Skip to main content

Manusia, Lelahnya Menjadimu (the end)

Read previous chapter

Dalam kondisi divisi kami bagai kapal Titanic yang tenggelam perlahan, sementara sang kapten kapal tetap mempertahankan kesombongannya untuk tidak menerima kenyataan, Hanum dituntut untuk segera membentuk divisi barunya. Well, dalam keadaan seperti ini, banyak orang tidak siap ditinggal Hanum. Berkat kemurahan hati big boss, Hanum diperbolehkan untuk merangkap jabatan, selama masih diperlukan. Ia tetap di divisi Marty, sementara mempercepat pembentukan divisi barunya.

Sementara itu, kekompakan divisi kami sudah betul-betul di titik kritis. Kami terpecah antara pro Hanum dan pro Marty. Gimana dengan gue? Gue adalah orang yang ketiban sial, karena ada di tengah-tengah! Dua gajah berkelahi, yang mati rumput sekitarnya. Kalo cuma dituduh sebagai mata-mata sih gue gak peduli. Tapi yang paling berat, adalah ketika gue mengetahui dengan pasti bahwa, tanpa sepengetahuan Hanum, Marty menghapus hak akses Hanum ke database jaringan, sementara Hanum nanya ke gue kenapa dia gak bisa akses. Makanya, Riana, jangan sok-sok nyari aman, in the end, you must take side. It's easier that way.

Hingga datanglah akhir yang menyakitkan, di suatu sore di akhir minggu.
Hanum telpon gue dari Malaysia, divisi barunya memang berbasis di Malaysia.
"Ri, Senin nanti gue gak balik lagi ke Indonesia."
"Ow, lama ya? Sebulan?"
"Sampe lebaran tahun ini mungkin."
"Hah? Lama amat. Terus kerjaan yang di sini gimana?"
"Gue udah nggak boleh ngurusin lagi."
"Nggak boleh?"

Tiba-tiba suara Hanum bercampur tangis.
"Marty udah meng-cut gue dari semua pekerjaan gue di Jakarta."
Ow-my-God. This is it.
"Gimana dia bisa?"
"Bisa, Ri. Bagaimanapun dia orang nomor satu di divisi kita."
"Jadi, kita gak ketemu lagi nih? We didn't even have a chance to say goodbye!"
"Alaaah, kan lebaran gue balik. Lagian ada telpon dan email."
"I'm gonna miss you, you know that."
"I know. Give my kiss to everybody ya. Tell them to keep in touch."
"I will."


Seninnya, di kantor, gue masuk ke kantor Hanum. Duduk di sofa, melihat ke sudut-sudut kantor yang kosong. Bagaikan film hitam putih yang diputar ulang, gue teringat masa-masa ketika semuanya masih 'normal'. Ingat lembur sampe malam dengan suka rela dan senang hati. Makin malam, makin banyak ide. Pada jam-jam lembur, kantor diperlakukan bagai kamar sendiri. MP3 dipasang keras-keras, pizza dan soda, t-shirt dan jeans. Coretan gue di kaca jendela Hanum bahkan masih ada:
"No Normal People Allowed Here"
Ah.
Semuanya resmi berakhir hari ini. Selamat tinggal rumah keduaku. Akankah kutemukan lagi?

Singkat cerita, divisi Hanum berkembang sangat-sangat pesat. Tidak hanya nama perusahaan yang makin besar, Hanum dan teamnya dengan segera dikenal luas sebagai team yang paling bersemangat, solid, produktif. The team of happy people, mereka menyebutnya. Hanum berhasil mengulang kejayaan divisinya sewaktu masih di sini. Teman-teman di sini sangat bangga dan ikut bahagia. Bangga rasanya pernah digembleng oleh Hanum.

Bagaimana dengan Marty?
Sepeninggal Hanum, Marty merekrut banyak orang baru. They're alright. Tapi kami seperti jadi orang asing di rumah sendiri. Yang dulu kita saling memanggil nama, sekarang harus diembel-embeli panggilan sopan mas, mbak, pak, bu. Bukannya apa-apa, banyak dari mereka bahkan gak pantes menyandang panggilan itu! Suasana yang dulu jujur tanpa basi-basi, sekarang full basa-basi. Gak cuma itu, saking pada hobby banget basa-basi, gue sampe berasa lagi di dalem sinetron!
"Wah, gak nyesel deh minta tolong sama mbak anu. Udah orangnya cantik, baik hati lagi."
"Hebat ya mbak-mbak dan mas-mas semua."

"Terimakasih ya mas anu, teamnya bu Marty memang semuanya murah hati."
Apa siiiiihhhh???

Penghuni kantor sekarang full orang-orang yang 'sok heboh' padahal gak ada 'isi'nya, if you know what I mean. Belom lagi sok taunya. Udah jelas-jelas nggak nguasai materi, kok bisa-bisanya kasih penjelasan panjang lebar yang udah pasti salah dan ngarang bebas. Kita anak-anak lama cuma senyum-senyum 'neg di dalam hati, tanpa berusaha ngoreksi. Males!

Marty, berusaha mati-matian menguber kesuksesan Hanum. And I mean, mati-matian. Semua gebrakan Hanum ditirunya. Beberapa ide gebrakan itu memang ditelurkan bersama ketika Hanum masih di sini, jadi gak juga murni meniru sih.
Ia mengambil alih pekerjaan yang ditinggalkan Hanum dan menghandlenya sendiri. Ia ambil semua peluang yang ada, tanpa mengingat kemampuan diri. Bagai perlombaan yang gak jelas juri dan hadiahnya, ia berusaha memburu kesuksesan Hanum. Harus lebih baik dari Hanum. Lebih sukses. Lebih tersohor. Lebih, lebih...
Bedanya, layaknya seorang pemimpin sejati, Hanum melakukannya bersama dengan teamnya, sehingga sukses divisi adalah sukses milik bersama, karena semua individu berkembang bersama. Persis seperti masa jaya divisi kami dulu. Sedangkan sukses Marty adalah untuk dirinya sendiri. Teamnya tidak dibawa tumbuh bersamanya. Ia semakin sukses, teamnya tetap bodoh, if you know what I mean.

Marty tidak pernah istirahat. Ia bekerja nyaris 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Tubuhnya semakin kurus. Mata yang tadinya berbinar, kini 'celong', menyimpan banyak pikiran. Bagian paling menyedihkan dari itu semua adalah, ia selalu mengatakan bahwa everything is going great. While it is not.
Sebuah project yang merugi dikatakannya 'sukses luar biasa'.
Expo yang hanya dihadiri segelintir orang diakuinya sebagai 'membanggakan, sampai bikin terharu'.
Pertemuan yang tidak membuahkan hasil dibilangnya 'sebuah kerjasama yang manis telah terjalin'.
Rapat mingguan yang malas-malasan, useless dan gak efektif disebutnya 'sangat produktif dan menyenangkan'.
Suasana yang penuh basa-basi sinetron dipujinya sebagai 'teman-teman yang rame dan akrab'.

Marty, my friend. I hardly know you anymore.

Yang memahami keadaan ini hanya anak-anak lama, yang kian hari jumlahnya kian menipis, karena keberadaannya sekarang nyaris gak dipedulikan lagi oleh Marty.

Kabar dari Hanum, dalam kebahagiaanya sekarang, ia masih merindukan kelak Marty mau bergabung dengan dirinya. Ia tidak pernah membenci Marty. Bahkan ketika mendengar Marty sakit (Marty sempat jatuh sakit karena kelelahan), Hanum mengajak kami semua untuk menjenguk bersama. Ia rela terbang ke Jakarta demi terjaganya tali silaturahmi. Sayang rencana itu tidak kesampaian karena jadwal kami sulit dipertemukan.

Sampai saat gue resign, keadaan masih seperti ini, tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Marty semakin sering berbohong (dan semakin sering ketahuan) mengenai hidup dan karirnya. Lebih jauh lagi, karya-karya peninggalan Hanum diakui sebagai miliknya setelah terlebih dulu mengganti judul atau nama pemberian Hanum. Ia masih memutus tali silaturahmi dengan Hanum {walau secara diam-diam menyusup ke jaringan komputer divisi Hanum untuk memantau semua kegiatan team Hanum}. Suasana kantor masih seperti sinetron ibu-ibu arisan. Semua orang jalan di tempat, tidak ada pertumbuhan, tidak ada ide bermunculan.

Ketika gue resign, gak ada kata yang mampu terucap dari mulut menghadapi Marty yang kini menutup diri dengan mengenakan topeng penyangkalannya.
"Marty, jangan sakit lagi ya."
"Thanks, Ri,"
ujarnya sambil tersenyum manis. Dengan matanya yang kini 'celong'. Dan pipinya yang semakin tirus.

Gue menginggalkan kantor dengan air mata menggenang. Bukan karena kehilangan pekerjaan. Tapi karena tidak mampu memanggil seorang teman untuk keluar sejenak dari lubang pertahanannya. Dan gue merindukannya.

Ini kisah seorang manusia, yang gemar sekali pakai topeng. Tak peduli sakit raga dan jiwa, topeng tetap terpasang. Padahal ada lubang di mana mata asli tetap menyorot, mengabarkan derita hati. Satu-satunya jendela tempat ia menjerit minta tolong. Matanya lelah. Matanya jauh dari bahagia. Tapi topeng tetap dipakainya.

Topeng


The End

--oooo--

Gue tulis ini semua karena bagaimanapun, masih ada setitik harap di hati, bahwa dua kekuatan besar bisa kembali lagi. Masih ada rindu yang kerap meraja di hati. Bagai menantikan anggota keluarga yang terpecah belah untuk segera bersatu lagi. Karena gue termasuk salah satu yang menangis (literally) waktu menyaksikan 'rumah' yang dulu kita bina bersama hancur berantakan.

So, Marty, Hanum (if you guys are reading this), please don't be upset with me. You know at least I have to get it out of my system. And make a closure, my way.

I love you both. Peace.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?