Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2017

Mereka Yang Tak Hendak Beranjak Dari Laut - Suatu Sore di Desa Sama Bahari (TN Wakatobi Bag. 8 Selesai)

Nama aslinya Kampung Bajo Sampela. Terletak di atas laut karena tak hendak mereka beranjak dari laut. Laut bening turkois itu adalah tanah, pekarangan, tempat bermain, ladang penghidupan, tempat mengabdi. Sak-kampung itu ya di atas laut. Jalan-jalan kampung adalah jembatan-jembatan penghubung antar rumah. Kendaraan yang terparkir di "garasi" dan hilir mudik di bawah adalah perahu-perahu sampan. Leyeh-leyeh piknik adalah mengapung-apungkan tubuh di permukaan laut bening.





Terumbu Karang Perawan Sejauh Mata Memandang (TN Wakatobi Bag. 7)

Perjalanan menuju lokasi yang dijanjikan Pak Hamid diselingi berkali-kali perahu harus mematikan motor perahu, karena bertemu dangkalan yang penuh terumbu karang segar cantik warna-warni. Motor perahu harus dimatikan agar terumbu karang tidak ada yang terluka. Setiap kali kami mendayung di atas dangkalan-dangkalan itu, wajah-wajahnya siap nyebur, haha. Kata Pak Hamid, beluuuum.. Jadi ya, dangkalan-dangkalan itu buanyaaaak sekali. Dan full taman bunga!

Akhirnya kami keluar dari kelungkung pulau-pulau kecil, tiba di tengah laut biru donker navy yang keren. Nelayan bertebaran di mana-mana, kami mendekati salah satu nelayan dan membeli seember besar ikan segar yang baru ditangkap. Harganya, lima puluh ribu seember besar!

Pak Hamid mengatakan ia dan crew akan ke pantai untuk memasak ikannya. Lalu tetiba ini terhampar di hadapan kami:



Masya Allah, sejauh mata memandaaaaaaaaaaaaaaaang..
Saya sempat perkirakan luasnya, kira-kira mungkin lima kali lapangan bola, maybe more! Full warna-warni te…

Pagi di Lentea (TN Wakatobi Bag. 6)

Sebuah pagi yang erat lekat di ingatan, salah satunya adalah pagi itu di Lentea. Terbangun subuh ketika masih gelap, wudhu, subuhan. Bau kayu tersentuh embun dan udara subuh, seketika membawa ingatan saya ketika kecil dulu di kampung ayah dan mama di Pagar Alam. Sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang udaranya super duper dingin. Rumah panggung kayu besar milik nenek.

Tidak menunggu lama hingga kami bergegas ke teras rumah sehabis subuhan. Tidak mau keduluan matahari! Subuh biru! Laut lepas tenang, airnya surut hingga cukup jauh. Foto-foto jelang sunrise super cantik dirasa ada yang kurang. Indhi nyuruh mas Mahrun naik perahu ke tengah laut, demi supaya ada siluet perahu lewat dengan manusianya, hahaaa.. Jual kemana habis ini fotonya, 'Ndhi? Natgeo yaaaa...




إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang…