Skip to main content

Minggu Ketiga Dalam Gua Batman

Hari ini, saya akan bekerja di teras di mana langit biru langsung terlihat dan ricik air kolam menyejuki pikiran yang sudah pasti akan keriting kribo. Saya datang bersama si ganteng ransel hijau khaki. Kali ini kompartemen kamera bukan berisi si Rebel SXi dan 50mm/1.4nya, tapi speedo dan perlengkapannya. Maaf ya, NatGeo, kamu saya lencengkan dari takdirmu.

Ndoey sudah menuangkan adonan brownies ke dalam loyang ketika saya datang dan langsung masuk ke dapur Amel yang seluas aula kelurahan itu. Mak, dia jadi pakai peanut butter, dan... marshmallow!

Dalam pengasingan saya di gua batman saat ini, saya dikejutkan dengan curahan cinta dari teman-teman yang luar biasa baik hati. Dari mulai sms kangen, pesan di wall, inbox, email, ajakan mengerjakan ini dan itu dan kesediaan menunggu hingga waktu saya luang lagi, hingga kiriman makanan kontinyu karena saya memang sering tidak sempat makan. Saya merasa sangat dicintai, terimakasih saya tak akan pernah cukup. Biarkan saya berdoa, agar cinta yang sama mengguyuri balik mereka semua. Limpahkan ya Allah, cintaMu pada mereka, berkali lipat, ya Allah.


Senja Candi Boko.
Jokja, end of Jan 2011

Termasuk hari ini, ketika seorang teman yang sangat menyenangkan menarik saya keluar gua dan menyundul saya ke sebuah sudut nyaman di selatan Jakarta. Dia sungguh tau saya sangat suka bekerja di alam terbuka. Melihat awan dan pohon. Merasai tiupan angin dan bisik daun.

Jadi sekarang ini, saya sudah mencapruk di pinggir kolam, menikmati langit dan air dan riciknya, sesekali digoda wangi brownies dari oven di dapur yang terbuka, siap mengganyang bab 6 terjemahan setebal tiga batu bata.

Sore nanti ketika matahari sudah agak sedikit mendekati ramah, saya pikir jenius sekali ide melewatkan jeda waktu dengan berenang hingga American Idol dimulai. Lalu jika hari ini ditutup dengan nonton The Fighter sebelum pulang, tentu akan sempurna sudah. Meski lelah. Dan tanpa Earl Grey tea hangat yang mewah. Serba ah. Halah.

Allah, You're too kind.

Comments

  1. @ Kurnia Septa: ah masa sih? coba baca sekali lagi :D

    ReplyDelete
  2. Kelabunya awan mengantar rintik hujan mengusir birunya langitmu, menggodanya ricik air kolam mengikis tebal tiga batamu menjadi satu dan manisnya brownies diakhiri dengan gurihnya mendoan melembutkan kribomu menjadi gelombang.. :p

    ReplyDelete
  3. Itu beneran Candi Boko ya? Gua Batman berlokasi dimana mbak?

    Salam dari mbantul

    ReplyDelete
  4. @ Ndoey: mendoan kurang ajar!
    @ mas_tony: beneran lah mas, itu waktu main-main ke Yogya. love the place so much.
    Gue batman ada di manapun, ketika saya tenggelam dalam timbunan terjemahan yang seperti tak kunjung habis :)

    ReplyDelete
  5. sungguh kalimat2 tak biasamu, selalu menggelitik kalbuku...

    ReplyDelete
  6. Halo, Ibu Cantik
    *menyapa-dari-depan-gua

    ReplyDelete
  7. @ mbak ami: haduh mbak, ini lagi mampet nulis. lagi gak indah nih.
    @ Shirley: hai, hai, ibu lebih cantik *tiup cium jauh*

    ReplyDelete
  8. Mbak Rianaaa...kangen deh..pa kabar...ni Dewi Ps. Aku baru buka blog ku lagi sejak berhenti sementara ngeblog di th. 2009, trus liat komennya mbak Riana..thanks ya, hiks, terharu. Eh ya, aku udah liat buku mbak Riana dkk..hebat euy, inspiring, semoga sukses yaa. Aku sekalian mau nanya cara naro bagian "comment" di blogsome, lupa. Jadinya comment yg ada invisible. thanks before...Salam buat mbak Fatmah, Mbak Dewi Anwar,Mbak Yenni hoki, dll yaa

    ReplyDelete
  9. Dewiiiiiii.... *peluk kenceng sampe sesek*
    Ampuuun deh, betapa kangeeeen..!
    Alamat blogmu aku lupa, hehehe..
    Hayuk donk main ke matraman. Gak mau nyampein salamnya ah, kamu harus ke matramaaaaaan!

    ReplyDelete
  10. hahahahaha...iya niy belum sempet main ke matraman lagi..nunggu waktunya turun gunung ah, baru beredar lagi. Mbak Ri ngetweet gak? follow me @DewheePs duongs (sambil kedip-kedip). Blogku whataday.blogsome.com...udah lama banget gak ke up date..itu juga belum sempet. Bingung pula mau naro kolom "comment"nya gimana, duh ampun deh. Tapi pengen banget bisa nge-blog lagi kok. Kangen baking lagi, tapi kerjaan di tempat yg sekarang menggila siy, susah ada celah kecuali untuk masak buat keluarga aja. Eh ya..akyu udah beli bukunya mbak Riana cs niiiy, inspiring banget.Sukses yaa...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…