Saturday, April 30, 2011

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)

...Dalam linangan
air mata

saya menyadari
satu hal...
Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentang dari kaki buaian hingga lubang kuburan*) untuk mencari cinta Allah semata, maka setiap hela nafas, tapak langkah, bulir keringat, kerja, karya, derita, bahagia, pikiran, segalanya, adalah dzikir dan ibadah dalam segala manifestasinya. Tidak ada yang percuma, tidak ada yang sia-sia. Saya mencurahkan segala kemampuan untuk berkarya, berusaha menjadi manfaat, dalam bentuk apapun, lalu berkata, "Inilah dzikir saya, inilah perjuangan saya, kendaraan saya." Tidak harus berlabel agama, karena toh saya meniatkannya untuk mencari ridho Allah. Saya tidak terlalu suka segala sesuatu yang terlampau dilabeli dengan agama tertentu. Tanpa harus mengusung bendera tertentu, agama sudah seharusnya menjiwai setiap langkah kehidupan manusia karena itulah panduan hidup manusia. Tanpa label apapun, agama sudah terpancar dengan sendirinya. Universal, natural, sesuai fitrah manusia.