Tuesday, December 20, 2011

Bolang, Kartu GSM dan Poin Tersembunyi

Selpele Girls
Selpele girls. Selpele village, Raja Ampat.
We stopped by this humble village for fuel, on our way from Wayag to Waisai.
Look at that stunning natural backdrop!

Sewaktu melayari Indonesia Timur pekan lalu, sejak hari pertama di Ternate, saya sudah ganti kartu GSM menjadi kartu simPATI. Bukannya apa-apa, udah dikasih tau sama kepala suku Arya Sadhewa bahwa sepanjang rute yang akan kita tempuh nanti, mulai dari Ternate – Tidore – Kep. Guraichi – Kep. Bacan, lalu menyusuri kaki terbawah Halmahera hingga ke Kep. Widi, lanjut ke gerbang Raja Ampat yaitu P. Gebe, hingga ke akhirnya masuk ke Raja Ampat Papua: Wayag – Waisai – Misool, jangan harap ada sinyal apapun selain radio nelayan dan pelaut dan sinyal telepati dari perut yang kelaparan. Kalaupun ada sinyal GSM, maka itu hanya Telkomsel. Jiaahhhh... Kayaknya Telkomsel megang banget di Indonesia Timur! Soalnya waktu ke Wakatobi Oktober lalu pun hanya sinyal Telkomsel yang mentereng di sana. Tau gitu kan kartu As yang saya beli di Kendari gak saya matiin. Poinnya udah banyak tuh.. *keluh*.

Singkat cerita, di Ternate saya beli kartu perdana lagi, kali ini simPATI bukan As. Dan walaupun dengan girangnya kami gak pernah ketemu sinyal lagi hingga docking di Waisai, lumayanlah bisa diandalkan meski GPRSnya terkadang bikin darah tinggi. At least bisa ngabarin orang rumah, “Hoi, saya misi' idup neh! Barang-barang saya jangan dilego dulu!”

Saturday, December 03, 2011

Mengeraskan Hati

Saonek island, Raja Ampat. First photo I uploaded just as is.


Gini. Masalahnya adalah tiap kali pulang ngebolang saya dilanda merana merindu hebat yang merontokkan tulang-belulang. Bikin saya gak mampu ngapa-ngapain. Padahal catatan perjalanan harus ditulis, foto-foto harus disortir dan dicompile. Tapi saya selalu gak mampu dealing dengan itu semua. Instead, saya malah nglangut nulis puisi di Google+.
5 Oct 2011
Bangun pagi dan bukan teluk,
perahu, matahari terbit
dan bocah laut
yang ada di hadapan.
Bukan pula hutan bakau hijau cemerlang,
rumah kayu, pulau karang, tebing putih
dan warna-warna alam.
Tidak ada.
Tidak ada.
{{menangis patah}} 
6 Oct 2011
Assalamu'alaikum, pagi penyayat hati.
Kemana perginya bening laut dan elang pembelah langit?

Gak bisa begini terus donk, kan, iya kan? Jadi malam ini saya bertekad memutus lingkaran lemah hati itu dengan langsung mindahin foto-foto ke external hard drive. Dealing with it right away. Menegarkan diri mati-matian. Mengeraskan hati. Saya harus kuat. Saya harus kuat.

Besok saya sudah harus mulai memindahkan catatan-catatan yang berceceran itu ke dalam bentuk yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Paling gak, foto-foto sudah harus disortir dan siap digunakan baik untuk personal use maupun stock photo. Karena Senin nanti, saya ingin sudah meninggalkan pertualangan luar biasa itu di belakang dan menceburkan diri ke penyusunan buku yang sudah nyaris sebulan terbengkalai.

*Kamu bilang, "takkan sanggup." Kamu betul.*


Pejaten, December 3rd, 2011
: when the morning sent me back from 2 whole weeks voyage in Eastern Indonesia.
Ternate - Raja Ampat - Banda Neira - Ambon.



Related Posts with Thumbnails