Wednesday, December 08, 2010

Dewey - Not A Book Review

*If you're looking for a book review, move along, this is not one.*

Ketika kucing saya, Kiki, meninggal sewaktu saya masih duduk di bangku SD, saya menangis tak berhenti. Kesedihan saya sangat sangat dalam. Begitu dalam, begitu kehilangan. Rasa kehilangan itu tidak berkurang dari hari ke hari hingga saya merasa perlu mempertanyakan, kemana jiwa hewan pergi setelah mereka mati? Atau lebih spesifik lagi, kemana Kiki pergi? "Kiki kembali ke Allah," mama saya mencoba menenangkan. Ya, saya mengerti mereka kembali ke Allah. Namun saya perlu penjelasan lebih detail. Saya perlu diyakinkan secara verbal. Bahwa Kiki baik-baik saja. Bahwa ia bahagia.

Mama almarhumah rupanya membaca kegundahan hati saya yang seolah tak ada obatnya. Suatu hari, diajaknya saya ke rumah salah seorang kenalan kami yang ahli agama. Mama mengobrol ringan dengan beliau dan membiarkan saya mendengarkan. Hingga di tengah pembicaraan, mama menyebutkan tentang saya yang baru kematian kucing kesayangan. Lalu beliau menanyakan pertanyaan saya tersebut.

Dari kenalan yang ahli agama tersebut saya memperoleh jawaban yang menenangkan hati. Saya lega dan berhenti menangis. Kini saya bisa melanjutkan hidup.

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Orang-orang melihat ini hanyalah urusan seekor kucing. Tidak ada yang bisa mengerti bahwa masalahnya tidaklah sesederhana itu buat saya. Rasa kehilangan itu tidak dapat saya jelaskan. Ikatan saya dengan Kiki tidak dapat saya jelaskan. Hati saya yang teriris tiap kali mengetahui ia sudah tak ada lagi tidak dapat saya jelaskan.

Berpuluh tahun kemudian, barulah saya temukan jawabannya. Saya temukan penjelasan. Saya temukan kata-kata. Terlebih lagi, saya temukan teman berbagi rasa.