Saturday, October 24, 2015

Taman Nasional Wakatobi - More Than Coral Reefs (Bag. 2)

Wanci, Pulau Wangi-Wangi

Wakatobi 022

Ibu kota Wakatobi ini terletak di pulau Wangi-wangi. Kepulauan Tukang Besi sendiri terdiri dari 4 kepulauan besar: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko, hence the popular name Wa-Ka-To-Bi. Saya akan ketemu dengan teman-teman di Wanci ini keesokan pagi, sebelum memulai perjalanan kami menjelajah Wakatobi.

Ojek membawa saya ke Penginapan Lamongan *loh kok Lamongan? Katanya di Sulawesi :D* di Jl. Merdeka, gak jauh dari pelabuhan. Saya tau penginapan ini dari Riri, ketika dia tau saya cari penginapan murah hanya untuk numpang tidur satu malam sebelum bergabung dengan grup Explore Indonesia esok hari.

Tempatnya bersih, kamarnya cukup luas untuk ukuran backpacker yang biasa umplukan di homestay, dan ya, ..murah :) Dengan 65 ribu Rupiah per malam saya mendapatkan kamar seluas 3x3,4 meter persegi *saya beneran ngukur nih :D*, double bed, TV dan kamar mandi di dalam. Bersih, nyaman, muat 4 orang kalo yang 2 lagi bawa sleeping bag.

 
Saya ketemu Ibu Rubina, pemilik penginapan, yang tanpa kata-kata langsung ngasih kunci dan mengantar saya ke kamar yang terpisah dari rumah induk. Ketika keesokan paginya saya keliling mau jemur handuk, baru lihat di bagian atas kamar saya berjejer kamar-kamar dengan kamar mandi dan TV di luar, 45 ribu per malam. Plus dibikinin teh manis pagi-pagi. Sedep kan?

Mas Mahrun dari Explore Indonesia jemput saya sekitar jam 9 pagi, lalu kami ke Hotel Wakatobi untuk bergabung dengan Indhi yang baru tiba dari Bau-Bau, P. Buton - *yup, ada Wangi-Wangi dan ada Bau-Bau, more story to this later :)*, naik kapal kayu kayak yang saya tumpangi tadi malam, dan Titi yang naik Express Air dari Ujung Pandang. Kami akan menjemput 2 orang lagi, Boetje dan Ciwi, di dermaga kecil gak jauh dari penginapan. Mereka datang naik kapal reguler dari Tomia, karena udah sampe duluan di sana beberapa hari sebelumnya untuk diving. Saya sama Indhi mewek kepengenaaaan..

Wednesday, October 14, 2015

Taman Nasional Wakatobi - More Than Coral Reefs (Bag. 1)

Wakatobi 009
"Selamat datang, di bumi surga nyata bawah laut, di jantung segitiga karang dunia."

- the writing on the gate of Wanci seaport,
Wangi-Wangi island,
Wakatobi, Southeast Sulawesi

Masih lekat di kepala ketika sore itu, di sebuah bioskop di pinggir kota, saya terpana menyaksikan film The Mirror Never Lies. Bukan karena bagusnya film buatan putri Garin Nugroho tersebut. Tapi karena indahnya setting film bagai bukan di bumi! Wakatobi. Wakatobi. Nama populer dari kepulauan Tukang Besi ini sontak terngiang senantiasa, tak mampu lepas dari pelupuk mata. Inilah surga nyata bawah laut di perairan Sulawesi Tenggara. Pusat segitiga karang dunia seluas 1,39 juta ha dengan 750 spesies karang dan 942 spesies ikan dengan spektrum warna terluas bagai permata tak tersentuh manusia. Penduduk yang berumah di atas laut, hilir mudik melalui laut, enggan meninggalkan laut sebagai sumber dan napas kehidupannya.

"Laut adalah cermin besarku," demikian narasi Pakis menutup film tersebut.

Ke sanalah saya menuju, dengan menumpang kapal kayu dari Kendari, di suatu pagi di akhir September 2011.


Kendari

A pretty place. When I was about to land, I looked down outside the plane window and was amazed by banyaknya peopohonan covering the land! Literally, trees, trees, trees everywhere. Riri picked me up at Haluoleo airport, a small airport named after a king of Konawe Kingdom yang menjadi figur pemersatu Sulawesi Tenggara karena pernah memimpin 5 kerajaan besar dalam waktu bersamaan: kerajaan Buton, Muna, Konawe, Kabaena dan Kaledupa. Haluoleo literally means "delapan matahari". Beautiful, isn't it? Love the way it sounds. Love the meaning of it.

When we roamed the town, syakwasangka saya akan pepohonan itu terbukti benar. Jalanan kota penuh pepohonan rindang di kiri-kanan, jalan berbukit-bukit, jalanan melintasi sungai yang hanya sepelemparan ranting dari muara, pantai, rumah walikota di puncak bukit, sungguh kota yang sangat cantik!


Monday, October 12, 2015

An Istighfar



Bismillah..

I used to think that life is damn simple. You do what you love, be happy, try not to commit sin, follow the five pillars of Islam. Then you'll go to heaven.

I used to follow where my heart led me to, because I believe it always speaks the truth.

I used to think that happiness is doing what I love.

I was wrong.

Life is still simple. But you are obliged to learn and do more than what's basics. Somewhere down the road, every life will be forced to take a new height on faith and taqwa. And it never stops, until you pass every test. Until your time finally comes, you are obliged to learn more, to understand more, to do more about your deen.

It is the only way to keep life to remain simple. It won't be if you deny the process. And therefore you deny Allah's love, for it is Allah's way to save your place in heaven. Allah wants you there. It is you who are too slow and too naive and too foolish to understand such real true love.

You don't follow your heart. As much as it is true, it is also prone to deception and it is your fitrah. You don't follow your heart, you follow where syariah leads you to, for it is the guidance Allah had written you to follow so you can arrive safely to your destination. Happiness is not doing what you love. You do what Allah loves, then happiness will come, and sometimes not in the forms you expect to see. As long as you feel Allah, it is happiness. Tears and laughter are just the same beauty.

So I have already a bunch of stuff I love. I have many things going. I used to think they are important. That they are my dzikrullah. My way to praise Allah. My deeds.

I was wrong again.


Kutitipkan Namamu dalam Doaku - Dari Suriah untuk Indonesia

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim)

Ini adalah sebuah cerita perjalanan tim Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) ke tanah di mana sayap malaikat-malaikat Allah terbentang untuknya. Negeri Syam, tepatnya Suriah. Di mana peperangan akhir zaman dimulai sudah.

Buku ini berpindahtangan usai kajian oleh salah satu penulisnya, Muhammad Pizaro. Khas catatan jurnalis, fakta-fakta disajikan lugas, just as it is.

Ada wawancara dengan beberapa ulama Suriah. Ada kisah interaksi dengan saudara-saudara muslimin. Anak-anak Suriah. Mereka semua.. mendoakan Indonesia.

Dengan langkah agak cepat dia berusaha menghampiri kami. "Akhi,.. Akhi,.. (saudaraku)," serunya. Dia menjabat tangan dan memeluk kami. "Semoga Allah menjagamu, wahai saudaraku. Semoga negeri kalian dalam keadaan damai dan dijauhkan dari mara bahaya. Semoga kita bisa berjumpa lagi, kalau tidak di dunia, in syaa Allah di akhirat nanti, aku tidak akan melupakan kalian dalam doaku," kata-kata terakhir darinya.
...
Dokter Romi mengajarkan sebuah untaian doa yang diikuti anak-anak pengungsi, "Allah hayyi Indonesia!! Allah hayyi Indonesia!! (semoga Allah memuliakan Indonesia)
Kami dengar beberapa dari anak-anak itu mengucapkan doa, "Semoga Allah memberkahi Indonesia." Yang lain mengatakan, "Semoga Allah menjaga kaum muslimin Indonesia."

Jika tanah Syam hanya dan hanyalah perkara kemanusiaan untukmu, dan gerakan boykot hanyalah semata gerakan moral dalam pemahamanmu, sebaiknya kamu sering-sering piknik ke kajian, atau mengetuk sendiri pintu hatimu yang rapat tertutup untuk sebungkah kecil ilmu yang mungkin bisa menyelamatkanmu dari kebodohan sekarang maupun nanti.