Thursday, July 31, 2008

Sunday, July 27, 2008

An Afternoon To Remember

Balkonku Tercinta


26 Juli 2008, 19:16 WIB

Sebuah SMS masuk, dari seorang sahabat:
I wish hari ini tanggal 19
Saya balas:
Gosh, yes. And I thought I was the only one being this nostalgy freak..

Ah, sore itu memang mistikal. Seminggu lalu, 19 Juli 2008, di SMP 88 Kemanggisan Jakarta Barat. Sore yang serupa mimpi.

Apa yang bisa saya ceritakan? Ada lagu Himne Guru menggaungi udara, terlantun setengah bergumam, setengah hening, mengiringi ciuman di pipi, bunga di tangan dan pemberian tanda sayang untuk para guru kami. Apalah yang bisa kami lakukan? Sedari purba dunia, tak 'kan mungkin terbalas jasa mereka.

Ada wajah-wajah yang pernah terlupa, namun sesungguhnya berdiam setia di belakang kepala. Canda tawa yang sama, betul-betul tak jauh beda, meski jeda dua puluh tahun meregangkannya. Balkon sekolah tempat tongkrongan tiap pagi, saksi bisu atas segala yang pernah terpikir, terpendam, akhirnya terjadi, atau justru tersimpan selamanya!

Ada air mata di sela renyah tawa, gumaman tak percaya, tak mengenali, belalak mata kagum, lalu tekun merunuti tiap sosok teman lama yang sudah berubah, atau tidak berubah, atau berubah sedikit. Tidakkah kita semua tetap sama? Sejatinya kita masihlah kita yang dulu itu bukan?

Oh, sore ajaib yang begitu singkat! Seperti tidak menginjak bumi, mengawang mengikuti arah pelangi, menuju tempat di mana kita semua muda kembali! Mengapa matahari harus segera pergi, malam tergesa turun bahkan sekejap berganti pagi? Saya masih rindu kalian semua! Entah kapan 'kan terlerai. Entah kapan.

Photo & video links:

Related post:



Full report di milis '88:

Mau menulis dari seminggu lalu, kok gak sempet-sempet. Apa karena gak sanggup-sanggup?

Sesungguhnya hingga hari ini pun belum sanggup menulis tentang jalannya reuni kemarin. Tapi sayang sekali kalo sore yang tak terulang itu terlewat tanpa ada catatan. Terutama untuk teman-teman yang gak bisa datang, jauh dari tanah air, atau sekedar baru tau kalo kemarin ada reuni.

Kata undangan, acara dimulai jam 15.00, selesai jam 18.00. Tapi ternyata dari jam 11 sekalipun, udah banyak yang mampir menengok persiapan panitia. Diana & Martina bahkan sudah datang dari jam dua, ikut nemenin panitia makan siang.

Balik dari bebek goreng, sekolahan sudah rame! Padahal baru juga setengah tiga! Murni mengambil keputusan untuk memulai "siaran" sore itu. Soalnya dari jam 3 sampai waktunya dimulai acara inti, akan diisi sama siaran radio Agra, aliyas Anggrek Garuda, 88.88 FM, yang dipancarkan dari ruang piket ke seantero sekolah. Hehehe.. Catatan si Boy banget dah..

Lalu sore mistikal itu pun dimulai. Wajah-wajah lama berdatangan, berteriakan, berbelalakan, berpelukan.. ditingkahi lagu-lagu lapan puluhan yang bikin hati meleleh-leleh.
Semua akses sekolah ke balkon lantai dua hingga atap dibuka. Mulailah para pengunjung lorong waktu berkeliling ke kelas-kelas mereka dahulu. Tiap pintu kelas ditempeli foto-foto dan nama-nama penghuni kelas 1. Gue tarik Rere ke kelas 2A di atas, sekedar mau liat lagi balkon kesayangan kita dulu di atas. Balkon pojok tempat anak-anak 2A biasa nongkrong tiap pagi, nontonin setiap orang yang masuk lewat gerbang di bawahnya. Lalu masuk ke kelas 2A, duduk di bangkunya. Oooh, bangku itu terasa kecil sekarang! Padahal badan gue gak melar kok! Kenapa dulu nih bangku berasanya lega ya?

Berlama-lama di lantai dua, di sepanjang balkon, memandangi keriangan di halaman bawah yang semakin lama semakin riuh rendah. More alumni, more noise, more foto-foto, dan hari semakin sore. Buru-buru turun, karena Murni udah nungguin untuk segera memulai acara inti. Masuk ruang konsumsi, yang lagi melepas rindu juga gak kalah heboh di sini. Sambil mulut sibuk juga ngunyah bakso, somay, macaroni schotel, jajan pasar, bronis kukus, kripik pedes, es buah, ngopi-ngopi, ngeteh-ngeteh..

Intro "The Final Countdown"nya Europe jadi pembuka acara inti, dimulai lebih awal dari rencana. Murni dan Atin langsung ambil posisi di depan, sementara para alumni dan guru-guru perlahan mulai tertib duduk di bangku-bangku kayu, di depan dua TV plasma dan satu giant screen.
Acara dimulai dengan mengenang teman-teman yang sudah mendahului kita semua, lewat video yang menyuguhkan foto-foto mereka. Disusul kemudian dengan video foto-foto masa jaya kita semua waktu SMP: foto-foto waktu ekskul pramuka, PMR, silat, waktu lulus-lulusan, rapat osis, perpisahan kelas, .. dan kenapa selalu ada muka Nunun ya di tiap foto itu? kekeke...

Sambutan dari guru-guru. Waktu Bu Yatmi bicara di depan, halaaah, beliau ngajak nyanyi Santa Lucia! Huaaa... inget banget kan lagu ini dulu wajib dihafal di pelajaran kesenian?
Sul mare luccica, l’astro d’argento..
Gue masih inget tuh liriknya! Santa Lucia lengkap selesai dinyanyiin, hahaha... seru, seru....

Sambutan dari ketua panitia, yang lalu memanggil seluruh crew panitia ke depan. Dengan susah payah karena terhalang tangis, Darocky menutup sambutannya dengan satu kalimat liris "Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin ini semua terjadi..". Lalu gue yang malah nyaris mewek!! Bukannya apa-apa, inget behind the scene-nya panitia yang berdarah-darah bikin acara ini! Tapi ikhlas kooook... sangaaaat.... beneraaaaan.....

Selanjutnya, video lagi. Kali ini video "Kata Mereka Tentang Kita", aliyas guru-guru bicara tentang kita. Gue demen nih.
Kata pak Darwis, "Memang angkatan kalian itu bandel-bandel, tapi bandel sewajarnya anak-anak. Tapi otaknya, luar biasa bahkan lebih.." **lebih apa nih pak?**
Bu Shinta juga bilang senada, "Dulu Pramuka dan PMR kita ditakuti.." **loh?**

Berikutnya, sumbangan dari alumni yang diserahkan secara simbolis. Alhamdulillah, terkumpul lumayan jumlahnya. Mengingat seminggu sebelumnya, jumlah sumbangan masih amat sangat kelewat tidak signifikan, maka jumlah ini bisa dibilang mukjizat, bisa terkumpul dalam waktu seminggu plus satu hari. Subhanallah, alhamdulillah. Semoga atap sekolah bisa segera kumplit plit. Terimakasih ya untuk semua pihak donatur, yang udah ngedoain juga, terimakasiiih... Semoga Allah membalas berkali lipat, amin.

Penyerahan tanda mata dari alumni untuk guru-guru. Sambil menyerahkan buket bunga dan bingkisan kepada bu Sanyoto, pak Saprie dan guru-guru lain, Murni dan Atin spontan memimpin alumni untuk nyanyi lagu "Himne Guru". Hey, masih pada inget lagu itu?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku


Seketika suasana jadi magis! **Nilia aja sampe merinding**
Mendadak keriuhan mereda, hening, lalu lagu Himne Guru terlantun setengah bergumam, mengiringi panitia memberikan bingkisan kepada guru-guru lain yang duduk di barisan depan. Mengiringi ciuman di pipi dan tundukan kepala hormat kepada para pahlawan tanda jasa itu. Oh, bagaimanalah pula kami bisa membalas jasamu?

Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan..
Engkau patriot pahlawan bangsa.. tanpa tanda jasa

Sudah itu, guru-guru berfoto bersama. Huah, langka banget nih foto.
Abis itu, semua alumni langsung bergabung **tepatnya, merangsek** dengan para guru di depan buat foto barengan semuanya.
Inilah angkatan '88, dua dekade kemudian! Lebih langka lagi!

Class of '88, Junior High

Ok, acara yang mengharu-ungu selesai sudah. Acara keriaan dilanjuuuut...
Pak Herly sulap! Hehehe... banyak yang belom tau kan kalo selain seorang guru matematik dan pelatih paduan suara yang asik, Pak Herly juga seorang pesulap dan MC profesional. Jadi kemarin tuh pak Herly nyulap deh, dan pake duit segala lagi nyulapnya. Coba pake sulapan iris-iris badan pake bilah baja ya, kan seru tuh kalo kita korbanin si Phillip buat dibelek-belek...

Sementara itu yang fotoan di belakang sana semakin lupa daratan. Setelah nemenin DQ dan kameraman ngambil video kesan-pesan bu Sanyoto, gue langsung ngacir lagi keluar, di mana kehebohan sesi foto mulai menjadi-jadi. Waks, Murni udah dikudeta! Sekarang kedudukan MC udah berganti Sutardi dengan Atin (yang satu ini tetep).
Pertama, sesi foto per kelas satu. 1 A, 1 B, 1 C, sampe 1 H. Pas kelas 1 A, B, C, kayaknya masih pada tertib ya? Kenapa makin ke H makin berantakan? Hihihih...

Mmm... abis itu mulai deh, otak dah pada bocor. Sesi foto mantan pacaran, mantan naksiran, kumpulan jomblo, kumpulan Big & Beautiful, huahuahuaaaaa.... Robek nih muka ketawa melulu!
Abis itu, acara masih padat. Yang ulang tahuuuuunnn... hayo maju ke depan! Dewi Yulianingsih sama Ana Juliana ulang tahun pas harinya reuni. Jangan khawatir, panitia udah nyiapin kue sama lilinnya. Nyanyi deh semuanya, happy birthday to you, happy birthday to you... Tiup lilinnya, tiup lilinnya..
Dewi, jangan terharu gitu donk, daku kan jadi ikut hiks...

Kalo gak segera diingetin, bahwa banyak hadiah yang belom dibagiin untuk games, kali bakalan balik ke sesi foto konyol tuh. Ya udah, dilanjut sama games. Siapa ketua kelas 3C? Siapa cinta terpendamnya Suprihatin? Yaelah, mana ada yang tau!! Huahua...

Akhirnya toh semuanya harus diakhiri, sebab malam semakin turun, keluarga udah sibuk SMS meminta ayah ibunya kembali ke pelukan mereka *duileeeh, emang ngapain*, dan semua perjumpaan mau gak mau harus berakhir dengan perpisahan lagi. Atin, Murni dan Sutardi menutup acara, lalu sore ajaib yang sudah gelap itu pun ditutup dengan kita semua baris bersalaman sambil pulang.

Sebagian yang masih pada males pisah **ta'elah**, nerusin hang out di ruang makan, sampe kelar tuh petugas catering bebenah, bungkus-bungkus. Sampe petugas dekor udah mau selesai beberes. Sampe akhirnya perut jejeritan minta diisi sama yang lebih nendang lagi.
"Makan yuk!" Halah, alesaaaaan.... Bilang aja mau nerusin ngumpul..
Lanjut ke Bright Cafe di Gatot Soebroto, makan, becanda, basically ngelanjutin ngumpul. Sampe akhirnya ada juga yang berani bilang, "Udah yuk, pulang." Huah! Back to reality, huh?
Akhirnya dibubarkan dengan paksa oleh kenyataan, pada jam 02:30 pagi, WIB.

Sampai jumpa teman-teman SMPku tercinta. Berjanjilah untuk tidak membiarkan 20 tahun lewat lagi tanpa silaturahmi di antara kita. Mau kan?

Pejaten, 27 Juli 2007, 19:13 WIB
:sesungguhnya masihku belum sanggup. karena menuliskan ini, berarti menutup dan meninggalkannya di belakang. dan aku belum lagi ingin.

Thursday, July 17, 2008

Friday, July 04, 2008

PTD: Tembok Kota Batavia

...
Luruskan pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam
Ke laut lepas, layar putih- putih, perahu-perahu bebas

O Laut Jawa di belakang desa-desa sengsara
Laut Jawa di belakang kejatuhan dan k
ebangkitan suatu bangsa

Laut adalah kita, perahu-perahu berkuasa

Dari Arafura, Selat Sunda, Selat Malaka

Demikian sejarah bangsa dalam masa jaya

Sebelum Sultan Agung dan monopoli kapal dagang bersenjata


Laut adalah kita, sebelum cengkeh dan pala
Laut adalah kita, sesudah minyak dan baja
Perahu-perahu begitu manis, kapal-kapal lebih perkasa

Luruskan pandang ke laut, laut yang merdeka

Ajib Rosidi - Pantai Utara
doeatandamata 2 trompet 20

Sebenernya
ikutan PTD kali ini cuma mau keliling-keliling kota naik sepeda ontel.

Dilepas pake trompetan saut menyaut para petugas museum Bank Mandiri berseragam ala prajurit zaman J.P. Coen, dan yang berpakaian necis ala Doea Tanda Mata.

jembatankotaintan 4 galanganvoc 3

kali-besar 9
Pemandangan
kota tua, jembatan Kota Intan, Galangan VOC, jalanan basah sehabis diguyur hujan sepagian.


Angin
masih dingin meriapi kening dan ujung kerudung.



Lumayan mampu memanggil kembali hati dan jiwa yang --waktu itu-- lagi terbang entah kemana, meninggalkan raga yang bergerak otomatis serupa zombie.

Museum Bahari

jendela-jendela 5
Museum
Bahari itu indah! Tembok kota tempat tentara Belanda nyumput sambil tetap bisa nembak, masih utuh di sana. Museum Bahari ini dulunya adalah *bentar liat kebetan dulu* gudang milik VOC, dipakai untuk menyimpan rempah-rempah yang diangkut dari Banda Neira.


Tembok Kota Batavia perahu 17

museumbahari-inside-looking 11 meriam 10

paku 14 paku-teks 15

kakisepeda 8Pak Andy Alexander --yang di PTD Museum BI dulu bikin gue terlongo-longo melototin hasil super-impose peta kuno ke peta aktual masa kini-- ngejelasin peta lain lagi, lukisan-lukisan lain lagi, yang lebih asik-asik punya.

Terus ada Meneer Nico van Horn yang cerita everything about VOC. Oooh, ternyata yang punya VOC itu adalah.. Ternyata asal nama kota Batavia tuh dari..

Btw, itu bukan kaki gue!!

kacapatri_better 7

Ok lah. Seperti biasa tante loe setor foto-foto aja, ngedongeng tugasnya Adep.



Adep mendongeng:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Tembok Kota Batavia
Minggoe tanggal 15 boelan Juni tahon 2008 djam poekoel 07.30 sampe klaar djam 12an

Kota Batavia (tjikal-bakal kota Djakarta) diberdiriken oleh Gouverneur-Generaal J.P.Coen pada tahon 1619. Ini kota doeloenja orang kerap seboet sebagi Djajakarta, namoen di hari 30 Mei 1619, pasoekan VOC kassie serangan itoe bilangan, sehingga achirnja bole didoedoeki oleh olang walanda selama ratoesan tahoen, jakni sedjak tahon 1619 hingga tahon 1942 tatkala Tentera Dai Nippon masoep ka Noesantara.

Ini atjara jang saban saboelan sekali diadaken SAHABAT MUSEUM, boeat ini tempo aken kassie tjerita perkara itoe Tembok Kota jang dibikin oleh pedagang-pedagang VOC oentoek lindoengi diri dari pasoekan perang Banten, Cheribon, Mataram, dan pasoekan laen-laennja. Moengkin toean dan njonja sadikit bertanja perihal misih adanja itoe tembok.

Riwajat tentang orang-orang Belanda jang notabene pedagang ini, ditjeritaken oleh Pak Lilie Suratminto, saorang doktor di bidang batjain nisan-nisan Belanda (dduh apa sih istilahnya? yang pasti Pak Lilie ini jago bahasa Belanda, kebetulan beliau juga seorang dosen Sastra Belanda di UI). Lantas ada Pak Andy Alexander, saorang pemerhati sedjarah dan dojan oprek-oprek peta djadoel, laloe ditibanken ke peta sekarang, yah teknik super-impose gitu deh, sehingga kita bisa dapet ketahui secara persis dimana letaknya Kastil Batavia, Pertempuran VOC melawan Mataram, bahkan letak persisnya rumah J.P.Coen !!!

Oh iya di tempat ini juga pernah terjadi sebuah kisah cinta yang memilukan sebab-sebab bitjaraƤn jang manis jang kaloear dari montjong saorang lelaki, sahingga satoe gadis misti terdjeblos dalem djoerang kasangsarahan.Yah, kisah ttg Sarah Specx, jang di-straf (hukum) tjamboek kerana soeda bikin J.P.Coen terbakar amarahnja tatkala katahoei itoe kisah asmara jang ada betoel soeda terdjadi di roemahnja. Sang Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Coen achirnja lakoeken soewatoe tindakan jang kedjem, djahat, soeka kaniaja (aniaya) orang dan kamoedian dirinja djadi soesa dan sengsara. Lantas djoega ada Meneer Nico van Horn jang toeroet bertjerita tentang VOC. Tenang aja Pak Nico ini jago berbahasa Indonesia, Belanda apalagi (yah iyalaaahhh!)

Koempoelnja di Museum Bank Mandiri jang pernahnja (letaknya) di Jl. Pintu Besar Utara, atawa kerap diseboet Jl. Lapangan Station, kerna locatienja precies diseberangnja station trein. Kitaorang djoega tjeritaken perkara nama Pintu Besar, jang terambil dari satoe pintoe jang besar bernama: Niuewpoort, jang diboeka saban hari hingga djam poekoel 9 malem, jang didjaga oleh schutterij (pasoekan milisie), poela ada jang bernama Pintoe Ketjil, jang sekarang mendjadi nama bilangan jang loemajan kesohor di bilangan Djakarta Kota. Kamoedian kitaorang kassie tjerita tentang pertempoeran jang soeda betoel terdjadi pada tahon 1629, tatkala pasoekan VOC soeda tiada poenja amoenisie boeat kassie bales itoe serangan pasoekan Mataram jang beringas, lantas marika kassie lempar itoe marika poenja kotoran kepada orang Java jang lagi semangatnja mandjatin tembok koeboe pertahanan bernama Hollandia, sakoetika kedengeran oempatan kasar dari moeloet orang Java jang treak: "O Seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay!". walah!

Makanya Kota Batavia, sempat disebut sebagai Kota Tahi pada masa penyerangan Mataram ini. Nah dimana letak kubu Hollandia ini? Pak Andy Alexander kasih liet lokasi itu benteng secara tepat, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan yang rame di Glodok!
...