Sunday, July 24, 2005

Manusia, Lelahnya Menjadimu (the end)

Read previous chapter

Dalam kondisi divisi kami bagai kapal Titanic yang tenggelam perlahan, sementara sang kapten kapal tetap mempertahankan kesombongannya untuk tidak menerima kenyataan, Hanum dituntut untuk segera membentuk divisi barunya. Well, dalam keadaan seperti ini, banyak orang tidak siap ditinggal Hanum. Berkat kemurahan hati big boss, Hanum diperbolehkan untuk merangkap jabatan, selama masih diperlukan. Ia tetap di divisi Marty, sementara mempercepat pembentukan divisi barunya.

Sementara itu, kekompakan divisi kami sudah betul-betul di titik kritis. Kami terpecah antara pro Hanum dan pro Marty. Gimana dengan gue? Gue adalah orang yang ketiban sial, karena ada di tengah-tengah! Dua gajah berkelahi, yang mati rumput sekitarnya. Kalo cuma dituduh sebagai mata-mata sih gue gak peduli. Tapi yang paling berat, adalah ketika gue mengetahui dengan pasti bahwa, tanpa sepengetahuan Hanum, Marty menghapus hak akses Hanum ke database jaringan, sementara Hanum nanya ke gue kenapa dia gak bisa akses. Makanya, Riana, jangan sok-sok nyari aman, in the end, you must take side. It's easier that way.

Hingga datanglah akhir yang menyakitkan, di suatu sore di akhir minggu.
Hanum telpon gue dari Malaysia, divisi barunya memang berbasis di Malaysia.
"Ri, Senin nanti gue gak balik lagi ke Indonesia."
"Ow, lama ya? Sebulan?"
"Sampe lebaran tahun ini mungkin."
"Hah? Lama amat. Terus kerjaan yang di sini gimana?"
"Gue udah nggak boleh ngurusin lagi."
"Nggak boleh?"

Tiba-tiba suara Hanum bercampur tangis.
"Marty udah meng-cut gue dari semua pekerjaan gue di Jakarta."
Ow-my-God. This is it.
"Gimana dia bisa?"
"Bisa, Ri. Bagaimanapun dia orang nomor satu di divisi kita."
"Jadi, kita gak ketemu lagi nih? We didn't even have a chance to say goodbye!"
"Alaaah, kan lebaran gue balik. Lagian ada telpon dan email."
"I'm gonna miss you, you know that."
"I know. Give my kiss to everybody ya. Tell them to keep in touch."
"I will."


Seninnya, di kantor, gue masuk ke kantor Hanum. Duduk di sofa, melihat ke sudut-sudut kantor yang kosong. Bagaikan film hitam putih yang diputar ulang, gue teringat masa-masa ketika semuanya masih 'normal'. Ingat lembur sampe malam dengan suka rela dan senang hati. Makin malam, makin banyak ide. Pada jam-jam lembur, kantor diperlakukan bagai kamar sendiri. MP3 dipasang keras-keras, pizza dan soda, t-shirt dan jeans. Coretan gue di kaca jendela Hanum bahkan masih ada:
"No Normal People Allowed Here"
Ah.
Semuanya resmi berakhir hari ini. Selamat tinggal rumah keduaku. Akankah kutemukan lagi?

Singkat cerita, divisi Hanum berkembang sangat-sangat pesat. Tidak hanya nama perusahaan yang makin besar, Hanum dan teamnya dengan segera dikenal luas sebagai team yang paling bersemangat, solid, produktif. The team of happy people, mereka menyebutnya. Hanum berhasil mengulang kejayaan divisinya sewaktu masih di sini. Teman-teman di sini sangat bangga dan ikut bahagia. Bangga rasanya pernah digembleng oleh Hanum.

Bagaimana dengan Marty?
Sepeninggal Hanum, Marty merekrut banyak orang baru. They're alright. Tapi kami seperti jadi orang asing di rumah sendiri. Yang dulu kita saling memanggil nama, sekarang harus diembel-embeli panggilan sopan mas, mbak, pak, bu. Bukannya apa-apa, banyak dari mereka bahkan gak pantes menyandang panggilan itu! Suasana yang dulu jujur tanpa basi-basi, sekarang full basa-basi. Gak cuma itu, saking pada hobby banget basa-basi, gue sampe berasa lagi di dalem sinetron!
"Wah, gak nyesel deh minta tolong sama mbak anu. Udah orangnya cantik, baik hati lagi."
"Hebat ya mbak-mbak dan mas-mas semua."

"Terimakasih ya mas anu, teamnya bu Marty memang semuanya murah hati."
Apa siiiiihhhh???

Penghuni kantor sekarang full orang-orang yang 'sok heboh' padahal gak ada 'isi'nya, if you know what I mean. Belom lagi sok taunya. Udah jelas-jelas nggak nguasai materi, kok bisa-bisanya kasih penjelasan panjang lebar yang udah pasti salah dan ngarang bebas. Kita anak-anak lama cuma senyum-senyum 'neg di dalam hati, tanpa berusaha ngoreksi. Males!

Marty, berusaha mati-matian menguber kesuksesan Hanum. And I mean, mati-matian. Semua gebrakan Hanum ditirunya. Beberapa ide gebrakan itu memang ditelurkan bersama ketika Hanum masih di sini, jadi gak juga murni meniru sih.
Ia mengambil alih pekerjaan yang ditinggalkan Hanum dan menghandlenya sendiri. Ia ambil semua peluang yang ada, tanpa mengingat kemampuan diri. Bagai perlombaan yang gak jelas juri dan hadiahnya, ia berusaha memburu kesuksesan Hanum. Harus lebih baik dari Hanum. Lebih sukses. Lebih tersohor. Lebih, lebih...
Bedanya, layaknya seorang pemimpin sejati, Hanum melakukannya bersama dengan teamnya, sehingga sukses divisi adalah sukses milik bersama, karena semua individu berkembang bersama. Persis seperti masa jaya divisi kami dulu. Sedangkan sukses Marty adalah untuk dirinya sendiri. Teamnya tidak dibawa tumbuh bersamanya. Ia semakin sukses, teamnya tetap bodoh, if you know what I mean.

Marty tidak pernah istirahat. Ia bekerja nyaris 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Tubuhnya semakin kurus. Mata yang tadinya berbinar, kini 'celong', menyimpan banyak pikiran. Bagian paling menyedihkan dari itu semua adalah, ia selalu mengatakan bahwa everything is going great. While it is not.
Sebuah project yang merugi dikatakannya 'sukses luar biasa'.
Expo yang hanya dihadiri segelintir orang diakuinya sebagai 'membanggakan, sampai bikin terharu'.
Pertemuan yang tidak membuahkan hasil dibilangnya 'sebuah kerjasama yang manis telah terjalin'.
Rapat mingguan yang malas-malasan, useless dan gak efektif disebutnya 'sangat produktif dan menyenangkan'.
Suasana yang penuh basa-basi sinetron dipujinya sebagai 'teman-teman yang rame dan akrab'.

Marty, my friend. I hardly know you anymore.

Yang memahami keadaan ini hanya anak-anak lama, yang kian hari jumlahnya kian menipis, karena keberadaannya sekarang nyaris gak dipedulikan lagi oleh Marty.

Kabar dari Hanum, dalam kebahagiaanya sekarang, ia masih merindukan kelak Marty mau bergabung dengan dirinya. Ia tidak pernah membenci Marty. Bahkan ketika mendengar Marty sakit (Marty sempat jatuh sakit karena kelelahan), Hanum mengajak kami semua untuk menjenguk bersama. Ia rela terbang ke Jakarta demi terjaganya tali silaturahmi. Sayang rencana itu tidak kesampaian karena jadwal kami sulit dipertemukan.

Sampai saat gue resign, keadaan masih seperti ini, tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Marty semakin sering berbohong (dan semakin sering ketahuan) mengenai hidup dan karirnya. Lebih jauh lagi, karya-karya peninggalan Hanum diakui sebagai miliknya setelah terlebih dulu mengganti judul atau nama pemberian Hanum. Ia masih memutus tali silaturahmi dengan Hanum {walau secara diam-diam menyusup ke jaringan komputer divisi Hanum untuk memantau semua kegiatan team Hanum}. Suasana kantor masih seperti sinetron ibu-ibu arisan. Semua orang jalan di tempat, tidak ada pertumbuhan, tidak ada ide bermunculan.

Ketika gue resign, gak ada kata yang mampu terucap dari mulut menghadapi Marty yang kini menutup diri dengan mengenakan topeng penyangkalannya.
"Marty, jangan sakit lagi ya."
"Thanks, Ri,"
ujarnya sambil tersenyum manis. Dengan matanya yang kini 'celong'. Dan pipinya yang semakin tirus.

Gue menginggalkan kantor dengan air mata menggenang. Bukan karena kehilangan pekerjaan. Tapi karena tidak mampu memanggil seorang teman untuk keluar sejenak dari lubang pertahanannya. Dan gue merindukannya.

Ini kisah seorang manusia, yang gemar sekali pakai topeng. Tak peduli sakit raga dan jiwa, topeng tetap terpasang. Padahal ada lubang di mana mata asli tetap menyorot, mengabarkan derita hati. Satu-satunya jendela tempat ia menjerit minta tolong. Matanya lelah. Matanya jauh dari bahagia. Tapi topeng tetap dipakainya.

Topeng


The End

--oooo--

Gue tulis ini semua karena bagaimanapun, masih ada setitik harap di hati, bahwa dua kekuatan besar bisa kembali lagi. Masih ada rindu yang kerap meraja di hati. Bagai menantikan anggota keluarga yang terpecah belah untuk segera bersatu lagi. Karena gue termasuk salah satu yang menangis (literally) waktu menyaksikan 'rumah' yang dulu kita bina bersama hancur berantakan.

So, Marty, Hanum (if you guys are reading this), please don't be upset with me. You know at least I have to get it out of my system. And make a closure, my way.

I love you both. Peace.

Saturday, July 23, 2005

Manusia, Lelahnya Menjadimu (continued)

Read previous chapter

Nota itu tergeletak di atas mejanya, dalam keadaan terbuka. Hanum baru saja selesai membacanya. Ia termangu tak percaya. Ia tak mengerti ada apa. Ia belum mampu mencerna kata demi kata di dalamnya, tapi tak kuasa membacanya lagi. Sungguhkah ini Marty yang kukenal? Sahabatku, yang membangun divisi ini bersamaku? Merancang mimpi, mewujudkan mimpi, membina tim impian, bersamaku? Yang (kupikir) kukenal luar dalam, memperlakukanku setara tanpa memandang hirarki jabatan? Seorang pemikir yang sanggup mengejawantahkan kedalaman pikirannya ke dalam pekerjaan, sahabatku, sungguhkah ia yang menulis nota ini?

Nota itu berisi serenceng kebijakan divisi yang Hanum tidak pernah tau keberadaannya selama ini. Dua belas butir peraturan yang intinya mematikan semua ide Hanum menyatukan dua divisi itu. Dalam satu divisi tidak diperbolehkan ada sub divisi, tidak diperkenankan ada kemitraan, tidak dibenarkan ada project berbendera lain selain pimpinan Marty, dan butir-butir peraturan tidak masuk akal lainnya. Apa maksudnya ini? Marty 'mendirikan' divisi ini bersamaku, tidak pernah sekalipun ada peraturan konyol macam ini kami buat dan terapkan!

Setelah nota itu keluar, bisa diduga, Marty dan Hanum terlibat pertengkaran hebat. Diskusi yang berawal dengan tenang, berakhir dengan makian konyol khas perempuan. Hebatnya, Hanum dan Marty bisa menyembunyikan hal itu dari kami semua (lama sesudahnya baru gue tau hal ini).

Pada akhirnya, Hanum patah hati. Marty bergeming dengan keputusannya mengatakan 'tidak' untuk semua rencana Hanum, tanpa alasan selain 12 butir peraturan dadakan itu. Logikanya mengatakan, ia harus menerima kenyataan bahwa akhirnya nafsu manusia akan kekuasaan mengalahkan idealisme. Tapi hatinya menyangkal. Ia tidak bisa menerima, sahabat yang ia sayangi ternyata tidak lebih dari manusia dangkal yang menghuni sembilan puluh persen kantor di jalan Sudirman dan Kuningan. Tidak, Marty bukan manusia seperti itu. Ia idealis, sensitif, punya kedalaman. Namun bagaimanapun, hati yang patah tidak mampu berbohong.

Di tengah kekecewaan dan kepedihan hatinya, dengan bijaksana Hanum memutuskan untuk menunda pembentukan divisi barunya (untungnya big boss bisa dibujuk). Hanum dan Marty pun bekerja seperti biasa, walaupun Marty kini banyak menutup diri dan menolak membicarakan perihal 'serenceng peraturan' itu lebih mendalam. Hanum tetap menjalankan project-project yang jadi tanggungjawabnya, tapi Marty seperti tidak peduli dan tidak mau terlibat di dalamnya. Di titik inilah gue mengetahui, something is going wrong in our department. Karena Marty tidak terlihat di tiap project yang ditangani Hanum. This is not right. Rupanya tidak hanya gue yang merasakan keanehan itu, tentu saja. Teman-teman lain pun bertanya-tanya, ada apa dengan 'the dynamic duo'? Beberapa orang menanyakan langsung ke Hanum. Hanum menceritakan dengan terbuka apa yang terjadi. Banyak dari kami yang kecewa dan tidak mengerti. Termasuk gue.

Tapi memang tidak ada yang menanyakan langsung ke Marty, karena memang selama ini Hanumlah yang banyak berfungsi sebagai pengayom, penyambung lidah, tempat kami bisa bicara dari hati ke hati, bukan Marty. Hanum adalah perekat. Walaupun semua membuka diri akan kemungkinan adanya cerita 'versi Hanum' dan 'versi Marty', namun seperti dikomando, tidak ada yang bertanya langsung ke Marty. Semua memilih untuk menunggu dan berusaha tidak terlibat. Berusaha netral, walau tidak melulu berhasil.

Bagaimanapun faktalah yang berbicara. Beberapa orang teman mulai mengeluh mengenai Marty yang membatasi ruang gerak mereka tanpa alasan. Membatalkan proyek, menentang ide-ide ke arah kemajuan individu, menjegal mereka yang mencoba membuat inovasi. Ini bukan Marty yang mereka kenal!
Tanpa diminta, mereka datang ke Hanum, tempat mereka mengadu. Keluh kesah mereka ditanggapi Hanum dengan rasa prihatin yang mendalam, dengan hati yang semakin remuk.

Bisa ditebak kelanjutannya, gunjingan pun menyebar. Kami terpecah belah. Suasana kerja berubah seratus delapan puluh derajat. Kami bekerja dalam kecemasan. Takut salah, merasa tak aman, sedih.
Marty, yang seolah menutup mata dari situasi ini, memilih untuk diam. Penjelasan paling panjang yang pernah gue dapatkan darinya adalah,"Gue gak pernah ngelarang siapapun untuk berkembang, Ri. Hanya saja, jangan ngambil enaknya aja dari divisi ini. Proyek-proyek kita harus tetap berbendera divisi, bukan hasil karya individual. Bukan proyek ini pimpinan si anu, proyek itu buatan si itu. Hanum aja yang salah mengerti, dia pikir gue ngelarang-larang dia bikin ini itu. Gue gak ada waktu ah, ngurusin salah paham gak mutu kayak gitu. Capek. Dari dulu Hanum emang tersinggungan melulu sama gue."

Situasi kantor semakin parah. Inisiatif memudar. Kebosanan mampir setiap hari. Tidak ada ide segar. Meeting rutin yang dulu selalu ditunggu-tunggu, sekarang bagai momok yang setengah mati dihindari. Absensi karyawan kacau balau. Ruang kerja yang biasanya hangat dengan diskusi, kini sepi bagai kuburan. Suasana tegang. Semua malas berkomunikasi. Semua tak sabar menunggu jam pulang. This division is going down.

to be continued

Friday, July 22, 2005

Aneh!

Rumah Tomang dijual lagi!
Aneh!

Rumah peninggalan bokap nyokap gue ini baru terjual beberapa bulan lalu. Pembelinya sepasang suami istri pengusaha kaya raya, keturunan Cina.

Sesungguhnya, keanehan demi keanehan memang mewarnai jalan cerita penjualan rumah ini. Hanya karena gue sekeluarga percaya kekuasaan Allah, jadi keanehan-keanehan itu gak terlalu kita pikirin.

Berawal ketika sepasang suami istri calon pembeli rumah, datang ke rumah untuk nanya-nanya. Anehnya, si ibu ini gak mau masuk ke rumah. Kita persilakan beliau untuk liat-liat kondisi di dalam rumah, tapi dia, sebutlah ibu Yuli, bilang gak usah.

Ketika harga sudah disepakati, ibu Yuli beberapa kali datang lagi ke rumah untuk urusan surat-surat. Tapi tetap dia gak mau liat-liat ke dalam! Aneh! Paling jauh dia cuma duduk di ruang tamu. Alasannya,"Bangunannya nanti mau kita rubuhin, dan dibangun rumah baru untuk anak saya. Itung-itung saya beli tanahnya aja nih. Jadi gak usah liat-liat ke dalam, toh gak bakalan kita pake juga rumahnya."
Hmm.
Masuk akal sih. Tapi teteb aja aneh! Walopun itu rumah bakalan langsung dirubuhin, normalnya sih kita teteb liat-liat duonk ke seluruh penjuru rumah. Masak kita gak tau apa yang kita beli sih. Aneh!

Gue sendiri ketemu sama Bu Yuli dan suaminya cuma 2 kali. Pertama, ketika mereka dateng pertama kali nanya-nanya. Kedua, ketika tanda tangan akte di notaris. Baru pada perjumpaan kedua ini gue sempet ngobrol dan merhatiin mereka.
Mereka adalah pemilik beberapa pabrik rokok di sebuah kota di Jawa Barat, punya beberapa rumah di Tomang juga, yang ditempati oleh anak-anaknya. Dari cerita kakak gue yang sering ngobrol sama dia, mereka ini super duper kaya raya. Tapi yang bikin gue terkesan adalah, penampilannya sederhana banget untuk ukuran orang sekaya dia.
Si ibu rambutnya biasa aja, gak disasak tinggi, gak diblow kruwel-kruwel ala orang kaya nanggung yang keberatan image daripada dompet. Makeup dan bajunya juga biasa, sederhana, tapi rapi, bersih dan wangi.
Si bapak juga begitu. Cuma pake polo shirt yang gak mahal, pake sandal bapak-bapak biasa. Kayak penampilan Ayah alm. kalo mau makan sop kaki kambing di Jalan Biak.
Cara bicara mereka bersahaja, logat Cina-nya udah ilang, tinggal logat Jawa Barat. Kepribadian mereka juga hangat, dan sangat-sangat rendah hati.
Singkat kata, gue sangat terkesan dengan ke-humble-an dan kebersahajaan mereka.

Kembali ke soal aneh-aneh tadi. Keanehan kedua terjadi ketika kita sibuk packing barang-barang. Entah siapa yang nemuin pertama kali, di salah satu kamar terlihat pasir berserak di mana-mana! Di lantai, tempat tidur, meja rias, di bawah kardus-kardus, di kolong lemari, pasir semua!
Kami mencoba merasionalisasikannya dengan berlogika, mungkin ini tanah sisa banjir (beberapa hari sebelumnya hujan lebat, ada sedikit air masuk ke rumah). Tapi kenapa baru terlihat sekarang?
Ketika gue dateng ke Tomang siang itu, gue belom dikasih tau mengenai pasir itu. Gue taunya ketika pulang, dianter kakak gue naik mobil peninggalan Ayah. Mobil Corona '76 ini dulu dirawat Ayah dengan segenap cinta dan jiwa raga. Berpuluh tahun mobil itu dipake sama Ayah, kondisinya teteb luarrrr biasaaa {cuma sekarang aja dipegang kakak gue jadi rombeng deh, hehehe...}. Nah, ketika gue masuk ke dalem mobil, di jok mobil banyak pasir! Gue pikir kakak gue aja yang jorok nggak ngebersihin mobil, tapi kemudian suami gue bilang,"Lho di sini juga ada pasir!" Baru deh gue diceritain.

Keesokan harinya baru gue nengok ke kamar yang kemarin bertabur pasir itu. Walaupun sebagian udah dibersihin, gue sempet liat pasir-pasir yang di bawah kardus. Cukup banyak dan tebel. Aneh!

Semua itu sih gak kita pikirin. Allah maha kuasa. Dia bisa bikin apa aja, melalui perantara apa aja. Gak ada yang aneh di tangan Allah.

Sekarang udah beberapa bulan lewat. Rumah sudah berpindah tangan. Kakak-kakak yang tinggal di rumah itu sudah berumah di tempat lain, di kota lain. Gue udah gak pernah ke situ lagi. Mostly karena takut nangis kalo lewatin rumah itu.

Tiba-tiba muncul keanehan berikutnya.

Suatu hari, kakak gue ditelpon sama sahabatnya yang masih tinggal di dekat rumah itu.
"Ni, rumah loe kok dijual lagi? Katanya mau dirubuhin sama yang beli?"
"Hah?"
"Iya, gue tadi lewat rumah loe itu. Terus ada papan nama Ray White "Dijual"."
"Yang boneng loe?" Kakak gue setengah gak percaya.
"Iya bener! Ada nomor telponnya. Nanti coba gue telpon deh, pengen tau dijualnya berapa."

Kakak gue yang lain, begitu ngedenger berita ini, langsung nuduh bahwa kita udah ditipu. Bahwa mereka sebetulnya adalah orang Ray White juga, yang berlagak jadi pengusaha, tapi sebenernya cuma cari makan dari selisih harga gede aja. Mungkin juga sih. Tapi setelah temen kakak gue ini nelpon ke nomor telpon yang ada di papan Ray White itu, ternyata harga yang ditawarin gak jauh-jauh dari harga yang dia beli. Kalo diitung sama biaya balik nama yang udah dia keluarin, malah jadi impas. Aneh!

Mungkin dia betul penipu, orang Ray White yang ngambil untung barang beberapa juta? Atau betul dia pengusaha tapi jatuh bangkrut? Atau fengshui rumah itu gak bagus menurut dia? Kenapa baru sekarang? Aneh.

Not that it bothers my life sih, doesn't make any difference juga. It's just weird ajah.

Tapi, for fun, gue tetep pengen cari tau ada apa :)
Stay tune.

Update on this story
This entry was posted in

Wednesday, July 13, 2005

Manusia, Lelahnya Menjadimu

Ini kisah seorang manusia, yang gemar sekali pakai topeng. Tak peduli sakit raga dan jiwa, topeng tetap terpasang. Padahal ada lubang di mana mata asli tetap menyorot, mengabarkan derita hati. Satu-satunya jendela tempat ia menjerit minta tolong. Matanya lelah. Matanya jauh dari bahagia. Tapi topeng tetap dipakainya.

Dia boss divisi gue di kantor dulu. Cewek. Orangnya gesit, pinter ngeliat peluang, pekerja keras, ambisius, kompetitif. Sangat sangat kreatif, artistik, mandiri. Namanya Marty.
Bu Marty punya 'tangan kanan', bawahannya langsung, yaitu Hanum. Hanum melengkapi semua yang tidak dimiliki Marty. Pengalaman yang lebih banyak, pengetahuan lebih luas, motivator sejati, sifat mengayomi, kebijakan seseorang yang bekerja ikhlas untuk melayani orang lain.
Mereka berdua saling mengagumi, saling hormat, saling membutuhkan. Di bawah pimpinan 'the dynamic duo' ini, divisi kami jadi divisi paling kompak, paling banyak membuat kontribusi, dan ultimately, paling bahagia.
Di divisi kami, setiap hari adalah hari baru. Setiap orang bersemangat, berwajah cerah, akrab, penuh ide, penuh motivasi, saling percaya, merasa aman. Setiap hari tidak sabar ingin segera bertemu dan membahas ide baru. Suasana kerja sangat cair, sangat sehat {kita bahkan saling memanggil nama, tanpa embel-embel 'pak', 'bu', 'mas', 'mbak'. Cool, huh?}. Setiap orang bertumbuh bersama, belajar bersama. Ini adalah rumah kedua kami.

Suatu hari, boss besar berencana membuka sebuah divisi baru, dan menunjuk Hanum untuk memimpin divisi tersebut. Kami semua gembira untuk Hanum dan mendukung rencana itu, bagaimanapun ini suatu kemajuan untuk Hanum. Walaupun belum tau juga, gimana nanti dengan Marty dan divisi kami, tanpa ada Hanum di dalamnya? Beberapa orang mungkin berperasaan mendua, tapi gue nggak. Gue berpikir, bagaimanapun Hanum masih around. Masih akan ada untuk kita. Hubungan kita toh gak akan terganggu. Dan yang penting, ini adalah langkah maju untuk Hanum dan kita gak boleh menghambatnya.

Ketika rencana semakin matang, Hanum mendatangi Marty dengan satu ide brillian.
"Marty, gue punya ide bagus!"
"I'm listening."
"Bentar lagi gue kan bakalan diserahin divisi baru. Nah, gimana kalo kita gabungin aja divisi tersebut dengan divisi kita ini?"
"Maksud loe?"
"Iya, kita pimpin divisi gabungan ini berdua! Isn't it great?"
"Details, please........"
"Jadi, kita bermitra, seperti firma-firma hukum itu. Bayangin kalo digabung, divisi kita powerfulnya kayak apa coba? Kita bisa nanganin project lebih banyak, lebih besar, network kita akan lebih luas. Kita bisa bikin apa aja, Mar! Sub divisi gue akan menguntungkan sub divisi loe, dan sebaliknya. Gimana?"
"Ummm...,"
Marty ragu-ragu.
Hanum terus bicara dengan berapi-api.
"Kita tetap ngerjain project-project kita masing-masing, tapi kali ini kita punya sources lebih banyak, karena loe bisa memanfaatkan sources di sub divisi gue dan gue memanfaatkan yang loe punya. Lebih dari itu, kita teteb bisa ngerjain semua mimpi-mimpi kita yang belom kesampean, sebagai project gabungan, didukung tim kita yang udah solid, gitu loh!" Pake 'gitu loh' lagi, hihihi... Hanum, Hanum...
"Bayangin, Mar. Kita bisa wujudin semua yang selama ini cuma jadi wacana. Kita gak berpisah, justru kedatangan tim baru yang akan kita bina sama-sama. Divisi kita akan lebih powerful dan posisi kita semua makin strategis kalo kita bergabung!"
Hanum mengoceh panjang lebar menjelaskan visi, rencana, dan ide-idenya. Namun melihat Marty yang tetap ragu dan cenderung dingin, Hanum mendadak merasa ada yang salah. Kenapa dengan sahabatnya ini?
"Ada sesuatu, Mar?"
Marty hanya menjawab pendek, "Aku pikirin dulu ya. Nanti aku kabarin."
Marty seperti masuk ke dalam tempurungnya dan tidak keluar lagi.

Hanum sabar menunggu. Hingga tak lama setelah kejadian itu, sebuah nota mampir ke mejanya. Nota yang seolah menghantamkan godam ke jantungnya dan menikam hatinya. Nota yang meninggalkannya dalam ketidakmengertian. Nota yang membuat hatinya patah.

to be continued

Monday, July 11, 2005

The Land of a Thousand Mosques!

Kuta Lombok

Bagaimana menceritakan Lombok dengan sederhana?
Pulau cantik nan perawan

[membuat Bali tak ubahnya
janda sembab bermulut bising,
 dengan makeup norak dan renda kumuh].

pasir merica bulat

Pantai sunyi,
berpasir merica bulat,
berlaut biru tosca.

Lombok yang tenang,
Lombok yang sepi.

Tanah seribu mesjid!


The land of a thousand mosques!

penyu dan ikan


Hiu
kecil,

penyu-penyu bermata sayu,
berwajah ramah,

ikan warna-warni
berombong-rombong.



kerang-kerang, mutiara-mutiara


Kilau mutiara,

kilau kerang-kerang,

pendar Putri Nyale.





Jalan berliku menyusur tebing,
di atas punggung bukit.

Tahi kuda,
rumput gersang,
sapi kurus.
Busung lapar.

jalan panas

Lombok yang tenang, Lombok yang sepi.
Bagaimana menceritakanmu dengan sederhana?

..