Saturday, September 10, 2005

Pada Sebuah Angkot

Suatu hari, 2003

Sebuah angkot, berjalan di jalanan panas berdebu Kali Malang, sekitar pukul 5 sore, hari kerja. Angkot berhenti mengambil penumpang. Masuklah seorang ibu, usia 30-an, duduk tepat di belakang supir. Mereka mulai mengobrol.

"Bang..."
"Eh bu, mau kemana?"
.......... ngobrol gak penting....
"Gimana suami?"
"Yah, gitu deh, Bang. Suami gak bisa kerja yang lain."
"Emang gak bisa kerja lain selain jadi tukang sepatu?"
"Gak bisa."
"Ya situ mesti cari duit juga."
"Iya, saya sih mau."
"Mendingan buka warung rokok. Modalnya lima ratus ribu udah cukup. Asal rajin belanja ke pasar tiap hari."
"Iya gitu, bang?"
"Kalo warung rokok kan enak, tiap hari nungguin ya di situ aja. Tidur, makan di situ. Bisa gantian sama suami. "
"...."
"Yang penting tiap hari belanja ke pasar, beli rokok, permen, kacang. Nanti yang dipajang sih rokoknya macem-macem, tapi belanjanya yang sering dibeli orang aja. Palingan bayar preman tiap hari, atau kasih dia rokok."
Si ibu terus mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan pertanyaan dan persetujuan.
"Nanti saya bikinin warungnya. Sekarang cari dulu lima ratus ribu, jadi dah tuh warung. Lumayan hasilnya."
"Iya, ya."
"Atau jualan kaca mata juga lumayan. Tuh banyak orang cirebon yang dapet banyak, jualan kaca mata," sambil menunjuk pedagang ceng-dem di pinggir jalan.
Si abang angkot meneruskan penjelasannya,"Beli kaca matanya di Tangerang tuh, bawa ke sini. Lumayang untungnya. Banyak juga yang beli."

Seorang wanita bekerja, duduk di samping supir, matanya berkaca-kaca. Tadi malam ia masih mengeluh: gaji kurang gede, kantor terlalu jauh. Kalau saja ibu dan bapak supir itu tau, berapa yang ia peroleh dengan pasti dalam sebulan (yang jumlahnya kemarin ia rasakan begitu kecil), hanya dengan melakukan pekerjaan yang bisa ia lakukan sambil merem. Tanpa keringat, karena ruangan ber-AC. Tanpa usaha terlalu serius. Mungkin mereka sudah menempeleng kepalanya atau mengusirnya keluar dari angkot.

Tempeleng saya, ibu yang baik. Usir saya, bapak supir. Itu masih terlalu ringan untuk keserakahan hati saya. Keserakahan hati manusia yang tidak mampu bersyukur.

Mysterious Way

Energi Yang Paling Tinggi bekerja dengan cara yang sangat misterius. Sebuah benda bernilai sangat tinggi bagi suami saya menyerahkan diri hari ini, dan sekarang tergolek di kamar saya. Walaupun pernah bercita-cita memilikinya (man, it's Dave's gear!), memandangnya tergantung tinggi di dinding Guitar Center, namun tidak pernah jadi tujuannya. Berlebihan. Ridiculuos. Such a waste. Sekarang si Ridiculuos ada di samping meja komputer saya. Nyaris tanpa keringat. Tiba-tiba datang hanya karena ikhlas (amin). Setengah tidak percaya saya berujar, "Seperti Ahmad Thomson, si Kelana Pencari Illahi, 60 Poundsterling sampai di Mekah, hanya dengan ikhlas."

Subhanallah. Karena cerita itu baru semalam dibaca suami saya. Bagaikan kata pengantar sebuah episode, Sang Maha Penulis Skenario menulis dengan enaknya.

Ijinkan suami saya menghasilkan amal darinya, wahai Sang Maha Meminjamkan. Seperti Ahmad Thomson yang bekal enam puluh Poundsterlingnya tidak pernah sia-sia..

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? Menggurui sekali. Saya tidak enakan.

Seorang teman bertemu saya untuk mendapatkan pencerahan. Pencerahan apa yang bisa saya berikan? Saya tidak punya petuah bijak dan pemahaman yang dalam untuk dibagi. Saya hanya tau saya penuh dosa. Pada orangtua, pada suami, pada saudara, pada orang-orang yang kenal saya. Dan cuma bisa sesunggukan menyesal (dengan tololnya) tiap ingat itu semua. Bahkan penyesalan itupun belum sanggup menggerakkan jiwa kerdil saya untuk mendatangi mereka satu persatu untuk minta maaf.

Secarik kain ini memang bagaikan naungan. Tidak hanya melindungi kepala saya, juga sontak meneduhi hati saya. Namun apa yang bisa saya jelaskan?

Thursday, September 01, 2005

Jujur itu enak

Pertanyaan klise:
Apa yang bisa kamu tawarkan untuk kami?/Apa yang membuat kamu istimewa dibanding kandidat lainnya?

Jawaban klise:
Saya berdedikasi tinggi, setia, bersedia kerja lembur. Saya memberikan 110 persen diri saya kepada apa yang saya kerjakan.

Jawaban jujur:
Bronis.
Iya. Bronis buatan saya belom ada yang ngalahin sampe sekarang. Nanti saya bawain untuk anda, terutama kalo lagi perlu sesuatu buat nendang suntuk. Kandidat lain mana ada yang mau bikinin? Kalopun mau, gak bakal seenak bronis saya. Gih tanya mereka.

Pertanyaan klise:
Kenapa kamu pengen profesi ini? / Apa sih motivasi kamu?

Jawaban klise:
Karena profesi ini dinamis sekali. Membuat saya terus up-to-date dan tidak berhenti berkembang. Profesi ini juga pelayan masyarakat. Saya ingin bisa memberikan kembali apa yang saya punya kepada masyarakat.

Jawaban jujur:
Waktu kecil saya nonton film serial tv yang judulnya "Shoestring". Tokohnya seseorang yang berprofesi ini. Dia kelihatannya asik banget kerjanya. Saya lantas bercita-cita jadi profesi ini.

Pertanyaan klise:
Di mana kamu lihat diri kamu 5 tahun dari sekarang?

Jawaban klise:
Lima tahun dari sekarang, kondisi ekonomi saya sudah stabil, punya karir yang bagus dan aman, sudah mencapai semua goal jangka pendek saya.

Jawaban jujur:
(sambil meringis 'neg) Mencontek jawaban temen saya, lima tahun dari sekarang saya udah jadi master atas segala hal yang saya eksplor, atau tinggal di got. Mungkin dua-duanya!

Pertanyaan klise:
Apa kekuatan dan kelemahan kamu?

Jawaban klise:
Kekuatan saya, saya orang yang jujur, berdedikasi, menepati deadline, senang belajar, berjiwa pemimpin, logis, problem solver, pengambil keputusan, berkembang di bawah tekanan, tidak suka bergosip, blablabla...
Kelemahan saya, sering mengharapkan orang bekerja sebaik saya (yah gila).

Jawaban jujur:
Saya pelupa. Jadi agenda saya penuh sama things-to-do sampe ke urusan beli garem segala. Saya juga gak ontime. Tapi kecepatan kerja saya 2-3 kali orang biasa, jadi emang gak perlu ontime. Saya hobby tenggo. Karena menurut saya, manusia sehari cukup kerja 5 jam aja, kayak orang Eropa. Toh sisanya juga dipake buat imel-imelan.

Pertanyaan klise:
Kamu bersedia kerja di hari libur besar/hari raya?

Jawaban klise:
Selama itu diperlukan dan untuk urusan yang masuk akal, saya bersedia (sambil tertekan jawabnya, soalnya ngibul).

Jawaban jujur:
Begini ya. Kalo sampe karyawan diperlukan kerja di hari libur besar, berarti manajemen anda buruk sekali. Tapi untuk menjawab pertanyaan, saya bukan hanya bersedia, tapi berharap sangat! Karena: satu, jalanan gak macet. Dua, saya seneng suasana kantor yang sepi. Tiga, jalanan gak macet dan saya suka suasana kantor yang sepi.

Pertanyaan klise:
Kamu akan menjalani masa percobaan 3 bulan. Setelah itu hasil evaluasi akan menentukan apakah kamu layak lanjut atau tidak. Ok?

Jawaban klise:
Ok, ok (sambil manggut-manggut wise-loser).

Jawaban jujur:
Gak hanya perusahaan yang menilai saya donk. Saya juga akan ngeliat, cukup asik gak perusahaan ini buat saya? Dalam tiga bulan saya juga akan memutuskan apakah perusahaan ini layak memiliki saya.

Based on true story (answered honestly and got the job :) ) 


This entry was posted in

Client Setia dan Mesjid yang Dilindungi

Ampyuuuuun! Gila nih, client satu! Bolak balik itu kerjaan dilempar balik ke gue. Gak ada abisnya, gak ada puasnya, tapi gak kapok juga 'make' gue. I have a feeling he's probably sent by somebody to, slowly but sure, cold bloodedly kill me.. You know, like they did to the pope.

Bukannya nolak rejeki, alhamdulillah banget masih dipercaya orang. Tapi kalo udah gak cocok, mendingan kita pisah baik-baik aja de…

-----oo000oo-----

Kemarin seorang temen melihat ada gedung terbakar. Gedung itu jadi satu dengan mesjid. Seluruh bagian gedung terbakar habis, gak bersisa. Tapi mesjidnya utuh, gak cacat sedikitpun.

Jadi inget kakak yang pergi ke Aceh untuk tugas dokter. Ketika seluruh daratan hancur porak poranda rata dengan tanah, mesjid-mesjid tetap tegak berdiri. Allahu akbar... (dan air mata menitik lagi)