Skip to main content

Dewey - Not A Book Review

*If you're looking for a book review, move along, this is not one.*

Ketika kucing saya, Kiki, meninggal sewaktu saya masih duduk di bangku SD, saya menangis tak berhenti. Kesedihan saya sangat sangat dalam. Begitu dalam, begitu kehilangan. Rasa kehilangan itu tidak berkurang dari hari ke hari hingga saya merasa perlu mempertanyakan, kemana jiwa hewan pergi setelah mereka mati? Atau lebih spesifik lagi, kemana Kiki pergi? "Kiki kembali ke Allah," mama saya mencoba menenangkan. Ya, saya mengerti mereka kembali ke Allah. Namun saya perlu penjelasan lebih detail. Saya perlu diyakinkan secara verbal. Bahwa Kiki baik-baik saja. Bahwa ia bahagia.

Mama almarhumah rupanya membaca kegundahan hati saya yang seolah tak ada obatnya. Suatu hari, diajaknya saya ke rumah salah seorang kenalan kami yang ahli agama. Mama mengobrol ringan dengan beliau dan membiarkan saya mendengarkan. Hingga di tengah pembicaraan, mama menyebutkan tentang saya yang baru kematian kucing kesayangan. Lalu beliau menanyakan pertanyaan saya tersebut.

Dari kenalan yang ahli agama tersebut saya memperoleh jawaban yang menenangkan hati. Saya lega dan berhenti menangis. Kini saya bisa melanjutkan hidup.

Tapi bukan itu yang hendak saya sampaikan. Orang-orang melihat ini hanyalah urusan seekor kucing. Tidak ada yang bisa mengerti bahwa masalahnya tidaklah sesederhana itu buat saya. Rasa kehilangan itu tidak dapat saya jelaskan. Ikatan saya dengan Kiki tidak dapat saya jelaskan. Hati saya yang teriris tiap kali mengetahui ia sudah tak ada lagi tidak dapat saya jelaskan.

Berpuluh tahun kemudian, barulah saya temukan jawabannya. Saya temukan penjelasan. Saya temukan kata-kata. Terlebih lagi, saya temukan teman berbagi rasa.

Vicky Myron dan  Brett Witter memberikan ceritanya untuk saya pinjam. Ketika dia menjelaskan ikatan emosinya dengan Dewey. Dan rasa kehilangan yang tak ada obatnya. Ia mewakili sekaligus menemani saya. Dan saya menangis bersamanya.

Seperti halnya Vicky, yang tak lagi mampu bekerja di perpusatakaan tanpa Dewey di sampingnya, saya pun tak pernah punya kucing lagi setelah Kiki.

Seperti halnya Vicky, saya pun memiliki pengalaman "lolos dari bilah traktor". Ketika di usia yang sama, 3 tahun, saya terguling dari tangga setinggi 3 meter. Jika ayah Vicky meraupnya dari tebasan bilah traktor dan memastikan ia selamat dari bahaya, kakak saya nomor tiga menadahkan kedua lengannya menangkap saya di ujung tangga. Memastikan kepala saya tidak pecah membentur lantai.

"That's life. We all go through the tractor blades now and then. We all get bruised, and we all get cut. Sometimes the blade cuts deep. The lucky ones come through with a few scratches, a little blood, but even that isn't the most important thing. The most important thing is having someone there to scoop you up, to hold you tight, and to tell you everything is all right." 
Vicki Myron ("Dewey: The Small-Town Library Cat Who Touched the World")

Saya kembali menangis panjang ketika menyelesaikan membaca buku ini. Ini adalah sebuah penutup yang sempurna untuk saya dan Kiki. Orang-orang di LCC Terminal Kuala Lumpur, yang kebetulan melihat wajah saya penuh air mata, mungkin melirik buku yang tengah saya baca dan terheran menemukan wajah Dewey di sampul depan. Tatapan matanya yang lunak penuh cinta. Kepala sedikit miring memperhatikanmu lebih dahulu. Dan lagi-lagi mereka akan berkata, "Ah, hanya seekor kucing."

Inilah resensi versi saya. Tentang Dewey dan Kiki. Vicky Myron dan saya. Dan bagaimana hidup kami tak pernah sama lagi sejak kepergian mereka.

October 25th 2010
LCC Terminal Kuala Lumpur | 22:15 Jakarta time
flight delayed for an hour
continued on Air Asia craft QZ7695 taking off for Jakarta

Comments

  1. aaaahh..tante riana juga ternyata penggemar teman-teman aku. Senang rasanya tau kalo blogger kesukaan mama juga pecinta kucing (mama punya semua buku foto tante loh..walaupun ilang satu entah nyisip dimana, dicari-cari gak ketemu kikikikkk..). Salam kenal dari aku chubie si kucing berponi..sekarang aku lagi nemenin mama buka-buka tulisan lama tante.

    ReplyDelete
  2. nama samarannya Buthie,tante..pernah komen katanya di blog masakan tante. Mengagumi kue-kue tante bhoakaka..Dia gak bisa masak sama sekali. Kompor dirumah cuma buat ngukus ikan buat kekucingannya x_x

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?