Monday, February 18, 2019

Ternate: Teluk Sulamadaha, Uang Seribu dan Pondok Pak Diko

Previous Chapter:
Perjalanan untuk Orang Gila dan Orang Bodoh

Medio November 2011

Mengawali pelayaran dari Ternate, berarti pagi ba'da subuh itu kami sudah harus di Soekarno-Hatta untuk menuju Bandara Sultan Babullah, Ternate.

Ternate 311
Tepat di balik mendung tebal itu, gunung Gamalama tegak berdiri
Siapa sih, Sultan Babullah itu, kakak?

Pertanyaan cakeb bin ganteng. Rihlah yang penuh makna adalah ketika kita memahami latar belakang sejarah tempat tersebut, yang akan bikin kita makin menghayati budaya setempat, menghormati perbedaan, dan pada akhirnya mengambil pelajaran dari kaum terdahulu. Pelajaran ini adalah hikmah, yang bersama dengan pengalamaan perjalanan, akan membuat kita pulang menjadi manusia yang lebih baik, hamba Allah yang lebih bertaqwa.

Sultan Baabullah (artinya pintu Allah - pen.) adalah penguasa Kesultanan Islam Ternate ke-24 pada abad ke 16, menurut perkiraan ahli sejarah, 1570-1583. Nah, Kesultanan Islam Ternate sendiri adalah satu dari 4 kesultanan Islam di Maluku yang diperkirakan mencapai masa keemasannya pada abad 13 hingga abad 16, yaitu Kesultanan Islam Ternate (Gapi), Tidore, Bacan, dan Hitu (Ambon). Kekuasaannya membentang dari Sulawesi hingga area kepala burung di Nuu War (Papua). Dan ini merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dengan kerajaan Islam nusantara lainnya yang meluas dari Kesultanan Jeumpa di Aceh hingga ke seluruh sudut Nusantara (biar makjoss, simak sejarah masuknya Islam ke Nusantara: https://youtu.be/4G3FonEJoIM). Karenanya tidak mengherankan, jika kita melakukan jelajah Indonesia Timur, kita akan selalu bersentuhan dengan jejak-jejak Islam yang kental dan dominan dalam budaya, tradisi dan peninggalan sejarah.

Ini pertama kali saya ke pulau kecil di barat Halmahera ini. Ketika kaki menjejak bumi, Gunung Gamalama menyapa tepat dari tengah pulau. Besar dan megah. Ahlan wasahlan!



Teluk Sulamadaha

Teluk kecil ini terletak di utara pulau Ternate. Saking cekungnya hingga seperti membentuk laguna dengan air yang beniiiiing.. Kalau googling Teluk Sulamadaha, pastilah terkaget dengan foto-foto kapal-kapal yang seolah melayang saking bening airnya. Saya hanya sempat cekrek beberapa kali, setelah itu sudah tidak peduli lagi dengan kamera, buru-buru naik ke perahu dan meluncur ke tengah teluk.

ternate 01

Di sekeliling teluk ini batu-batunya hitam dan ada bagian-bagian pinggir teluk yang mengeluarkan air panas. Allah Arrahman mengaruniakan Indonesia dengan gunung-gunung berapi aktif yang meski berisiko bisa meletus setiap saat, tapi juga membuat penduduknya bisa menikmati air panas gratis, bahkan di tempat-tempat tak terduga seperti teluk cantik ini. Perahu menyusuri keliling teluk dan lalu berhenti di sisi yang paling enak untuk nyender-nyender ke pinggiran Teluk. Semua turun berendammmm, sementara air panas menyembur-nyembur badan dari bebatuan pinggiran teluk, menjadikan air laut sekeliling jadi hangaaaat.. subhanallah!

Kayaknya kalo gak inget hari semakin sore dan sebentar lagi gelap, gak bakal beranjak dari situ. Norak lah pokoknya.

Benteng Kalamata

Ternate adalah pulau seribu benteng. Banyaaak banget benteng peninggalan sejarah di pulau mungil dan cantik ini, ada yang bisa dipertahankan bentuknya, ada yang sudah berupa reruntuhan. 

Saya memang gak pernah melewatkan kesempatan untuk mengunjungi benteng manapun, meskipun gak ada benteng yang ada atapnya, dan itu berarti kepanasan atau kehujanan, haha.

Kami masih punya seharian keesokan hari sebelum lusa bertolak memulai pelayaran. Bakal teman-teman seperjalanan mulai berdatangan. Saya kenalin Soni dan Darocky dengan Indhi, yang memperkenalkan diri sebagai, "Indiana Jones, Indiana Jones."

Ada beberapa benteng di Ternate, kami sempat menyambangi dua. Benteng Kalamata di tepi laut dan Benteng Kastela di tengah kota. Benteng Kastela, sebagian besar sudah menjadi puing. Bagian yang masih utuh berdiri bersama rumah-rumah penduduk dan bangunan lain. Terlihat  meriam-meriam kuno tergeletak di jalan-jalan, tak terawat. Uhuhu, sedih. 

Benteng Kalamata terjaga dengan baik dan dipugar. Letaknya persis di tepi laut seperti umumnya sebuah benteng dibangun. Keren!

ternate 02

Benteng ini dibangun oleh Portugis, sempat diambil alih oleh Spanyol, sebelum kemudian dikuasai Belanda. Kalamata adalah nama Pangeran Ternate yang wafat di Makassar pada 1676. Pada 1994 Depdikbud memugar benteng ini dan pada 2005 Pemda Ternate menambahkan beberapa renovasi tambahan.

Karena letaknya persis di tepi laut di sisi yang menghadap pulau Maitara dan Tidore, kedua pulau ini bisa kita lihat sambil main-main jumpalitan di atas benteng. Etapi kami kepingin lihat view kedua pulau ini persis kayak di uang seribu. Jadi setelah rambut bau matahari dan kulit bau gorengan, kami menyusuri sisi laut Ternate mencari spot duit seribu itu. Nyusahin deh pokoknya.

Uang Seribu Versi Live

Image Source: Kaskus

Yah gak persis-persis amat sih anglenya, kurang kesana-an, hihihi. Yang persis di depan mata adalah Pulau Maitara, yang di belakangnya Pulau Tidore. Yang diblur itu bukan saya. #jawabduluan

Batu Angus

Batu Angus adalah satu sisi pantai di Ternate yang penuh berisi batu-batu hitaaaammmm, tersebar dari kaki Gunung Gamalama hingga ke pantai. Bebatuan hitam ini pada dasarnya adalah lahar yang mengering dan menghitam, yang dimuntahkan Gunung Gamalama pada tahun 1673.

Gunung Gamalama ini masih aktif sampai sekarang. Sewaktu kami di sana, sesekali terlihat asap keluar dari kawahnya. Seba'da kami meninggalkan Ternate sekitar 2 pekan kemudian, gunung ini meletus cukup hebat.



Pondok Pak Diko

Tidak jauh dari Batu Angus ada sebuah tebing yang di atasnya terdapat pondok super mungil terbuat dari kayu. Pak Diko pemilik pondok ini. Pondok kayu ini terdiri dari 2 lantai, hanya punya 1 ruangan kecil, selebihnya teras semi terbuka. Tidak ada listrik, tidak ada lampu. Jika kita memandang ke bawah dari atas tebing ini, orang-orang di pantai kelihatan kueciiiiiiil sekali. Entah berapa puluh meter tingginya tebing ini.

Di sinilah kami menginap malam ini sebelum besok mengarungi laut. Dan sepulangnya dari Raja Ampat sepekan kemudian, di sini pula kami bermalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ambon lalu ke Banda Neira.

Di ujung tebing terdapat bangku kayu dan bebatuan yang enak ditongkrongi dan berlama-lama memandang laut lepas dan orang-orang di pantai yang bagai semut. Pemandangan alam terbuka membentang luas seluas-luasnya. Bila kita melihat ke bawah ke pangkal tebing, terlihat ombak memecah bebatuan dan mencipratkan air hingga tinggi dan besar, nun jauh di bawah kaki kita.

Ketika malam tiba yang terdengar hanya suara ombak, angin dan serangga malam. Tidak ada lampu sama sekali. Langit, bintang, bulan, persis di hadapan kami semacam teater raksasa. Subhanallah.

Saya merenungi segalanya dengan rasa syukur yang membutuhkan rasa syukur lagi. Tempat "mewah" ini kami nikmati tanpa membayar sepeser pun. Pak Diko tidak minta apapun selain "uang rokok" saja. Saya melihat tempat ini tidak beda dengan resort-resort mewah. Menawarkan hal yang sama: pemandangan yang mencekat nafas, memencil dari segala peradaban, koneksi total dengan alam. Sungguh mahal. Allah Arrahman had given us this for free.

Pak Diko adalah orang pertama yang kami cari kabarnya ketika Gunung Gamalama meletus 2 pekan kemudian. Alhamdulillah beliau selamat. Semoga Allah senantiasa menjaganya.

 



Next: Perairan Kepulauan Guraichi dan Desa Timlonga


Sunday, January 13, 2019

Perjalanan Untuk Orang Gila dan Orang Bodoh

theteam

Ini adalah perjalanan dua pekan di 2011 mengarungi laut Halmahera untuk masuk Raja Ampat melalui pintu belakang alias Wayag. Berangkat dari Ternate naik kapal 4 mesin, turun menelusuri kaki bawah Pulau Halmahera, lanjut ke Wayag, jelajah Raja Ampat mulai dari Waisai, Waigeo, Salawati hingga Misool. Lalu kembali dengan rute yang sama. Sebagian akan lanjut ke selatan, yaitu ke Banda Neira dengan kapal PELNI dari Ambon, sebagian lain ke arah utara, ke Jailolo lalu Tobelo, dan sisanya kembali ke Jakarta. Itu rencananya.

Kapal yang kami sewa bermesin 4, kecil dan tanpa lampu. Karena memang ini adalah kapal penumpang yang sehari-hari menyeberangkan penduduk dari dermaga ke dermaga. Kayak mikroletnya Jakarta, kurang lebih. Beroperasi hanya selama ada matahari, karena itu dia tidak berlampu. Tapi karena perjalanan diplot akan memanfaatkan waktu malam untuk pelayaran panjang, dan banyak berhentinya hanya di waktu siang, maka lampu eksternal pun disiapkan, lengkap dengan generator. So, we thought we got this under control. I said, we thought.

Kalau kata mas Arya yang bikin perjalanan survey ini, cuma dua jenis orang yang mau ikut pelayaran ini. Orang gila atau orang bodoh.

And it might be true 😄
Stay tune.


To Be Continued

Next:
Ternate: Teluk Sulamadaha, Uang Seribu dan Pondok Pak Diko

Photo by Wikipedia



Tuesday, January 01, 2019

FinTech dan Anak 80an

My favorite smartphone years back.
Photo by GSMhistory.com
Saya adalah satu dari banyak "anak 80-an" yang sangat menikmati kemajuan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan. Seperti yang sering dibahas orang, anak 80-an itu mengalami segalanya.

Transisi dari "primitif" ke modern, dari orde baru ke era reformasi. Masih tenarnya The Beatles, Queen, Genesis, Rolling Stones, Aerosmith, lalu Level 42, Duran-duran, Guns n Roses, Nirvana, Red Hot Chilli Pepper, sampai Goo Goo Dolls. Bus Gamadi bayar 100 perak sampai Transjakarta yang pakai e-wallet. Pembangunan jalan layang besar-besaran dan jalan tol lingkar dalam dan luar, menyaksikan kawasan lampu merah tomang dari 1 jalan hingga susun 4 lapis,  mengalami jalan TB Simatupang masih tanah semata dan Citos masih cuma bangunan Sport Center kecil dan sendirian, hingga kini serasa kita tenggelam dalam lautan beton jalanan dan gedung tinggi.

MS-DOS, Mac OS X Kodiak, Windows 3.1, dBase, Pascal, Linux, MIRC, ICQ, newsgroup, mailing list, discussion board, Pacman, Load Runner, Digger, tumbuh hingga Syberia dan Tomb Rider sampai game gak ngetrend lagi, sampai macam-macam messenger dan social media.

PDA berbasis Symbian, Windows Mobile, Palm, Java, hingga menjadi smartphone berbasis iOS, BB, Android. I still love my Sony Clie yang sekarang wafat itu! Simple, keren, nyaman buat baca buku di angkot. Saya nyelesaiin baca buku Harry Potter & The Philosopher's Stone yang tuebelll itu di angkot pergi-pulang kantor cukup pakai Sony Clie tamvan seukuran telapak tangan. Gak kayak smartphone yang tampilannya rame dan "penuh gangguan", tampilan buku di PDA so clean dan gak nusuk mata, dan bebas gangguan.

Masa jaya Ericsson (sebelum nikah dengan Sony), Nokia dan Motorola dari segede tempe sampai segede remote kunci mobil (which I still love kalo masih ada yang jual). SMS antar operator dari gak bisa hingga akhirnya para operator menyerah, mungkin males saingan sama layanan SMS-Oke or SMS via internet dan chat service.

Jamannya Bank Bumiputera mengeluarkan kartu ATM yang pertama di Indonesia, bisa ambil uang jam berapa saja lewat mesin gede yang canggih dan baik hati itu menjadi hal paling cetar dan nyaman.

Jamannya pakai kamera pocket Fuji M15 yang warna-warni, Ricoh yang kerenan dikit, dan SLR analog dan lensa 50mm manual. Cuci cetak di Rapico, nongkrongin hasil cetak sambil bilang sama petugas, "Warnanya matengin ya, mas!" Klise foto disimpen baek-baek bakal dicetak lagi nanti ukuran 20R kayak foto model majalah Gadis dan Mode (udah almarhumah). Sampai lahir brujulan DSLR mulai paling canggih sampai entry level, yang dari kamera bisa langsung lumpat ke hape bakal  narsis di socmed --walaupun ngakunya gak suka narsis :D, atau tembak langsung print pakai mesin mungil bernama Canon Selphy, lalu brujulan mirrorless hingga kini dia pun full frame pulak (come to mama!).

Yes, we've seen it all, experienced it all. We saw the changing, the transition, the evolution of the world through time. We've become the changing itself. Dibandingkan angkatan lain, mungkin gak sebanyak ini perubahan yang mereka alami, baik pra maupun pasca 80an.

Sekarang ini yang namanya FinTech meraja dan melela, sangat memudahkan berbagai urusan, karena memang sangat dibutuhkan. Kemarin ini saya instal beberapa aplikasi FinTech yang kece-kece, kayak Ammana, Zakatpedia, e-Salaam, T-Cash dan Flip. Terkhusus Flip, sangat bermanfaat dan betul-betul jadi solusi. Ketika belanja online dan jualan online dan kerja jarak jauh menjadi hal yang lumrah, bank-bank yang masih saja narik biaya Rp 6.500,- untuk transfer antar bank sungguh sangat gak keren bin gak ganteng samsek. Dari semalam sampai tadi sore saya kelar kirim-kirim surat cinta (baca: tagihan) ke customer, yang mana akun bank sudah disesuaikan dengan bank pilihan customer, via Flip. Bebas biaya transfer, alhamdu..lillah!

Untuk pelapak online yang mau pakai Flip, Flip ini akan membuat kode unik di belakang jumlah uang yang harus ditransfer. Nah, supaya kita gak sengaja makan uang yang bukan hak kita, kalau saya, saya discount dulu total tagihan sebanyak 100 rupiah. Jadi ketika Flip menambahkan kode unik, sudah aman, karena jumlah total tagihan tidak akan melampaui yang seharusnya kita terima.

Next yang saya incar adalah Ammana. Ammana ini bikin kita mudah berinvestasi di usaha-usaha kecil milik rakyat, seperti toko kelontong, ternak ikan, kebun sayur, dll. Data pelaku usaha dan badan yang menyalurkan dananya juga lengkap, juga portofolionya, sampai agunannya. Nilai "saham" yang kita mau beli juga terjangkau per unitnya. Dan ada crowdfunding juga.

Baiklah. Senang sekali mulai menulis lagi. Semoga bermanfaat dan berkah. Aamiin.

Hello, stalkers. I'm back :)

** Postingan ini tidak mengandung iklan **

Pejaten, 23 Rabiul Akhir 1440
Hari pertama 2019


This entry was posted in

Wednesday, June 28, 2017

Mereka Yang Tak Hendak Beranjak Dari Laut - Suatu Sore di Desa Sama Bahari (TN Wakatobi Bag. 8 Selesai)

Nama aslinya Kampung Bajo Sampela. Terletak di atas laut karena tak hendak mereka beranjak dari laut. Laut bening turkois itu adalah tanah, pekarangan, tempat bermain, ladang penghidupan, tempat mengabdi. Sak-kampung itu ya di atas laut. Jalan-jalan kampung adalah jembatan-jembatan penghubung antar rumah. Kendaraan yang terparkir di "garasi" dan hilir mudik di bawah adalah perahu-perahu sampan. Leyeh-leyeh piknik adalah mengapung-apungkan tubuh di permukaan laut bening.

Wakatobi 062

Wakatobi 058 Wakatobi 059

Tuesday, June 27, 2017

Terumbu Karang Perawan Sejauh Mata Memandang (TN Wakatobi Bag. 7)

Perjalanan menuju lokasi yang dijanjikan Pak Hamid diselingi berkali-kali perahu harus mematikan motor perahu, karena bertemu dangkalan yang penuh terumbu karang segar cantik warna-warni. Motor perahu harus dimatikan agar terumbu karang tidak ada yang terluka. Setiap kali kami mendayung di atas dangkalan-dangkalan itu, wajah-wajahnya siap nyebur, haha. Kata Pak Hamid, beluuuum.. Jadi ya, dangkalan-dangkalan itu buanyaaaak sekali. Dan full taman bunga!

Akhirnya kami keluar dari kelungkung pulau-pulau kecil, tiba di tengah laut biru donker navy yang keren. Nelayan bertebaran di mana-mana, kami mendekati salah satu nelayan dan membeli seember besar ikan segar yang baru ditangkap. Harganya, lima puluh ribu seember besar!

Pak Hamid mengatakan ia dan crew akan ke pantai untuk memasak ikannya. Lalu tetiba ini terhampar di hadapan kami:

Wakatobi 048

Masya Allah, sejauh mata memandaaaaaaaaaaaaaaaang..
Saya sempat perkirakan luasnya, kira-kira mungkin lima kali lapangan bola, maybe more! Full warna-warni terumbu karang utuh tak tersentuh!

Wakatobi 044

Ini jamnya laut surut, maka area terumbu karang yang dekat pantai semuanya menyumbul ke permukaan! Bagaikan taman bunga yang tetiba keluar dari dasar lautan.

Gegara keasyikan motret di area dangkal inilah, sambil tertatih melangkah menjaga kaki tidak menyentuh karang, bagai tidak habis-habis, tau-tau mas Mahrun sudah memanggil-manggil dari pantai untuk makan. "Ikannya sudah matang!"

Sunday, June 25, 2017

Pagi di Lentea (TN Wakatobi Bag. 6)

Sebuah pagi yang erat lekat di ingatan, salah satunya adalah pagi itu di Lentea. Terbangun subuh ketika masih gelap, wudhu, subuhan. Bau kayu tersentuh embun dan udara subuh, seketika membawa ingatan saya ketika kecil dulu di kampung ayah dan mama di Pagar Alam. Sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang udaranya super duper dingin. Rumah panggung kayu besar milik nenek.

Tidak menunggu lama hingga kami bergegas ke teras rumah sehabis subuhan. Tidak mau keduluan matahari! Subuh biru! Laut lepas tenang, airnya surut hingga cukup jauh. Foto-foto jelang sunrise super cantik dirasa ada yang kurang. Indhi nyuruh mas Mahrun naik perahu ke tengah laut, demi supaya ada siluet perahu lewat dengan manusianya, hahaaa.. Jual kemana habis ini fotonya, 'Ndhi? Natgeo yaaaa...

Wakatobi 038 Wakatobi 039
Wakatobi 077

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(Q.S. Ali Imran 190)

Sunday, April 16, 2017

Seribu Bintang di Langit Lentea (TN Wakatobi Bag. 5)

Kejutan hari ini datang dari mas Mahrun, waktu dia mengatakan bahwa malam ini kami akan bermalam di rumah Pak Hamid di kampung suku daratan di Pulau Lentea, salah satu pulau di gugus kepulauan Kaledupa. Hihuy!


Kaledupa adalah gugus pulau berikutnya setelah Wangi-Wangi di kepulauan Tukang Besi. Perjalanan dari Hoga ke Lentea.. oooh, masya Allah... sungguh bagai Raja Ampat mini! Gugus lime stones, celah-celah sungai, hutan bakau hijau mentereng di bawah siraman cahaya mentari sore yang menjingga, merimbuni gerbang selat-selat sempit dan muara, memanggil-manggil para petualang untuk masuk menyusurinya. Pak Hamid, belok donk paaaak... *kalo gak inget waktu terbatas sih* 



Gak ada satupun kamera yang keluar dari ransel waktu menempuh rute ini, karena kami masih pakai perahu panjang sempit yang sungguh rawan cipratan, kecuali G12-nya Boetje yang di-casing anti air. Cari-cari di fesbuknya, hlaaah, kemana itu album Wakatobi? Dah ndak adaaaaa.... So, qadarullah bener-bener gak ada fotonya. Berarti harus... balik ke sana lagi!

Gegara cari-cari foto di fbnya Boetje, saya jadi jalan ke profilenya Indhi dan menyelinap ke album Wakatobi. Ahaaaa... banyak foto-foto cakep yang saya gak punya, termasuk foto terumbu karang di P. Hoga, dan rombongan lumba-lumba yang munculnya gak pake bilang-bilang itu. Ndhi, pinjem pajang yak potonya di mari. Monggo balik ke postingan sebelum ini, potonya dah saya update.