Skip to main content

Aneh!

Rumah Tomang dijual lagi!
Aneh!

Rumah peninggalan bokap nyokap gue ini baru terjual beberapa bulan lalu. Pembelinya sepasang suami istri pengusaha kaya raya, keturunan Cina.

Sesungguhnya, keanehan demi keanehan memang mewarnai jalan cerita penjualan rumah ini. Hanya karena gue sekeluarga percaya kekuasaan Allah, jadi keanehan-keanehan itu gak terlalu kita pikirin.

Berawal ketika sepasang suami istri calon pembeli rumah, datang ke rumah untuk nanya-nanya. Anehnya, si ibu ini gak mau masuk ke rumah. Kita persilakan beliau untuk liat-liat kondisi di dalam rumah, tapi dia, sebutlah ibu Yuli, bilang gak usah.

Ketika harga sudah disepakati, ibu Yuli beberapa kali datang lagi ke rumah untuk urusan surat-surat. Tapi tetap dia gak mau liat-liat ke dalam! Aneh! Paling jauh dia cuma duduk di ruang tamu. Alasannya,"Bangunannya nanti mau kita rubuhin, dan dibangun rumah baru untuk anak saya. Itung-itung saya beli tanahnya aja nih. Jadi gak usah liat-liat ke dalam, toh gak bakalan kita pake juga rumahnya."
Hmm.
Masuk akal sih. Tapi teteb aja aneh! Walopun itu rumah bakalan langsung dirubuhin, normalnya sih kita teteb liat-liat duonk ke seluruh penjuru rumah. Masak kita gak tau apa yang kita beli sih. Aneh!

Gue sendiri ketemu sama Bu Yuli dan suaminya cuma 2 kali. Pertama, ketika mereka dateng pertama kali nanya-nanya. Kedua, ketika tanda tangan akte di notaris. Baru pada perjumpaan kedua ini gue sempet ngobrol dan merhatiin mereka.
Mereka adalah pemilik beberapa pabrik rokok di sebuah kota di Jawa Barat, punya beberapa rumah di Tomang juga, yang ditempati oleh anak-anaknya. Dari cerita kakak gue yang sering ngobrol sama dia, mereka ini super duper kaya raya. Tapi yang bikin gue terkesan adalah, penampilannya sederhana banget untuk ukuran orang sekaya dia.
Si ibu rambutnya biasa aja, gak disasak tinggi, gak diblow kruwel-kruwel ala orang kaya nanggung yang keberatan image daripada dompet. Makeup dan bajunya juga biasa, sederhana, tapi rapi, bersih dan wangi.
Si bapak juga begitu. Cuma pake polo shirt yang gak mahal, pake sandal bapak-bapak biasa. Kayak penampilan Ayah alm. kalo mau makan sop kaki kambing di Jalan Biak.
Cara bicara mereka bersahaja, logat Cina-nya udah ilang, tinggal logat Jawa Barat. Kepribadian mereka juga hangat, dan sangat-sangat rendah hati.
Singkat kata, gue sangat terkesan dengan ke-humble-an dan kebersahajaan mereka.

Kembali ke soal aneh-aneh tadi. Keanehan kedua terjadi ketika kita sibuk packing barang-barang. Entah siapa yang nemuin pertama kali, di salah satu kamar terlihat pasir berserak di mana-mana! Di lantai, tempat tidur, meja rias, di bawah kardus-kardus, di kolong lemari, pasir semua!
Kami mencoba merasionalisasikannya dengan berlogika, mungkin ini tanah sisa banjir (beberapa hari sebelumnya hujan lebat, ada sedikit air masuk ke rumah). Tapi kenapa baru terlihat sekarang?
Ketika gue dateng ke Tomang siang itu, gue belom dikasih tau mengenai pasir itu. Gue taunya ketika pulang, dianter kakak gue naik mobil peninggalan Ayah. Mobil Corona '76 ini dulu dirawat Ayah dengan segenap cinta dan jiwa raga. Berpuluh tahun mobil itu dipake sama Ayah, kondisinya teteb luarrrr biasaaa {cuma sekarang aja dipegang kakak gue jadi rombeng deh, hehehe...}. Nah, ketika gue masuk ke dalem mobil, di jok mobil banyak pasir! Gue pikir kakak gue aja yang jorok nggak ngebersihin mobil, tapi kemudian suami gue bilang,"Lho di sini juga ada pasir!" Baru deh gue diceritain.

Keesokan harinya baru gue nengok ke kamar yang kemarin bertabur pasir itu. Walaupun sebagian udah dibersihin, gue sempet liat pasir-pasir yang di bawah kardus. Cukup banyak dan tebel. Aneh!

Semua itu sih gak kita pikirin. Allah maha kuasa. Dia bisa bikin apa aja, melalui perantara apa aja. Gak ada yang aneh di tangan Allah.

Sekarang udah beberapa bulan lewat. Rumah sudah berpindah tangan. Kakak-kakak yang tinggal di rumah itu sudah berumah di tempat lain, di kota lain. Gue udah gak pernah ke situ lagi. Mostly karena takut nangis kalo lewatin rumah itu.

Tiba-tiba muncul keanehan berikutnya.

Suatu hari, kakak gue ditelpon sama sahabatnya yang masih tinggal di dekat rumah itu.
"Ni, rumah loe kok dijual lagi? Katanya mau dirubuhin sama yang beli?"
"Hah?"
"Iya, gue tadi lewat rumah loe itu. Terus ada papan nama Ray White "Dijual"."
"Yang boneng loe?" Kakak gue setengah gak percaya.
"Iya bener! Ada nomor telponnya. Nanti coba gue telpon deh, pengen tau dijualnya berapa."

Kakak gue yang lain, begitu ngedenger berita ini, langsung nuduh bahwa kita udah ditipu. Bahwa mereka sebetulnya adalah orang Ray White juga, yang berlagak jadi pengusaha, tapi sebenernya cuma cari makan dari selisih harga gede aja. Mungkin juga sih. Tapi setelah temen kakak gue ini nelpon ke nomor telpon yang ada di papan Ray White itu, ternyata harga yang ditawarin gak jauh-jauh dari harga yang dia beli. Kalo diitung sama biaya balik nama yang udah dia keluarin, malah jadi impas. Aneh!

Mungkin dia betul penipu, orang Ray White yang ngambil untung barang beberapa juta? Atau betul dia pengusaha tapi jatuh bangkrut? Atau fengshui rumah itu gak bagus menurut dia? Kenapa baru sekarang? Aneh.

Not that it bothers my life sih, doesn't make any difference juga. It's just weird ajah.

Tapi, for fun, gue tetep pengen cari tau ada apa :)
Stay tune.

Update on this story

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…