Ini kisah seorang manusia, yang gemar sekali pakai topeng. Tak peduli sakit raga dan jiwa, topeng tetap terpasang. Padahal ada lubang di mana mata asli tetap menyorot, mengabarkan derita hati. Satu-satunya jendela tempat ia menjerit minta tolong. Matanya lelah. Matanya jauh dari bahagia. Tapi topeng tetap dipakainya.

Dia boss divisi gue di kantor dulu. Cewek. Orangnya gesit, pinter ngeliat peluang, pekerja keras, ambisius, kompetitif. Sangat sangat kreatif, artistik, mandiri. Namanya Marty.
Bu Marty punya 'tangan kanan', bawahannya langsung, yaitu Hanum. Hanum melengkapi semua yang tidak dimiliki Marty. Pengalaman yang lebih banyak, pengetahuan lebih luas, motivator sejati, sifat mengayomi, kebijakan seseorang yang bekerja ikhlas untuk melayani orang lain.
Mereka berdua saling mengagumi, saling hormat, saling membutuhkan. Di bawah pimpinan 'the dynamic duo' ini, divisi kami jadi divisi paling kompak, paling banyak membuat kontribusi, dan ultimately, paling bahagia.
Di divisi kami, setiap hari adalah hari baru. Setiap orang bersemangat, berwajah cerah, akrab, penuh ide, penuh motivasi, saling percaya, merasa aman. Setiap hari tidak sabar ingin segera bertemu dan membahas ide baru. Suasana kerja sangat cair, sangat sehat {kita bahkan saling memanggil nama, tanpa embel-embel 'pak', 'bu', 'mas', 'mbak'. Cool, huh?}. Setiap orang bertumbuh bersama, belajar bersama. Ini adalah rumah kedua kami.

Suatu hari, boss besar berencana membuka sebuah divisi baru, dan menunjuk Hanum untuk memimpin divisi tersebut. Kami semua gembira untuk Hanum dan mendukung rencana itu, bagaimanapun ini suatu kemajuan untuk Hanum. Walaupun belum tau juga, gimana nanti dengan Marty dan divisi kami, tanpa ada Hanum di dalamnya? Beberapa orang mungkin berperasaan mendua, tapi gue nggak. Gue berpikir, bagaimanapun Hanum masih around. Masih akan ada untuk kita. Hubungan kita toh gak akan terganggu. Dan yang penting, ini adalah langkah maju untuk Hanum dan kita gak boleh menghambatnya.

Ketika rencana semakin matang, Hanum mendatangi Marty dengan satu ide brillian.
"Marty, gue punya ide bagus!"
"I'm listening."
"Bentar lagi gue kan bakalan diserahin divisi baru. Nah, gimana kalo kita gabungin aja divisi tersebut dengan divisi kita ini?"
"Maksud loe?"
"Iya, kita pimpin divisi gabungan ini berdua! Isn't it great?"
"Details, please........"
"Jadi, kita bermitra, seperti firma-firma hukum itu. Bayangin kalo digabung, divisi kita powerfulnya kayak apa coba? Kita bisa nanganin project lebih banyak, lebih besar, network kita akan lebih luas. Kita bisa bikin apa aja, Mar! Sub divisi gue akan menguntungkan sub divisi loe, dan sebaliknya. Gimana?"
"Ummm...,"
Marty ragu-ragu.
Hanum terus bicara dengan berapi-api.
"Kita tetap ngerjain project-project kita masing-masing, tapi kali ini kita punya sources lebih banyak, karena loe bisa memanfaatkan sources di sub divisi gue dan gue memanfaatkan yang loe punya. Lebih dari itu, kita teteb bisa ngerjain semua mimpi-mimpi kita yang belom kesampean, sebagai project gabungan, didukung tim kita yang udah solid, gitu loh!" Pake 'gitu loh' lagi, hihihi... Hanum, Hanum...
"Bayangin, Mar. Kita bisa wujudin semua yang selama ini cuma jadi wacana. Kita gak berpisah, justru kedatangan tim baru yang akan kita bina sama-sama. Divisi kita akan lebih powerful dan posisi kita semua makin strategis kalo kita bergabung!"
Hanum mengoceh panjang lebar menjelaskan visi, rencana, dan ide-idenya. Namun melihat Marty yang tetap ragu dan cenderung dingin, Hanum mendadak merasa ada yang salah. Kenapa dengan sahabatnya ini?
"Ada sesuatu, Mar?"
Marty hanya menjawab pendek, "Aku pikirin dulu ya. Nanti aku kabarin."
Marty seperti masuk ke dalam tempurungnya dan tidak keluar lagi.

Hanum sabar menunggu. Hingga tak lama setelah kejadian itu, sebuah nota mampir ke mejanya. Nota yang seolah menghantamkan godam ke jantungnya dan menikam hatinya. Nota yang meninggalkannya dalam ketidakmengertian. Nota yang membuat hatinya patah.

to be continued