Sunday, January 15, 2006

Ahmad & Anya


Ahmad adalah keponakan saya. Anya juga. Mereka bersepupu. Mereka lahir dan menghabiskan beberapa tahun pertamanya di rumah yang sama, dan dalam waktu bersamaan, yaitu rumah orangtua saya.

Anya lahir empat tahun setelah Ahmad. Ketika ia lahir, Ahmad adalah seorang kakak yang bangga. Ia menjaga Anya dengan seluruh jiwa. Dalam arti harfiah!

Sewaktu Anya masih bayi, di tiap acara keluarga di mana Anya harus sering ditinggal sendirian di kamar, karena sang Ibu harus mengurus banyak hal, Ahmad adalah bantuan dari Allah. Ia dengan keras menyortir siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk kamar, melindungi Anya dari suara keras keponakan saya yang autis, memastikan Anya selalu nyaman di buaiannya.

Keduanya tumbuh tak terpisahkan. Ahmad akan menggandeng tangan Anya di mal, ikut menidurkannya di malam hari. Ketika ia tertidur di samping Anya, ayahnya akan menggendongnya pindah ke kamarnya sendiri. Dan esok pagi, kalimat pertama yang keluar dari mulut Anya adalah,"Mana kakak Ahmad?"

Ketika Anya terkadang memukul kepala Ahmad, Ahmad yang sabar melindungi kepalanya dengan tangan sambil menunduk. Ia tidak membalas, tidak marah, tidak menangis. Sementara kami para orang dewasa sibuk mendewasakan Anya,"Jangan ya sayang.. Gak boleh.. Kasian kakak kesakitan tuh...," sambil menarik Anya menjauh.


Ketika
main di Time Zone, Ahmad dengan sengaja akan membiarkan Anya mencetak goal. Ia menyisiri rambut ikal Anya, menemaninya berenang di kolam yang dangkal.

Anya pun tak kalah memuja Ahmad. Ia akan tertawa keras-keras ketika Ahmad melucu. Jika naik mobil di kursi depan, hanya Ahmad yang boleh memeganginya. Ketika mereka harus berpisah kota (abinya Anya ditugaskan di Surabaya), tak ada hari di mana Anya tidak menyebut nama kakak Ahmadnya.



Saat mereka terpisah jarak Jakarta-Surabaya itulah, kening Anya terbentur lantai dan harus dijahit. Di sela raungan tangisnya di atas ranjang rumah sakit, ia memanggil,"Kakaaaaak.... huhuhu... dede' Anya jatuuuuh... huhuhu...." (Ahmad memanggilnya dede' Anya)

Bagi Anya, kakak Ahmadnya adalah yang paling cakep. Lebih cakep dari Surya, Harry Potter, bahkan dari abinya sendiri yang juga dipujanya! "Cakepan kakak!"



Hingga saat ini, masa-masa liburan atau acara keluarga adalah saat yang ditunggu keduanya. Dan itu agaknya menular pada kami. Saya bukan penggemar acara keluarga, sama sekali bukan. Tapi karena Ahmad dan Anya, saya selalu ingin bertemu seluruh keluarga jika ada kesempatan, semata karena ingin melihat keduanya bertemu dan bermain sama-sama lagi.

We always know that children are such a bless. But I guess I never expect it can go to such extent. They make us better parents, better aunties and uncles. They make us better people.

Thursday, January 05, 2006

Sang Maha Lucu

Suami saya memiliki seorang tante yang sangat dihormatinya. Bukan saja karena beliau yang membiayai kuliah suami saya hingga ke negara paman sam, tapi karena, entah mengapa, beliau menyayangi suami saya secara berbeda dibanding keponakannya yang lain. Secara khusus, beliau datang sewaktu acara lamaran di rumah saya, memberikan hadiah khusus untuk kami berdua, tidak pernah lupa nama dan wajah saya, dan menaruh perhatian terhadap keluarga saya [dengan mengejutkan beliau datang melayat waktu Ayah saya meninggal dunia]. Hal-hal yang tidak pernah ia lakukan terhadap keponakan lain. Beliau memang dingin dan untouchable.

Sejak muda, sang tante adalah seorang business woman yang sangat sukses, demikian pula almarhum suaminya. Saat ini seingat saya beliau memiliki kurang lebih 12 perusahaan di Indonesia, sebuah real estate di Amerika, beberapa rumah dan apartemen di Amerika, kenal baik dengan Donald Trump. Yang pasti, tiap kali suami saya apply visa Amerika, nama tantenya [yang selalu bertindak sebagai sponsornya] adalah nama sakti yang dengan mulus membuahkan visa 5 tahun, bahkan di masa krisis hubungan baik seperti ini.

Sewaktu beliau menikahkan salah satu anaknya, Tantowi Yahya yang pernah mengklaim dirinya tidak pernah mau mengambil job mc di hari Minggu, mengorbankan hari 'keramat'nya itu untuk jadi mc pesta pernikahan tersebut di ballroom Hotel Mulia Jakarta.

Satu waktu ibu mertua saya mencari-cari info mengenai kapal pesiar.
"Ada apa cari info kapal pesiar, Mam?"
"Biasa, inang tua mau beli 'mainan'."

Pendek kata, kaya raya lah. Tidak mungkin kelaparan.

Suatu hari saya tengah berbincang dengan ibu mertua saya. Beliau bercerita bahwa inang tua itu makannya sedikit sekali, atau boleh dibilang sama sekali tidak suka makan. Oleh adiknya yang seorang dokter senior, beliau didiagnosa kurang gizi. Saya tersenyum sambil mengerutkan dahi, merasa lucu sekaligus aneh, inang tua yang kulkas super gedenya selalu penuh terisi makanan, menderita kurang gizi.

Beberapa hari yang lalu, suami saya membawa kabar sedih. Inang tua yang dihormatinya itu masuk rumah sakit. Saya ikut sedih.

"Inang tua sakit apa?"
"Busung lapar."
"Hah???? Beneran???"
"Iya, betul. Dokter bilang busung lapar dan harus dirawat. Kan memang dulu amang tua mendiagnosa dia kurang gizi. Sekarang dokter bilang sudah busung lapar."

Ya Allah. Dalam kesedihan, saya merinding seketika. Seseorang yang berada dalam timbunan uang, makanan, harta berlimpah, menderita busung lapar. Betapa lucunya humorMu. Begitu lucu hingga menetes air mata ngeri.

No matter how much money we have, we're still the same person inside . We just have more stuff and nicer shoes. Our being remains the same.

..