Skip to main content

Rumah Ayah dan Mama

Image hosted by Photobucket.com

Ya Allah junjungan hamba,

Betapa sedihnya hati ini, melepas rumah tempatku tumbuh. Seperti kehilangan Mama dan Ayah untuk kedua kalinya.

Teras

Ada harum bau dan suara merdu Mama di dalamnya.

Ada disiplin dan aturan Ayah di tiap sudutnya.




Ruang Makan
Di situ tempatku merasakan kembali hadirnya mereka.

Separuh jiwaku telah mereka bawa pergi. Kini sebagian lagi hatiku harus hilang.



KamarKetika hidup serba tak pasti, rumah itu adalah satu yang pasti. Mengingatkan seluruh penghuninya akan hal-hal yang hakiki dan tak kan berubah. Bahwa waktu hanyalah sekelebatan cahaya.

Ya Allah Sang Penenang Jiwa,

lapangkan hati hamba malam ini. Karena air mata yang jatuh adalah karuniaMu jua. Jadikan ini awal dari sesuatu yang lebih baik. Lebih indah. Lebih berpahala.

Semua milikMu. Akan kembali padaMu.

------------------
[Ketika ku tak bisa berhenti menangis. Aku menangis kemarin. Dan malam ini lagi.]
...

Comments

  1. sedih sekali tulisannya, ikut jadi sedih bacanya. but if it doesn't kill you, it'll only make you come out stronger. tabah ya.

    ReplyDelete
  2. jadi trenyuh... this too shall pass kok mbak.. jangan lama2 sedihnya yah?



    btw,
    mbak, kalo mo serius ikutan gym club aja.. Fitness First lagi promo tuh yang di Plaza Semanggi..

    aku baru daftar weekend kemaren.. kayanya lumayan lengkap deh.. soalnya ada cycling studio, pilates, yoga, tae-bo, sauna, steam, salsa, balet senam, lengkap deh! dan lokasinya ada di 3 lantai: UG, 1st, 2nd, bukan lantai 3 di Plaza Semanggi..

    cobain aja.. lagi promo tuh. akhir daftar sabtu ini (30 april)
    bukanya baru 7mei..
    kalo udah 7mei iurannya bakal lebih mahal dari tawaran sekarang..
    kontak aja choki kalo mau tanya-tanya: 0818-995208 blg aja tau dari claudia.


    semoga bermanfaat,
    good luck..! :)

    ReplyDelete
  3. Clodi, makasih banget.. Iya gak lama-lama kok sedihnya. Just missing it very much.
    Bole juga tuh diliat gymnya. Thanks again yah :)

    ReplyDelete
  4. Ri, udah ya jangan sedih terus, ntar papa mama ikut sedih, yang penting kamu di sini udah bisa bikin bangga mereka kan, yuk bikin kue yuuk,... :*

    ReplyDelete
  5. Rin, I'm so sorry to hear this.. I can relate to your sadness.. Gue kan dulu beberapa kali nongkrong dirumah itu.. Diteras deket kandang ayam, dan online-online internet :) The memories live on, Riana.. good ones.. and that's what counts :)
    Be strong like you've always been.. okay? :)

    ReplyDelete
  6. Avin, thank you, your encouragement really means a lot. I know this shall pass.

    ReplyDelete
  7. bisa dirasakan apa yang dirasakan riana, since i have been to this situation before. berat ya :(

    Wass,
    SyL
    http://keluargacemara.net/emak

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?