Skip to main content

Long Time Friendship: Part Two

Read Part One

Pernahkah kamu punya teman, yang sangat kamu kagumi, yang kamu look-up to? Sehingga kamu merasa beruntung sekali bisa berteman dengan dia? Kamu senang sekali berteman dengan dia, sehingga saat-saat main bersamanya adalah saat yang kamu tunggu-tunggu? Pernahkah?

Tia - Kade - Trully

Ully was a very smart and talented girl. Smarter and more talented than Tia and me added together. She's artistic, fun, original, and for me she's uniquely pretty. We admired and adored all of her qualities. I, specifically, wanted to be like her.

After Junior High was done, Tia and I went to SMA 3, Ully went to SMA 1. We naturally never hung out anymore. One day, I was in a bus taking me to.. (I forgot where), suddenly I saw Ully got into the bus. I was like "omigosh, how are you?", beaming with happiness to bump into her. She coldly said "hi" with forced smile that was not even successfully appeared. Before I could realize what happened, a girl got into the bus and obviously it was her friend. I know that girl, she went to the same junior high with me, and apparently she went to the same senior high with Ully. They said hi to each other nicely and chatted all the way to their destination. They both were standing right beside me and both were ignoring me. I barely know that girl, except that she rarely smiled. But Ully, man, I never saw this coming. I thought we had great times together. I thought losing touch with her was something natural. I thought she liked me.

It took me days to digest it, and still I didn't know why she treated me that way. We never had any fights, we were so close with each other, we.... liked each other [I thought so. Obviously I was damn wrong]. Eventually I chose to ignore what happened that day, although my subconscious could not. I was hurt, but in denial. My dearest friend could not possibly do such thing. She must have had a logic explanation.

I thought I figured out why, when one day, out of nowhere, I got this very strange phone call.

..to be continued..

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?