Sunday, July 18, 2010

Damn! (for the second time)


Told you being a die-hard Grisham fanatic never helps in being objective. So yes, I swallowed this in and enjoyed every minute of it. I'm not here to review, I'm here to praise :)

This is the second time I only have one word to review a Grisham's, with The Bleachers being the first one. It was just the kind of book you can't put down. There's no surprises, of course, or hard dramatization Sheldon kinda thing. It's just flowing, enjoyable to read, and the dramatization was so subtle you found yourself being punched with a soft bang you like in the forehead, and your face becomes wet all over in foggy nice afternoon wind, with a big grin from ear to ear. Leaving you sighing, feeling contended and all in all, in another world. The one you long to be, like in.. Italy?

So here I am saying it again:
Damn, it's good!
Damn, damn, damn.
It's good, it's good, it's good.
...


Tuesday, July 13, 2010

Untuk Sahabatku yang Selalu Sedih dan Marah




Sahabatku sayang,
apa kabarmu hari ini? Aku berharap ada lagu bernyanyi di hatimu, menenangkan dan membuatmu riang lagi.

Aku baru saja selesai dengan tugas rutin bulananku: membersihkan kamar mandi :) Sepanjang acara gosok-menggosok, aku tidak berhenti bernyanyi The Answer-nya bang Richie Sambora. Lalu entah kenapa aku ingat kamu. Ingat kesedihan dan kemarahan yang konstan menghantui hatimu setahun belakangan ini. Atau mungkin lebih lama lagi?

Maafkan aku tidak bisa berada di sisimu ketika kamu butuh teman. Aku yakin keadaan akan berbeda kalau saja aku bisa menemanimu cukup lama. Banyak hal yang tidak kamu mengerti, tidak bisa kamu terima. Maafkan aku tidak bisa mengusap air mata dan menjadi tong sampah bagi keluhanmu. Aku tahu kamu hanya butuh didengarkan dan mendengar ucapan selain, "sabar," dan "bersabarlah." Kamu lelah bersabar. Lelah tidak mengerti. Lelah kecewa.

Banyak yang ingin kusampaikan padamu, sahabatku sayang. Mudah-mudahan paragraf demi paragraf yang payah ini bisa merangkumnya dengan benar.

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah: berhenti berlari. Berhentilah. Hadapi kenyataan di hadapanmu. Akui pada dirimu sendiri, kebenaran yang kamu sudah tahu. Jujurlah pada hatimu, pada hidupmu. Kamu lelah hidup dalam kebohongan bukan? Buang topeng itu, hatimu akan jauh lebih ringan.

Lalu, bertanggungjawablah. Situasimu ini tidak tercipta begitu saja. Kamu ikut menyetujuinya, bahkan dengan sadar menyatakan bersedia menjalaninya. Tentu saja kamu berhak mengeluh, berhak berubah pikiran. Tapi berhentilah menyalahkan orang lain selain dirimu sendiri. You signed up for this, remember?

Setelah itu, maafkanlah. Bukan, bukan orang lain. Maafkanlah dirimu sendiri. It is ok to make mistake. You're not less of a person just because you made mistake. At least you've followed you guts. You never knew it turned out to be a bad decision, who on earth will know? Maafkan kegagalanmu, maafkan hidupmu tidak seperti yang kamu inginkan. Maafkanlah. It is ok.

Lalu mulailah bergerak ke depan. Move on. Decide. Time to make a change. You know what to do by heart. Oh yes, you know.

Selanjutnya, terimalah. Terima ini sebagai jalan hidupmu. Sebagai jatah rejeki dan derita yang sudah digariskan dengan sangat adil oleh Sang Maha Adil. Jangan meminta lebih. Percayalah, ini cukup untukmu, bahkan lebih.

Jika aku ada di sampingmu saat ini, akan kubiarkan kamu menangis di pelukanku. Walaupun aku jauh, percayalah aku melakukan segala yang aku bisa dalam kapasitasku, in my power, to fix things. Mungkin tidak dengan cara yang terlihat oleh kamu. Atau dalam sekejap mengubah situasimu. I do it with subtlety. With time and patience. You don't know. You just don't know.

I'm sending you good thoughts and prayers. I do.

Aku sudahi suratku di sini, sahabatku sayang. Percayalah, everything's going to be alright. I'm here, for you.

..now I know the answers never meant a thing
and with each instant that I breathe
I feel the joy that life can bring
come along with me,
come along with me
seek the truth
and you will find another life..

"The Answer" - Richie Sambora

Picture by GettyImages
...


Sunday, July 11, 2010

We Are Marshall




Being a true-story movie addict, specially sport related ones, I knew I would heart this movie the minute I saw it in the store. Completing the long lines of Remember The Titans, Invincible, The Damned United, this movie colored my day-off beautiful purple. Rise from the ashes.

I learnt that the greatest coaches in the history were not those whose teams scored the most or won the most. But those who built the team from below the ground. Who made possible the impossible. Which is not necessarily measurable by numbers or statistics. After all, true glory is unmeasurable.

The funerals end today, folks.

...


Friday, July 02, 2010

A Week In The Life


A Story About A Week That'll Never Come Again



Project: A Week In The Life, 8-14 May 2010
Deadline: June 26th, 2010
Song: "A Day In The Life” – The Beatles
Sanity Level Status: split personality caused by disbelief


Jadi gini. The idea of "A Week In The Life" itself udah jenius banget. Ngerekam kehidupan kita selama seminggu, as it is, terus dibikin albumnya. Jadi ketika Ria Nirwana --guru saya, scrapbook artist yang super cool itu-- memanggil semua scrappers untuk bikin ginian, meloncatlah tante loe nih ngacung tangan tinggi-tinggi: ikutan!

 

What started as a fun thing jeprat-jepret foto selama seminggu, turned into nightmare: gak tau mau diapain ini foto-foto segunung! Dalam tenggat satu bulan, gak punya cukup waktu buat belanja tools dan supplies, sebagai syarat utama untuk bisa nyolong waktu ngerjainnya dikit-dikit. Singkat cerita, dua minggu terakhir baru mulai bergerak, dan album ini kelar pada hari deadline: 26 June 2010 at exactly 10.00 am. Tepat di hari gathering project ini, yang mana pada jam itu harusnya tante loe udah di Black Canyon Coffee, dalam keadaan wangi dan cantik, anteng-anteng duduk ngeteh, sembari ngebuka album para scrappers lainnya. Juuuh, gak dulu gak sekarang, system kebut semalem always!

 

 

Tepat di jam 10 pagi itu, in the state of kusut masai belom mandi mirip Mariam Blok M, gue memandang album itu in disbelief. Personality mulai kepisah satu. Beuhh, kelar juga?? Really?? Lili?? Mosyok sih? Beneran kelar nih? *yah, gitu lah, tanda-tanda Peggy Lou mulai mengambil alih Sybill*


 

 

 

Album itu berantakan. Messy as hell. Gak pake design-design-an *gak bisa*. Serba terlalu.
Terlalu gendut sampe jilidannya nganga.
Terlalu banyak konten.
Terlalu banyak yang mau dimasukin.
Sungguh terlalu.
Kalo aja scrapbook bisa memuat lagu, gue udah masukin sejuta lagu ke dalamnya *which emang tadinya mau gue lengkapi dengan CD berisi lagu-lagu selama seminggu itu, tapi gak keburu ngerekamnya*. Gue memandangnya dengan cengiran selebar muka, dari kuping ke kuping. Dari kuping ke kuping! Biar kata berantakan, I heart it so much!

  

  

Pergilah saya *saya apa gue sih?* ke Black Canyon setelah bergegas mandi dan sikat gigi *mandi gak termasuk sikat gigi ya?* Acara sudahlah pasti sudah dimulai. Capek sangat, tapi lega luar biasa, seperti sekarung beras baru aja terangkat dari pundak. Saya duduk, ambil secangkir teh, dan mulai membolak-balik album teman-teman scrappers lainnya *juih, teman? Saya ngaku-ngaku, hahaha…*.

 

 

Sebenernya udah mau semaput lagi ngeliat album-album mereka. Tapi saya udah ada di kondisi “bodo amat yang penting album gue kelar, biar gempa sekalipun, gak penting!” yang akut sekali, sehingga yang tersisa hanya rasa santai nyaris trance seperti kalo abis direfleksi dua jam.


 
 

Album teman-teman lain, alamaaaaak.. canggih-canggih kali! Jawdropping lah. Way beyond my league. Way waaaay beyond my league. Di satu album saya bisa berlama-lama memandang, menyentuh, membaca, mengira-ngira dan membayangkan proses pembuatannya, menikmati, mengagumi, menghargai setiap kerja keras dan cinta yang dituangkan dalam detil-detil yang gak pernah terpikir sebelumnya. Sambil saya teringat album saya yang berantakan, digarap dengan teknik sudra dan skill pas-pasan. Tapi kelar!! Ha!


 
 

 

...Jangan ngolok-ngolok
gue donk,

lagi fragile
nih...
Jadi ketika dimulai voting untuk memilih dua album favorit, lalu saya dengar nama saya disebut, alis kanan saya naik. Hueh? Kok ada yang milih? Ooh, mungkin satu orang lagi kesilep matanya. Tapi kemudian nama saya disebut lagi. Alis kiri sekarang yang naik. What? Becanda? Jangan ngolok-ngolok gue donk, lagi fragile nih *jiahhh, kerdus kali fragile*. Tepat di kali ketiga nama saya disebut lagi, satu personality kepisah. Mulai sinting. Di penyebutan nama berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya lagi hingga genap tujuh suara, personality saya sudah pecah lima. Ada satu alter ego anak kecil umur 4 tahun dan satu nenek 77 tahun.


  

 

 

Saya gak ngerti kenapa bisa kepilih. Gak ngerti. Gak ngerti. Bahkan hingga detik ini. Just so you know, album milik Lia Sutra dengan perolehan delapan suara gak hanya artistik dan indah dan rapih dan bagus dan cakeb banget, tapi juga digarap dengan teknik tinggi dan menggunakan berbagai macam medium layaknya seniman professional. Jadi bisa dimengerti toh kalo saya masih mungkin akan split lagi sampai 17 alter ego?


 

 

 

Ketika masih ngatur napas, nyari selang oksigen, sambil berusaha tetap tampil waras di depan banyak orang, Ria mengumumkan lagi pemenang giveaway Our Journey-nya. Ya betul, saya lagi. Untuk menjelaskan kenapa akhirnya saya betul-betul pecah sampai 17 alter ego, read this desperate comment on her blog that described how bad I wanted the kit. I wanted the kit so bad. No one wanted it as bad as I did. So well, yeah, I officially split into ultimate 17 personalities.


  

 

 

Back to the album. Tentang seminggu yang tak akan pernah kembali lagi itu. Making this album turned out to be more spiritual than I thought it would be. I learnt so much, I contemplated so much. It took a lot from me, it gave a lot more to me.


 

 

...because
I kept
changing

things. You know I'm a slave for
"what-if"...
Total pengerjaan memang hanya sekitar 5-6 hari, dikerjakan dalam kurun waktu dua minggu sebelum tenggat, dan selesai tepat pada tenggat *endingnya dramatis sekali, at 10 am on the D-day!*. Walaupun dikerjakan dalam waktu relatif singkat, saya masih merasa 6 hari itu terlalu lama. Harusnya bisa lebih cepat lagi, if only saya udah tau mau ngapain sebelum ngejembreng itu foto-foto dan kertas-kertas di atas kasur.

I should’ve known what to do, how to do it, what, where, when, 5W1H7G *G-nya gila* sebelum turun gunung. I realized yang bikin lama ngerjainnya adalah because I kept changing things. You know I'm a slave for what-ifs. Everytime another "what if" popped up in my mind, I went changing things here and there. Ini juga penyebab album itu berantakan pengerjaannya, karena saya keletekin terus! Udah paten di sini, "what if itu di situ aja?," lalu keletek. Yang udah ditempel mantep keras di pojok sana, "what if kalo di sana aja?" lalu keletek lagi. Jadi bayangkan sendiri itu kertas dan foto-foto full of lekuk-lekuk nan tak sedap dipandang mata apalagi diraba. *heran kan bisa ada yang milih?* Saya jadi mikir, does this what-if exploration reflect how I live my life? Halaaaaah, jadi dalem.. No judgement, please? :D :D :D


 

  

So, here is a tiny wisdom from me. You can explore as wild as you want, or can, but always mind the limit: time, sources, energy. Don't get carried away. Because you can never be satisfied enough. Work from your current situation. Work with what you have at the present. Nah, dalem kan? *pan gue udah bilang.. spiritual cuuy..*


 

  

  

Dari semua hal that I experienced and learnt from this project, ada tiga hal yang mengisi catatan saya dengan tinta ungu *loh kenapa ungu* * kenapa gak biru* *atau kuning keju*.

One. Scrapping punya andil besar menyelamatkan bumi dari sampah. Soale itu segala bon, tag baju, karcis tol, bungkus gula, slip ATM, struk belanja, brosur, yang harusnya jadi sampah menjulang tinggi sampai monas, semua disulap jadi sampah indah nan artistik. Cenggih tak? Gak perlu mesin daur ulang mahal-mahal, scrap aja :)


  

  

"Exhibit A,
your honor:
scrapbook." 

And justice will be served
beyond reasonable doubts...
Two. Scrappers adalah sahabat para CSI officer. Karena semua bukti-bukti mentah terdokumentasi dengan sangat baik dan acid-free! Lengkap dengan robekan, sidik jari, bekas tumpah, DNA, semua hal yang akan membuat para petugas forensik makan gaji buta. Don Flack dan Mac Taylor bisa liburan ke Karibia sebulan penuh, Sara Sidle dan John Grissam bisa ngabur ke hutan Amazon seminggu tiga kali. Semua bukti udah jadi satu paket, tinggal di bawa ke pengadilan. I dream that someday I will see seorang petugas pengadilan bilang, “Exhibit A, your honor: scrapbook.” And justice will be served beyond reasonable doubts.


 

 

Three. And this is the ultimate one.
Betapa saya sangat ingin merekam setiap detail hari demi hari. Gak hanya cerita, tapi more to the feel and experience for real. I want anyone who sees the album can also menjalani, mengalami, membaui wangi udara, merasakan setiap lonjakan hati dan perosotan jiwa. Saya ingin semua hal bisa saya capture, saya tulis, saya abadikan. But you see, I couldn’t. Karena ternyata, momen paling indah adalah ketika saya tak sanggup mengangkat kamera untuk menangkapnya. Rasa paling menggetarkan adalah ketika saya tak punya kata-kata untuk menggambarkannya. Sehingga ketika kita melihat album masing-masing dan mengatakan, “Betapa indahnya!”, that means our real life is million times better. And that's the truth.


  

  

 

  

Mata saya membasah menyadari hal itu. Menikmati rasa syukur yang tumpah ruah meluberi sekujur molekul tubuh saya. Karena foto, cerita, prosa indah hari ini, tak akan sanggup mewakili seujung kuku keindahan yang tercurah sepanjang hari. Ya Sang Maha Tinggi, saya memiliki segalanya. Segalanya.


 

*Cerita ini berhenti di sini. Selanjutnya, selamat melihat-lihat foto-foto album saya, yang sudahlah pasti tidak seberantakan aslinya. Let me know if you are crazy enough wanting to see the live show. We can have an afternoon tea and talk about how this wacky world is round and therefore we never know if we're right side up or upside down. I'll bring the album.*


    

  

one week
when time
stood still
- opening page -


 

 

  

I am inviting you to my world.
'Coz I love you.
And my love is abundant.
- opening page -



 

 

  

this is for the day that 
started with the same ritual
: a slice of lemon
squeezed into a glass of water
- day 2 -


 

  

  

sebuah hari yang tidak selesai
dituangkan dalam kata-kata
dan aku belum lagi
bercerita tentangmu
- end of day 2-


 

  

The Cranberries menemani membelah malam
bau tanah sehabis hujan
malam pekat tanpa bintang
suaramu tertinggal di ujung ingatan
berdering berulang
seperti kutukan
- day 3 -


  

  

 

closing the day with a long talk
with a dear old friend
will we still be talking this long
to each other
when we got older?
- day 4 -


  

  

pulang naik kereta
seperti biasa berkhayal
sedang naik Trans Europe
menuju Wina
- day 5 -


  



the road was empty
i was cruisin' like
bocah kecil main sepeda lepas tangan
di jalanan menurun curam
- day 6 -



*other mumblings are exclusively available in the album. ask me nicely, we'll talk :)
...


Related Posts with Thumbnails