Thursday, November 28, 2013

Menulis Perjalanan

Seribu Bintang di Savana Bekol

 وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ  
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. 
QS. Al-'A`raf [7] : 56

Beberapa teman menanyakan mengapa saya tidak menulis mengenai perjalanan-perjalanan saya. So far, saya hanya menuliskan 2 saja. Karimun Jawa dan Ujung Kulon. Sisanya berbuah puisi, kisah nelayan, dan postingan berbayar.

Tidak hanya mereka, saya sendiri heran mengapa saya tidak menuliskannya. Awalnya saya pikir sebabnya adalah sekedar keengganan akibat hilangnya catatan perjalanan sepekan menuju Raja Ampat yang saya tulis hari demi hari. Setelah catatan itu hilang, jangankan menulis, bahkan mencatat pun saya malas. Seperti orang yang patah arang, saya biarkan semuanya hanya terekam dalam ingatan yang makin lamur.