Read previous chapter

Nota itu tergeletak di atas mejanya, dalam keadaan terbuka. Hanum baru saja selesai membacanya. Ia termangu tak percaya. Ia tak mengerti ada apa. Ia belum mampu mencerna kata demi kata di dalamnya, tapi tak kuasa membacanya lagi. Sungguhkah ini Marty yang kukenal? Sahabatku, yang membangun divisi ini bersamaku? Merancang mimpi, mewujudkan mimpi, membina tim impian, bersamaku? Yang (kupikir) kukenal luar dalam, memperlakukanku setara tanpa memandang hirarki jabatan? Seorang pemikir yang sanggup mengejawantahkan kedalaman pikirannya ke dalam pekerjaan, sahabatku, sungguhkah ia yang menulis nota ini?

Nota itu berisi serenceng kebijakan divisi yang Hanum tidak pernah tau keberadaannya selama ini. Dua belas butir peraturan yang intinya mematikan semua ide Hanum menyatukan dua divisi itu. Dalam satu divisi tidak diperbolehkan ada sub divisi, tidak diperkenankan ada kemitraan, tidak dibenarkan ada project berbendera lain selain pimpinan Marty, dan butir-butir peraturan tidak masuk akal lainnya. Apa maksudnya ini? Marty 'mendirikan' divisi ini bersamaku, tidak pernah sekalipun ada peraturan konyol macam ini kami buat dan terapkan!

Setelah nota itu keluar, bisa diduga, Marty dan Hanum terlibat pertengkaran hebat. Diskusi yang berawal dengan tenang, berakhir dengan makian konyol khas perempuan. Hebatnya, Hanum dan Marty bisa menyembunyikan hal itu dari kami semua (lama sesudahnya baru gue tau hal ini).

Pada akhirnya, Hanum patah hati. Marty bergeming dengan keputusannya mengatakan 'tidak' untuk semua rencana Hanum, tanpa alasan selain 12 butir peraturan dadakan itu. Logikanya mengatakan, ia harus menerima kenyataan bahwa akhirnya nafsu manusia akan kekuasaan mengalahkan idealisme. Tapi hatinya menyangkal. Ia tidak bisa menerima, sahabat yang ia sayangi ternyata tidak lebih dari manusia dangkal yang menghuni sembilan puluh persen kantor di jalan Sudirman dan Kuningan. Tidak, Marty bukan manusia seperti itu. Ia idealis, sensitif, punya kedalaman. Namun bagaimanapun, hati yang patah tidak mampu berbohong.

Di tengah kekecewaan dan kepedihan hatinya, dengan bijaksana Hanum memutuskan untuk menunda pembentukan divisi barunya (untungnya big boss bisa dibujuk). Hanum dan Marty pun bekerja seperti biasa, walaupun Marty kini banyak menutup diri dan menolak membicarakan perihal 'serenceng peraturan' itu lebih mendalam. Hanum tetap menjalankan project-project yang jadi tanggungjawabnya, tapi Marty seperti tidak peduli dan tidak mau terlibat di dalamnya. Di titik inilah gue mengetahui, something is going wrong in our department. Karena Marty tidak terlihat di tiap project yang ditangani Hanum. This is not right. Rupanya tidak hanya gue yang merasakan keanehan itu, tentu saja. Teman-teman lain pun bertanya-tanya, ada apa dengan 'the dynamic duo'? Beberapa orang menanyakan langsung ke Hanum. Hanum menceritakan dengan terbuka apa yang terjadi. Banyak dari kami yang kecewa dan tidak mengerti. Termasuk gue.

Tapi memang tidak ada yang menanyakan langsung ke Marty, karena memang selama ini Hanumlah yang banyak berfungsi sebagai pengayom, penyambung lidah, tempat kami bisa bicara dari hati ke hati, bukan Marty. Hanum adalah perekat. Walaupun semua membuka diri akan kemungkinan adanya cerita 'versi Hanum' dan 'versi Marty', namun seperti dikomando, tidak ada yang bertanya langsung ke Marty. Semua memilih untuk menunggu dan berusaha tidak terlibat. Berusaha netral, walau tidak melulu berhasil.

Bagaimanapun faktalah yang berbicara. Beberapa orang teman mulai mengeluh mengenai Marty yang membatasi ruang gerak mereka tanpa alasan. Membatalkan proyek, menentang ide-ide ke arah kemajuan individu, menjegal mereka yang mencoba membuat inovasi. Ini bukan Marty yang mereka kenal!
Tanpa diminta, mereka datang ke Hanum, tempat mereka mengadu. Keluh kesah mereka ditanggapi Hanum dengan rasa prihatin yang mendalam, dengan hati yang semakin remuk.

Bisa ditebak kelanjutannya, gunjingan pun menyebar. Kami terpecah belah. Suasana kerja berubah seratus delapan puluh derajat. Kami bekerja dalam kecemasan. Takut salah, merasa tak aman, sedih.
Marty, yang seolah menutup mata dari situasi ini, memilih untuk diam. Penjelasan paling panjang yang pernah gue dapatkan darinya adalah,"Gue gak pernah ngelarang siapapun untuk berkembang, Ri. Hanya saja, jangan ngambil enaknya aja dari divisi ini. Proyek-proyek kita harus tetap berbendera divisi, bukan hasil karya individual. Bukan proyek ini pimpinan si anu, proyek itu buatan si itu. Hanum aja yang salah mengerti, dia pikir gue ngelarang-larang dia bikin ini itu. Gue gak ada waktu ah, ngurusin salah paham gak mutu kayak gitu. Capek. Dari dulu Hanum emang tersinggungan melulu sama gue."

Situasi kantor semakin parah. Inisiatif memudar. Kebosanan mampir setiap hari. Tidak ada ide segar. Meeting rutin yang dulu selalu ditunggu-tunggu, sekarang bagai momok yang setengah mati dihindari. Absensi karyawan kacau balau. Ruang kerja yang biasanya hangat dengan diskusi, kini sepi bagai kuburan. Suasana tegang. Semua malas berkomunikasi. Semua tak sabar menunggu jam pulang. This division is going down.

to be continued