Thursday, January 18, 2007

Cerita Manusia

...
Ditatapnya wajah sang pemilik perusahaan dengan tatapan setajam pedang, "Saya percaya bapak orang baik. Hanya saja bapak mudah tertipu oleh orang-orang jahat di sekitar bapak," ucapnya tegas nyaris berdesis, bercampur tangis dan wajah basah oleh air mata.

Wajah sang boss besar mendadak pias. Matanya seperti bertanya-tanya tak mengerti. Tak sanggup berkata apa-apa mendengar kalimat terakhir pegawainya tersebut.

Wajah pias itu tak pernah dilupakannya. Wajah kosong nyaris dungu, seolah-olah seketika meragukan semua penilaian yang dibuatnya sendiri.

Dengan dada masih sesak oleh emosi, dihempaskan tubuhnya ke jok taksi yang sudah menunggu dengan OB yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke bagasi. Setelah menyebutkan tujuan, tangisnya pun pecah. Pak supir taksi yang baik hati bertanya ada apa. Jawabannya nyaris tak tertangkap telinga karena tangis dan amarah yang amat kental,"Saya difitnah pak..."

Hari itu, hari yang amat berat. Ia setengah tak percaya ada mahluk-mahluk bermuka amat manis namun berhati teramat busuk. Bahkan hingga sekarang pun ia masih terpukau ketika mengingatnya.

Namun Allah memang maha memberi pelajaran. Keesokan harinya ia terbangun pagi-pagi. Masya Allah. Semua rasa sakit hilang tak berbekas! Semua sedih, sakit karena fitnah, marah karena ketidakadilan, ternyata hilang pagi itu bagai terbasuh embun. Yang hadir malah rasa lega yang melapangkan, pasrah yang menenangkan, bahagia yang memaafkan.

Hidup pun dimulainya lagi dengan hati ringan dan gembira. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimushsholihat. Pagi itu, dengan mudah ia memaafkan semua, tanpa usaha. Orang, peristiwa, segalanya. Dikenangnya setiap orang dan peristiwa bagai mengenang sebuah film komedi situasi yang baru ditonton. Hanya sebuah episode dalam rangkaian musim yang panjang untuk ukuran manusia. [Oh, ingin segera beli Tesaurus Bahasa Indonesia! Kosa kata saya miskin sekali!]

Berita itu datang dari seorang teman baik yang selalu dirinduinya, yang meninggalkan pesan singkat di YM, "Check this out ____ [alamat sebuah berita di JakNews]."
T____ _____ Direktur PT T______ dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena kasus korupsi dengan lembaga bla-bla-bla..
Hanya setahun berlalu sejak siang penuh emosi di lobby sebuah gedung perkantoran di kawasan Buncit itu. Hanya setahun. Tidak ada dendam, apalagi benci. Hanya sejimpit rasa kasihan. Teringat wajah pias nyaris dungu itu. Sorot mata yang bertanya-tanya, yang mendadak ragu akan semua keputusan yang dibuatnya.

"Ah, pak T. Saya masih percaya anda orang baik," lirihnya sambil menutup jendela browser.



...

Sunday, January 14, 2007

Menggambar Bersama Pak Tino Sidin


Sore ini sore yang malas sekali (tiap hari bukankah?). Sempat hujan deras walau sebentar. Lumayan memberi jeda pada teriknya hari sejak pagi tadi.

Teh hijau kepul-kepul, Kompas Minggu di tangan. Perfect.

Lembar khusus "Kehidupan", liputan utamanya: Ada Apa dengan Film Kita... Pas sekali! Saya sudah muak dengan adu pendapat gonjang-ganjing perfilman nasional yang norak dan tolol itu. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan sesuatu di koran Minggu ini yang bisa menghilangkan semua kegemesan saya terhadap issue ini. Ingatlah, tulisan yang mencarimu. Bukan kamu yang mencari tulisan. Begitu kata seorang teman, entah nyontek quote-nya siapa, tapi saya sadari sering benar adanya.

Baca dari halaman belakang.

Lembar utama. Baca-baca-baca.. Hiyaaaaa, akhirnya pada nyadar juga kalau jambulnya Beckham masih lebih bagus daripada main bolanya. Monggo bergabung ke Holywood Soccer Club, mas Becky...

Lembar "Klasika". Aha! Ini dia rupanya kolom kecil yang bakalan diisi sama NCC. Hmm.. cute..

Lembar "Kehidupan" (kok kayak judul sinetron yak?) Teater Koma lagi manggung di TIM. Oh, senangnya! Betapa rindunya saya nonton Teater Koma lagi! Lakon-lakon terakhir mereka banyak mengulang lakon lama, kalaupun ada lakon baru, gregetnya sedikit pudar dibanding dulu. Dari reviewnya, yang ini sepertinya oke nih. The hell with the review! Bagus jelek, I'm there already. Miss it oh so much. Kunjungan Cinta. Graha Bakti Budaya, sampai 28 Januari. Sip.

Akhirnya sampai ke liputan utama. Hmm.. baca-baca-baca.. sejarah panjang 'peniruan' film di Indonesia sejak jaman kakek nenek tahun '50an, sampe jaman cicit tahun 2000-an sekarang. Komentar Arswendo, Seno Gumira Ajidarma, Marcelli *dunno this guy*. Daftar 10 sinetron jiplakan lengkap dengan versi asli yang dijiplaknya.

Semua tulisannya menarik dan bagus. Tapi agak kecewa juga --sedikit-- karena tidak ada 'sesuatu' yang nendang dalam artikel demi artikel liputan ini.

Saya sudah siap menutup koran, setelah menyelesaikan membaca cerpen Musibah karya Jujur Prananto, sewaktu menyadari ada satu tulisan lagi belum saya baca. Rubrik Wacana. Judulnya, Gonjang-ganjing Perfilman Indonesia. Totot Indrarto.

Judulnya sih basi, tapi feeling saya mengatakan this is gonna be great.
And it's true!
Bukan karena bung Totot berpihak pada satu kubu, ataupun bahasanya yang lugas cenderung sinis, ataupun alur logika yang tepat. Bahkan juga bukan karena kejujurannya bertutur tanpa ada tendensi memoles sesuatu yang kurang halus. Tapi karena tulisan ini telah 'mencari' dan akhirnya 'menemukan' saya untuk membacanya. Sehingga saya bisa menutup chapter menyebalkan ini dengan satu senyuman lebar dan hati gembira. Hah!

Saya kutip paragraf terakhir yang memuat inti dari tulisan tersebut:

Duh. Saya kok jadi semakin yakin, warisan terburuk Orde Baru sebetulnya bukanlah kesanggupan mereka mengerdilkan kehidupan politik di negeri ini, tetapi justru keberhasilannya menciptakan generasi baru bangsa yang apolitis: naif dan mau serba instan. Kepingin apa-apa tinggal menadahkan tangan pada pemerintah. Dan satu-satunya cara berpolitik yang dikenal cuma berdemo alias unjuk rasa sembari mengancam...

Terimakasih, bung Totot. Kalau ada umur, saya mau minta tanda tangan anda.



Tentang judul posting ini:
Tadinya mau dikasih judul "Mari Membaca Koran". Tapi malah teringat Pak Tino Sidin, yang dulu dengan setia menuntun saya, dan jutaan anak Indonesia lainnya, tiap Minggu sore, untuk mengalami proses menggambar. Mulai dari titik, lengkung, garis, warna, hingga jadi sebuah lukisan indah. Ah, saya hanya rindu Pak Tino.

Mengalami sebuah proses bersama-sama.
Menggambar bersama Pak Tino Sidin.

...