Skip to main content

Skenario Sang Maha Sempurna

Martunis among Portugal football team members
(Foto: Kompas)

Sang Ibu tiba di surga, tanpa hisab, karena mati syahid.
"Ya Khalik, apa artinya kebahagiaan surga ini, jika titipanMu kutinggalkan terlunta-lunta di dunia?"
Pinta seorang ahli surga, yang sekejap terlaksana:
"Berikan ia tempat bernaung yang aman, pendidikan yang cukup, masa depan yang terjamin. Berikan ia mimpi-mimpinya, kabulkan apapun yang ada dalam benaknya saat ini, ya Sang Penentu Suratan."

Martunis tengah memunguti sisa makanan yang bisa ia makan, di tengah alam yang porak poranda. Benaknya melayang ke tim sepak bola Portugal kesayangannya. Luis Figo yang hebat. Coba aku bisa ketemu dia. Main bola sama dia. Sama Cristiano Ronaldo, sama Deco Souza. Liat lapangan bola tempat mereka latihan. Main bola di lapangan mereka! Wuaaah, pasti asik sekali!
Oya, tahun depan piala dunia. Senangnya! Coba aku bisa nonton langsung di Jerman. Wuah! Liat nih (sambil menendang batok kelapa), liat bola ini kutendang, seperti tim Portugal mencetak gol!

Seorang reporter televisi Inggris merekam wajah lugunya. Bening matanya. Sosok kurusnya, yang terbalut kaus merah, seragam tim sepak bola Portugal buatan lokal, dibeli ibunya murah di pasar.

Rekaman itu tersiar ke seluruh penjuru dunia. Dan skenario Sang Maha Penulis Cerita pun mulai terbaca manusia. Untuk Martunis, yang ibunya sudah di surga, dan berdoa untuk kebahagiaannya. Untuk si bocah Aceh berwajah cerdas, bertelinga tinggi, berani bermimpi, dan baru saja jadi bagian dari keluarga besar tim Portugal. Yang kini punya tempat bernaung yang aman dan jaminan pendidikan yang cukup. Dan tahun depan akan nonton Piala Dunia langsung di Jerman!

Comments

  1. Ri, gue juga baca tuh berita ttg si Martunis :) hebat banget anak itu bisa bertahan hidup :) Have a nice day, Rie

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …