Skip to main content

Minggu Keenam Dalam Gua Batman: Jangan Mati Dulu, Mas Nano!

Baiklah, kali ini saya sungguh-sungguh menantang angin. I'm 2 days behind my schedule and now i'm writing this. Kemarin sedianya saya sudah akan bisa mengejar 1 hari kalau saja saya gak nekat nonton Teater Koma malam harinya. Dan guess what, I never regretted it even one bit! Sie Jin Kwie jilid dua ini adalah one the best productions they have ever done! Lebih bagus dari Sie Jin Kwie yang pertama, bahkan saya bisa bilang ini lebih bagus dari Sam Pek Eng Tay. Semua kelemahan Teater Koma yang selalu ada di tiap produksinya, kali ini hilang lenyap, gak ada sama sekali. Tidak ada dialog dan monolog panjang yang membosankan, humor yang keterlaluan, sound yang menusuk telinga, lagu yang tidak harmonis, jalan cerita yang berlibet, tata panggung yang nanggung, gak ada. Semuanya perfect, indah, bahkan para penarinya tampak sekelas para penari "So You Think You Can Dance". *setelah saya check, ternyata mereka adalah tim wushu Binus. panteeees..*

Saya melihat sebuah regenerasi yang cantik sekali. Ada nafas segar yang lain dalam produksi ini, sesuatu yang bukan seluruhnya mas Nano lagi. Terasa ada sentuhan segar orang muda di dalamnya, terasa ada proses evaluasi yang tidak berhenti, perbaikan yang tidak malas. Karena semuanya tetaplah berjalan dalam pakem dan ciri khas Koma, tapi semua kekurangan dipangkas habis. Saya gak akan ngulang semua virtues Teater Koma yang seluruh dunia juga sudah pasti tau; dialog lincah, menggelitik; humor cerdas, sederhana tapi kena; saduran indah; aktor-aktor kelas dunia; tata panggung ciamik; alur pertunjukkan flawless; dan pemanfaatan dimensi ruang dan media yang optimal, selalu menjadi ciri khas dan keunggulan kelompok ini dari sejak kelahirannya. Itu semua, namun kali ini tanpa segala sesuatu yang biasanya suka kelebihan atau malah kurang pas, ditambah dengan sentuhan baru yang makes it even better: musik yang bisa dinikmati, lagu dan harmoni indah, lompatan scene yang bikin gemes; dan ada "it" factor, sesuatu yang cuma bisa dirasakan, sulit untuk di-pinpoint, sesuatu yang saya refleksikan sebagai sentuhan generasi baru Teater Koma. Ini bukan Nano yang biasanya. Tapi nyata-nyata diwariskan dari Nano dan disempurnakan menjadi sesuatu yang lebih indah.


All in all, sungguh saya bersyukur, lagi-lagi sudah mengorbankan pekerjaan untuk ngacir semalaman ke Graha Bhakti Budaya. Tanpa tiket, because i've been doing this since forever: datang mendadak tanpa rencana, sendirian, cari tiket di sana. Dan saya selalu, selalu, dapat tiket. Tapi sore kemarin, tiket habis blas pada jam 6 sore persis ketika saya mendarat di depan loket. Selanjutnya ada dua jalan, cari tiket di calo atau menunggu tiket aisle. Ya, ada tiket aisle, sodara-sodara. Ini saya kasih tau karena ternyata ada yang gak tau tentang tiket aisle ini! *lirik seseorang* I mean, come on, untuk yang sering nonton teater, didn't you look around and see people bursting in when the show just began and they sit along the aisle? Didn't you wonder how they get to sit there?

Ok, karena semalem ada yang mencak-mencak gegara gak tau ada tiket aisle, lalu menyesal sangat akan keputusannya untuk hunting foto earth hour instead *saya jahat sekali :)*, maka ini saya obrolin sekarang, biar tuntas tugas saya. Tiket aisle adalah tiket tidak bernomor di mana pemegang tiket boleh duduk di terap/tangga di antara barisan kursi teater. Ya, gang kecil itu. Untuk tiap sayap hanya dijual 25 tiket dan penjualan tiket hanya dibuka ketika gong sudah berbunyi yang artinya pertunjukan sudah dimulai. Ketika inilah para calo juga beraksi banting harga.

Candi Boko, Jokja, end of January 2011
Jadi kadang seru tuh, barisan antrian tiket aisle makin maju, calo semakin agresif, dan calon penonton harus memutuskan dengan cepat: tiket VIP (yang sudah menjadi) seratus lima puluh ribu, atau tiket aisle seratus ribu? Either way gak masalah, karena both positions were perfect distant to the stage, dan tetap saja bisa nonton Teater Koma. Sebuah aset seni budaya negeri yang tidak ternilai harganya.

Ah, saya akan sedih sekali kalo Mas Nano gak ada lagi. Jangan mati dulu ya, mas. Kamu belum ada gantinya!

..and now i'm three days behind.

Comments

  1. Halahdalah.. Ketika kmrn ga ada berita lg di twitter, kirain ga jd nonton Koma. Rugi bener, sayah.. :(

    ReplyDelete
  2. Kalo mati penggemarnya bakal rugi.... hehehehehe


    Sekedar Info. Maaf, ini bukan Spam. Ikuti Lomba Review Novel Curhat Sang Presiden.

    Hadiahnya
    Pemenang review terbaik Facebook dan Blog akan dirinci sebagai berikut:

    1. Juara I : Rp. 1.000.000,-
    2. Juara II : Rp. 500.000,-
    3. Juara III : Rp. 300.000,-
    4. 3 foto terunik bersama buku Curhat Sang Presiden yang di-review akan mendapat masing-masing 1 buah flashdisc 2 gigabyte.
    5. Lima review yang masih dianggap bagus (di luar pemenang juara) akan mendapatkan masing-masing satu buah buku “Sorry jek, aku 'gak bakal ketipu (lagi)!!!” terbitan Leutika Prio.

    Selengkapnya lihat di http://elloaristhosiyoga.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?