The Damned United


The story was about Brian Clogh, manager of Derby County who had this vendetta against Don Revie, manager of Leeds United, that drove him to bring the club from the bottom of second division up to beat the Leeds, which was on top of first division.

Even I, a non-football person, was having a great time watching this movie. It was a great movie, beautiful pictures frame-by-frame, telling the story in a non-Hollywood style which I like, in full British accent without subtitle. Perfect.

A must-see for football maniacs. A must-have for movie collectors. A must-must for people like me, who simply needs a break from everything :)

Top notch, highly recommended.
Go see it. Blame me if you don't like it.
This entry was posted in