Wednesday, June 29, 2005

Good Old Diary

Dari SD gue seneng nulis jurnal dalam bentuk apapun. Dan ternyata kegiatan fisik menulis pake kertas dan pulpen lebih merangsang gue daripada pake kompie dan ngetik.
Inget dulu jamannya punya diary, tiap mau tidur gak asik rasanya kalo gak nyoret dulu di diary. Apa kek. Puisi. Prosa. Cerita. Lagu. Kadang isinya cuma: "Capek. Ngantuk. Tidur ah."

Seneng rasanya punya tempat menyendiri. Kalo udah nulis di situ, yang ada cuma gue dan temen khayalan gue. Atau gue dan ruang kosong. Atau gue dan apapun yang gue mau. Atau gue sendirian ngoceh gak ketentuan. Seperti punya rumah pohon yang tangganya bisa gue tarik ke atas supaya gak ada orang yang dateng. Seperti punya goa semak di atas sungai kecil yang terlindung dari pandangan orang. D.i.s.c.o.n.n.e.c.t.e.d from the world.

Waktu SD, gue punya diary bareng sama Tia. Isinya kebanyakan sih lagu-lagu sama puisi sok gila gitu. Di masa kuliah, temen pe-es gue si Avin, memprakarsai diary bareng, yang dia kasih nama La Divina. Yang ngisi temen-temen pe-es: Mingki, Sandy, Avin, Gue. (Diary ini gue temuin 2 bulan lalu waktu ngosongin rumah Ayah-Mama). Gue pikir mereka sih pasti udah pada gak mau baca itu buku, but anyway, gue simpen aja deh. Bukti sejarah menunjukkan, barang-barang yang menyimpan data akan berguna untuk orang lain di jaman lain di masa depan.

Di masa awal-awal teknologi blog (pyra), gue punya satu blog personal yang gak meant to be dibaca orang. Alamatnya gak pernah gue announce, gak diikutsertakan dalam list-nya blogger, temen gue si Kukuh pernah nanyain blog gue, gue gak kasih tau. Jadi bener-bener cuma gue yang baca, kayak diary konvensional gue dulu. Kayaknya kok lebih enak ya. Isinya sih sama aja. Tapi gue bebas nyebut nama orang, nama tempat, tanpa takut ada apa-apa. Kayaknya gue mau gitu aja deh.

Waktu gue bikin blog ini, sama juga, bukan untuk dibaca orang. Satu dua orang nanyain, gue kasih linknya. Tapi gue bikin kesalahan elementer, yaitu kebawa arus blogging. Di mana orang akhirnya sibuk dengan kegiatan bloggingnya, bukan nulisnya. Meaning, sibuk kepengen blognya dibaca, banyak feedback, banyak yang mampir, sibuk ngedandanin blog, sibuk nambahin fitur-fitur, sibuk ngumpulin foto untuk dipejeng, sibuk ikutan event blog, etc. Yaaaaaaaaaaaaah, khas orang norak punya website deh. Sampe akhirnya gue tersadarkan, kok gue bukannya asik nulisnya, tapi malah jadi budak blogging nan hina dina? Kalo gue punya diary, gue kan gak ngecek itu diary tiap hari untuk liat ada komen gak di tagboard? Karena gak ada yang baca, maka gak ada yang komen, maka gak ada komen yang kudu ditanggepin tiap hari? Diary butut gue itu kan gak perlu didandanin? Kalo liat ada yang lucu di toko, kan gak berpikir "lucu nih ditarok di diary gue", secara bakal apaan?

I'm losing the essence of writing. The essence of owning my own quiet spot in life. This, has got to be changed.

Sunday, June 26, 2005

Long Time Friendship: Part Two

Read Part One

Pernahkah kamu punya teman, yang sangat kamu kagumi, yang kamu look-up to? Sehingga kamu merasa beruntung sekali bisa berteman dengan dia? Kamu senang sekali berteman dengan dia, sehingga saat-saat main bersamanya adalah saat yang kamu tunggu-tunggu? Pernahkah?

Tia - Kade - Trully

Ully was a very smart and talented girl. Smarter and more talented than Tia and me added together. She's artistic, fun, original, and for me she's uniquely pretty. We admired and adored all of her qualities. I, specifically, wanted to be like her.

After Junior High was done, Tia and I went to SMA 3, Ully went to SMA 1. We naturally never hung out anymore. One day, I was in a bus taking me to.. (I forgot where), suddenly I saw Ully got into the bus. I was like "omigosh, how are you?", beaming with happiness to bump into her. She coldly said "hi" with forced smile that was not even successfully appeared. Before I could realize what happened, a girl got into the bus and obviously it was her friend. I know that girl, she went to the same junior high with me, and apparently she went to the same senior high with Ully. They said hi to each other nicely and chatted all the way to their destination. They both were standing right beside me and both were ignoring me. I barely know that girl, except that she rarely smiled. But Ully, man, I never saw this coming. I thought we had great times together. I thought losing touch with her was something natural. I thought she liked me.

It took me days to digest it, and still I didn't know why she treated me that way. We never had any fights, we were so close with each other, we.... liked each other [I thought so. Obviously I was damn wrong]. Eventually I chose to ignore what happened that day, although my subconscious could not. I was hurt, but in denial. My dearest friend could not possibly do such thing. She must have had a logic explanation.

I thought I figured out why, when one day, out of nowhere, I got this very strange phone call.

..to be continued..

Friday, June 24, 2005

Skeleton in the Closet

...
My brother is a drug addict.

There, I said it. Loud and clear.



Sebagaimana tidaklah ia dititipkan kepada Ayah & Mama melainkan sebagai cobaan, rupanya kini Allah menitipkannya pada kami.

Sebagai cobaan tambahan. Dan sebagai perekat kami bertujuh.
So we'll keep bonding. So we can never afford to be torn apart.
...

Saturday, June 18, 2005

in denial

...
My mother in law masuk rumah sakit kemarin sore. Topaz nungguin di rumah sakit malem ini.
Semuanya terjadi dengan sangat beruntun. Persis seperti dulu. Ketika Ayah-Mama memulai era tuanya. Ketika semua anak-anaknya dalam keadaan 'in denial'.

Mukena"Nggak. Mama hanya sakit sebentar. Sebentar lagi akan sembuh. Seperti kemarin-kemarin. Akan kembali menjahit lagi. Ngurus tanaman lagi. Seperti kemarin-kemarin."

"Nggak. Ayah adalah orang dengan fisik dan mental terkuat. Nggak pernah sakit. Dan nggak pernah mau sakit. Hanya karena udah tua, sekarang Ayah sakit. Nanti juga sembuh lagi. Dan main catur lagi. Dan makan sop kambing lagi di Kedai Biak. Seperti kemarin-kemarin."

Tidak terucapkan memang. Hanya bergaung di ruang pikiran. Menyangkal keadaan. Menolak kepastian.

Semua in denial. Termasuk gue tentu.

Mamanya Topaz, yang gue panggil Mama juga, mulai masuk ke era tuanya. Gue menyaksikan urut-urutan yang persis sama dengan yang gue alami.

Topaz yang masih mengira Mamanya masih seperti dulu, sehingga sering kecewa. Karena bagaimanapun, beliau kini bukan yang dulu. Seorang manula, adalah seorang yang baru. Punya sifat dan kebiasaan baru. Punya cara pikir dan tujuan hidup baru. Dan tidak semua anak mau menerima keadaan ini, secara sadar maupun tidak. Semua dalam penyangkalan. Semua ingin orangtua mereka akan terus muda dan hidup. Dan terus ada bersama mereka. Seperti gue dulu.
...

Friday, June 10, 2005

Satu, Dua, Tiga, Gunting Kartu Kreditnya!

Empat, lima, enam, bebas dari semua hutang!

Ini kartu kredit kedua yang gue gunting sejak bulan lalu. Kartu yang pertama, ANZ Visa, dengan gampang gue tutup lewat telpon, dan langsung gue gunting... pletek! Horeee...!

Kartu yang ini, rada susye. Dipersulit terus sama petugasnya. Setelah sebulan, akhirnya tadi sore dengan resmi ditutup, setelah 3 menit ngedengerin rayuan customer service, yang ketawa putus asa waktu gue dengan manis dan nyantai teteub teguh,"Saya tutup aja dehhh..." Huekekekekk!!

Kartu yang ketiga, lebih susyah lagi. BII Visa. Harus bikin surat pernyataan dan dibawa langsung ke bank! Iiiiih, retarded!
Senin besok mau gue sampein tuh surat. Dan dengan demikian akan terbebaslah gue dari segala urusan hutang, yipiiieeeeee...!!

Ada apa dengan gue dan kartu kredit? Yang buat sebagian orang justru jadi sahabat setia? It's whole another story. Yang pasti, gue bukan orang yang gila belanja. Dan justru sangat benci sama kartu kredit. Umm... nanti aje deh gue ceritanye yeee... Sekarang gue mau bikin Orange Cake dulu. Hihihi...

Look at me, I'm a free woman!

Satu, dua, tiga, gunting kartu kreditnya
empat, lima, enam, bebaskan semua hutang!

Thursday, June 09, 2005

Skenario Sang Maha Sempurna

Martunis among Portugal football team members
(Foto: Kompas)

Sang Ibu tiba di surga, tanpa hisab, karena mati syahid.
"Ya Khalik, apa artinya kebahagiaan surga ini, jika titipanMu kutinggalkan terlunta-lunta di dunia?"
Pinta seorang ahli surga, yang sekejap terlaksana:
"Berikan ia tempat bernaung yang aman, pendidikan yang cukup, masa depan yang terjamin. Berikan ia mimpi-mimpinya, kabulkan apapun yang ada dalam benaknya saat ini, ya Sang Penentu Suratan."

Martunis tengah memunguti sisa makanan yang bisa ia makan, di tengah alam yang porak poranda. Benaknya melayang ke tim sepak bola Portugal kesayangannya. Luis Figo yang hebat. Coba aku bisa ketemu dia. Main bola sama dia. Sama Cristiano Ronaldo, sama Deco Souza. Liat lapangan bola tempat mereka latihan. Main bola di lapangan mereka! Wuaaah, pasti asik sekali!
Oya, tahun depan piala dunia. Senangnya! Coba aku bisa nonton langsung di Jerman. Wuah! Liat nih (sambil menendang batok kelapa), liat bola ini kutendang, seperti tim Portugal mencetak gol!

Seorang reporter televisi Inggris merekam wajah lugunya. Bening matanya. Sosok kurusnya, yang terbalut kaus merah, seragam tim sepak bola Portugal buatan lokal, dibeli ibunya murah di pasar.

Rekaman itu tersiar ke seluruh penjuru dunia. Dan skenario Sang Maha Penulis Cerita pun mulai terbaca manusia. Untuk Martunis, yang ibunya sudah di surga, dan berdoa untuk kebahagiaannya. Untuk si bocah Aceh berwajah cerdas, bertelinga tinggi, berani bermimpi, dan baru saja jadi bagian dari keluarga besar tim Portugal. Yang kini punya tempat bernaung yang aman dan jaminan pendidikan yang cukup. Dan tahun depan akan nonton Piala Dunia langsung di Jerman!
Related Posts with Thumbnails