Wednesday, January 28, 2009

Selalu Hilang

Warm Afternoon
suatu sore, dalam perjalanan meniti pelangi
photo by PoF

...Jam tangan
...Kaca mata
...Handphone

Dan segala sesuatu yang dicopot-pake copot-pake. Karena sekali nyopot, biasanya lupa pake lagi.

Dulu, satu benda lagi melengkapi daftar di atas, yaitu dompet. Menyusul kali terakhir dompet hilang, sebuah kebijakan diambil: pisahkan uang dari kartu-kartu. Sampai sekarang, si dompet hanya berisi KTP, kartu ATM dan barang-barang non-duit lainnya. Sementara lembar-lembar matre' menghuni bilik lain di dalam tas. Sudah sekian tahun tidak hilang lagi *alhamdulillah*. Jadi sepertinya benarlah hipotesis pake-copot itu sebagai penyebab raibnya berbagai benda.

Dalam waktu gak sampai seminggu kemarin, handphone CDMA dan kacamata raib. *Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.*

Perihal jam tangan, sudah stop membeli dari belasan tahun lalu. Kalo sekarang-sekarang ini beli, lebih karena iseng dan belinya yang 30 ribuan. Dan tetap hilang.

**Tapi aku gak akan hilangkan kamu. Kamu tau itu?**

Tuesday, January 20, 2009

Smg '08-'09


Kutinggalkan hatiku di sudut Simpang Lima,
di Kota Lama dan kabut Bandungan,
di lembar buram ciamsi tiongkok kuno,
di tiang masjid para wali,
di rimbun pokok-pokok jagung.

Kutitipkan rindu pada kotamu yang bersahaja,
kelak 'ku 'kan kembali mencumbui langitnya.

Derak kereta menghantarku dalam sebuah elegi,
cerita sederhana tentang dua hati:
aku dan kamu,
bersukaria merayakan waktu.

Abadi ia kini.


Gerbong 5 Argo Muria, sawah dan pucuk-pucuk pisang,
2 Januari 2009

Monday, January 12, 2009

Luruh

Dekap aku
genggam tanganku
sertai aku
luruskan jalanku
luruskan jalanku
temani aku
aku sepi tanpaMu
aku rindu
aku rindu

Monday, January 05, 2009

One Eternal Afternoon

One Eternal Afternoon

Suatu hari menjelang bulan-bulan terakhir 2008. Sebuah telepon panik tapi ditenang-tenangkan saya terima: ibu peri sakit, gantikan mengajar. Dalam sepersekian detik memburu ke kamar mandi, lalu dalam sekejap meluncur di atas bus(way). Destination: Matraman.

Tiba di tujuan, dunia tidaklah sepanik dan semendung langit Jakarta. Ibu peri bisa bangun, senyum lemah tapi penuh tekad. Wajah-wajah cerah bala bantuan sudah menggawangi markas sepagi itu.

Siang pun datang semakin nyaman. Apalagi ketika sore sungguh datang. Kesehatan ibu peri secara ajaib makin membaik. Pesanan sekian ratus selesai seketika saja beramai-ramai. Seorang sahabat lama mampir berkunjung, lalu menembak foto di atas. Terimakasih telah membekukan waktu.

Sebuah sore yang kekal, kataku. Ah, di manakah kamu ketika itu?


Photo by Theodora Trisnawati
Related Posts with Thumbnails