From Buddhist Temple to Theme Parks,
All Above The Clouds
At the peak of the 1800 meter Gunung Ulu Kali
lies the wondrous world of Genting Highland.
Shrouded in mist and refreshingly cool weather,
far from the hustle of everyday pressures.
A land of perpetual entertainment,
fun games and rides,
amazing shopping and a fiesta of feasts.
It is a place of smiles and happiness, a retreat
where magical moments are created and imprinted
upon your mind as lasting memories.
(A poem found at the back cover of our photo in Cork Screw ride)
Sungguh bagai johan – jodoh dari Tuhan, ketika beberapa pekan lalu sebuah kesempatan manis datang ke lini masa twitter saya. Kesempatan untuk menyambangi dataran tinggi Genting, Malaysia. Soalnya, terakhir kali saya ke negeri jiran ini dalam rangka mengajar, saya cuma punya satu hari bebas dan itu berarti saya harus memilih. Ke Genting atau ke Melaka? Saat itu saya memilih ke Melaka *another hutang tulisan*. Maka ketika kesempatan untuk ke Genting ini datang, ahayyy, sungguhlah pas!
Wiwit taught
Dee Linn
bahasa ABG,
"Cius? Miapa?"
and we bursted
into thundering
laughter..
Kami pergi bersepuluh, 8 blogger dan 2 jurnalis yang tidak saling kenal sebelumnya. Ketemu dan kenal pertama kali di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menjelang boarding. Keren kan :) Mana tau salah satu dari mereka adalah pembunuh berdarah dingin? *lirik seseorang*
Selepas subuh, naik angkot ke terminal Pasar Minggu, lalu naik Damri ke bandara. Travelling bag saya hanya terisi separuh, tapi terasa cukup gembil dengan jaket tebal yang saya sumpal paling atas. Just in case sweater saya masih tembus dingin, saya gak mau kejadian Gunung Gede terulang lagi, ketika Schoffel sekalipun gak mampu menahan udara yang bikin saya jadi ice carving.