Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2005

Pada Sebuah Angkot

Suatu hari, 2003

Sebuah angkot, berjalan di jalanan panas berdebu Kali Malang, sekitar pukul 5 sore, hari kerja. Angkot berhenti mengambil penumpang. Masuklah seorang ibu, usia 30-an, duduk tepat di belakang supir. Mereka mulai mengobrol.

"Bang..."
"Eh bu, mau kemana?"
.......... ngobrol gak penting....
"Gimana suami?"
"Yah, gitu deh, Bang. Suami gak bisa kerja yang lain."
"Emang gak bisa kerja lain selain jadi tukang sepatu?"
"Gak bisa."
"Ya situ mesti cari duit juga."
"Iya, saya sih mau."
"Mendingan buka warung rokok. Modalnya lima ratus ribu udah cukup. Asal rajin belanja ke pasar tiap hari."
"Iya gitu, bang?"
"Kalo warung rokok kan enak, tiap hari nungguin ya di situ aja. Tidur, makan di situ. Bisa gantian sama suami. "
"...."
"Yang penting tiap hari belanja ke pasar, beli rokok, permen, kacang. Nanti yang dipajang sih rokoknya macem-macem, tapi belanjanya yang sering dibe…

Mysterious Way

Energi Yang Paling Tinggi bekerja dengan cara yang sangat misterius. Sebuah benda bernilai sangat tinggi bagi suami saya menyerahkan diri hari ini, dan sekarang tergolek di kamar saya. Walaupun pernah bercita-cita memilikinya (man, it's Dave's gear!), memandangnya tergantung tinggi di dinding Guitar Center, namun tidak pernah jadi tujuannya. Berlebihan. Ridiculuos. Such a waste. Sekarang si Ridiculuos ada di samping meja komputer saya. Nyaris tanpa keringat. Tiba-tiba datang hanya karena ikhlas (amin). Setengah tidak percaya saya berujar, "Seperti Ahmad Thomson, si Kelana Pencari Illahi, 60 Poundsterling sampai di Mekah, hanya dengan ikhlas."

Subhanallah. Karena cerita itu baru semalam dibaca suami saya. Bagaikan kata pengantar sebuah episode, Sang Maha Penulis Skenario menulis dengan enaknya.

Ijinkan suami saya menghasilkan amal darinya, wahai Sang Maha Meminjamkan. Seperti Ahmad Thomson yang bekal enam puluh Poundsterlingnya tidak pernah sia-sia..

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …

Jujur itu enak

Pertanyaan klise:
Apa yang bisa kamu tawarkan untuk kami?/Apa yang membuat kamu istimewa dibanding kandidat lainnya?

Jawaban klise:
Saya berdedikasi tinggi, setia, bersedia kerja lembur. Saya memberikan 110 persen diri saya kepada apa yang saya kerjakan.

Jawaban jujur:
Bronis.
Iya. Bronis buatan saya belom ada yang ngalahin sampe sekarang. Nanti saya bawain untuk anda, terutama kalo lagi perlu sesuatu buat nendang suntuk. Kandidat lain mana ada yang mau bikinin? Kalopun mau, gak bakal seenak bronis saya. Gih tanya mereka.

Pertanyaan klise:
Kenapa kamu pengen profesi ini? / Apa sih motivasi kamu?

Jawaban klise:
Karena profesi ini dinamis sekali. Membuat saya terus up-to-date dan tidak berhenti berkembang. Profesi ini juga pelayan masyarakat. Saya ingin bisa memberikan kembali apa yang saya punya kepada masyarakat.

Jawaban jujur:
Waktu kecil saya nonton film serial tv yang judulnya "Shoestring". Tokohnya seseorang yang berprofesi ini. Dia kelihatannya asik banget kerjanya. Saya lanta…

Client Setia dan Mesjid yang Dilindungi

Ampyuuuuun! Gila nih, client satu! Bolak balik itu kerjaan dilempar balik ke gue. Gak ada abisnya, gak ada puasnya, tapi gak kapok juga 'make' gue. I have a feeling he's probably sent by somebody to, slowly but sure, cold bloodedly kill me.. You know, like they did to the pope.

Bukannya nolak rejeki, alhamdulillah banget masih dipercaya orang. Tapi kalo udah gak cocok, mendingan kita pisah baik-baik aja de…

-----oo000oo-----

Kemarin seorang temen melihat ada gedung terbakar. Gedung itu jadi satu dengan mesjid. Seluruh bagian gedung terbakar habis, gak bersisa. Tapi mesjidnya utuh, gak cacat sedikitpun.

Jadi inget kakak yang pergi ke Aceh untuk tugas dokter. Ketika seluruh daratan hancur porak poranda rata dengan tanah, mesjid-mesjid tetap tegak berdiri. Allahu akbar... (dan air mata menitik lagi)