Saturday, September 30th, 2006 -- my bro's living room, around 9 o'clock in the evening

Gue lupa bawa buku coret-coretan! Sekarang kelimpungan cari kertas, pas lagi perlu nulis sesuatu yang muncul di kepala. Sebelum hilang lagi kayak kemarin-kemarin!


...Ternyata,
ya ampun,
saya masih
saya yang bodoh.
Perihal sepotong kain ini sudah pernah saya tulis tahun lalu. Tapi sungguh, sebetulnya tidak ada yang saya tulis di situ, selain kelitan kata-kata yang menolak menceritakan apapun.

Di kantor saya dulu, ada seorang designer web yang saya kagumi. Kami sekantor memanggilnya Pak Amir. Bukan hanya karena karya-karyanya yang memang bagus-bagus dan sering memperoleh penghargaan, tapi juga karena sikapnya yang rendah hati sekali. Beliau selalu kerja dengan ikhlas, tidak pernah mengeluh. Tutur katanya halus dan sopan, pancaran wajahnya tulus, selalu tersenyum. Pembawaannya tenang, bikin adem. Bicaranya pelan dan seperlunya saja, tapi orang mendengarkan. Selalu sholat di awal waktu. Kalau jam 2 siang melihat saya masih asik mengedit copy ini-itu, beliau sering mengingatkan,"Sudah sholat, Riana?"
"Hehehe.. belom, Pak," saya cengengesan.

Suatu hari, beliau pernah 'menasihati', atau lebih tepatnya memberikan 'usul", dengan amat sangat halus, supaya saya mulai pakai jilbab.

"Riana orangnya pintar dan baik, hanya ada sedikit kurangnya. Masih belum berkerudung."

Seharusnya, sewajarnya, biasanya, normalnya, saya sebel banget kalau dinasehati begini. Sepertinya kok orang lain try to tell me how to run my life (ask my sister, she's a pro in telling me what to do, I'm a pro in turning it into a war of the year). Apalagi menyangkut keputusan yang sangat personal seperti ini. Tapi ternyata saya tidak gusar sedikitpun. Mungkin karena orangnya saya anggap kompeten. Atau mungkin caranya tepat. Atau mungkin saat itu hanyalah satu dari banyak 'saat-saat terang' yang Allah sebarkan ke seisi jagad raya.

"Iya nih, belum. Doain ya, Pak...," lebih sebagai basa-basi of being polite daripada jawaban sebenarnya. Mungkin jawaban sebenarnya adalah:
"Ya, saya tau. Tapi saya gak tau gimana menggerakkan hati saya sendiri. Tolong saya!!"

Setelah memutuskan berhenti kerja kantoran dan akhirnya berkerudung *alhamdulillah*, saya bertemu lagi dengan Pak Amir via YM. Dengan suka cita, saya mengabarkan,"Pak Amir, saya udah pake jilbab, Pak!"
"Alhamdulillah... Terus, gimana rasanya, Riana?"
"Wuaaah, bahagiaaaaaa... sekali! Saya gak pernah menyangka akan bisa sebahagia ini!"
"Alhamdulillah.. Kalo gitu, Riana ceritain dong ke temen-temen lain."
"Ummmm.... gitu ya, Pak?"
"Iya. Siapa tau ada yang terinspirasi dengan cerita Riana, dan akhirnya tergerak untuk pake jilbab juga. Insya Allah berpahala."
"Ummm... iya ya, Pak...", speechless deh saya kalo udah dinasehatin bapak ini. Mau nyeritain apa? Gak suka banget deh nyeritain hal-hal yang personal kayak gini. Kesannya kok menggurui orang lain.
"Tanggapan suami gimana, Riana?" Saya baru sadar kalo tiga suku kata nama saya selalu dipanggil lengkap, bukan 'Ri' atau 'Rin' saja.
"Waah, suami saya bangga banget.."
"Alhamdulillah..."
Bla-bla-bla... lanjut ngobrol yang lain.

...teman
sekelas saya,
muncul dengan
'seragam' baru. Whoa!!
Barusan saja, saya nonton ceramah Aa Gym di televisi. Beliau bilang, salah satu cara bersyukur, adalah menceritakan nikmat Allah yang kita rasakan. Bukan bermaksud riya' (pamer), tapi untuk membagi perasaan bersyukur, sehingga orang lain bisa tertular dan turut mengharapkan nikmat yang sama.

Mungkin saya memang tergolong mahluk berkepala amat keras. Tambeng. Sehingga walaupun Pak Amir sudah menasihati saya, tetap butuh satu tahun, dan seorang Aa Gym untuk menggerakkan saya menuliskan ihwal sepotong kain ini.

Duh, maafkan saya. Maafkan 'sok rendah hati' saya. Ternyata menceritakan ini, tidak ada hubungannya dengan menggurui, tinggi hati, apalagi riya'. Ternyata, ya ampun, saya masih saya yang bodoh.

Suatu pagi, kurang lebih setahun yang lalu, di sebuah salon di bilangan Serpong, saya dan kakak nomor enam sedang dikaini. Kakak nomor tiga, akan menikah pagi itu. Yang memakaikan kain dan mendandani kami kebetulan adalah pemilik salon itu sendiri. Seorang muslim keturunan Jepang yang, alamak, tampak muda dan cantik sekali walau sudah punya dua putera. Ketika melihat saya memasang jilbab, ia berkomentar,"Wah, saya belum nih. Itu gimana, ...panggilan hati aja ya?"
Waks, gak siap ditanya seperti itu.
Quick!! Think of something meaningful (and useful)!!
"Ummmm... iya sih.. panggilan hati aja.."

Halaaaah..

Pikiran saya melayang ke belasan tahun lalu, jaman SMP. Saat itu jilbab baru-baru mulai dipakai muslimah negeri ini. Ide memakai jilbab gaya orang Iran, seperti yang dipakai teman dekat kakak nomor empat, sangat saya sukai. Dan disukai juga oleh kakak nomor enam yang sekamar dengan saya. Kami sering membicarakan akan menjahit jilbab panjang (abaya) warna hitam-putih, persis seperti wanita Iran, dan memakainya jalan-jalan ke Ratu Plaza (hello 80s!). Di mata kami, abaya itu pasti akan terlihat sangat keren kami pakai ke pusat perbelanjaan. Pikiran sok cool anak SMP yang ingin menunjukkan jati diri. Mungkin. Entahlah. I dunno exactly what I was thinking back then.

...tahu-tahu,
saya sudah
di ujung lorong, masuk ke ruang
hidup yang sama sekali baru.
Suatu pagi di masa SMA, Diana, teman sekelas saya muncul dengan 'seragam' baru. Kaos kaki panjang hingga lutut, rok panjang hingga betis, kemeja sekolah mendadak panjang lengannya, rambut dan leher hilang dibalik jilbab. Whoa!
Saya menyaksikan teman-teman sesama berjilbab memberi selamat dan memeluknya dalam suka cita. Beberapa bulan kemudian, Wiwiek, teman sekelas saya juga, muncul pula dengan 'seragam' baru. Dan sekali lagi, saya menyaksikan pemandangan peluk-selamat yang penuh gembira-haru.

Di masa kuliah, seorang teman paduan suara membawa kabar cukup mengejutkan,"Vivie sekarang pake jilbab!" Mendadak sontak, saya sedih luar biasa. Saya keduluan. Saya ditinggal. Harusnya kan saya juga! Detik itu pula saya paging Vivie, teman alto dua yang hijrah jadi sopran dua.

"Vie, I heard about it. Congratulation! I envy you. You watch and see, I'll be the next. Love, Riana."


Kenyataannya, saya gak jadi the next one tuh. Saya malah asik keneneran ke sana kemari pakai baju-baju sekseh (not proud of it, really).

Beranjak dewasa (hueh? mosyok?), paling tidak, dewasa dari sisi umur, saya bertekad (saat itu, saya pikir itu 'tekad'), akan pakai jilbab langsung setelah menikah. Lagi-lagi, ternyata itu bukan tekad. Buktinya setiap pagi saya tetap sibuk menata rambut a la Wynona Ryder maksa.

Hingga di suatu siang empat tahun kemudian, out of the blue, saya mendapati diri berjalan di mal Cilandak, dan membeli beberapa kerudung besar. Minggu berikutnya, teman-teman milis sudah melihat saya berkerudung. Finally!

...Bagai gelembung
warna-warni
terbang menari, lalu pecah,
hilang di udara.
Saya tidak tau apa yang terjadi. Mungkin karena sering melihat teman-teman milis yang berkerudung, tetap fun dan nyaman dalam kerudungnya. Atau mungkin karena saya sudah tidak suka lagi pakai baju yang 'aneh-aneh', atau bosan sibuk dengan tataan rambut saban keluar rumah. Atau mungkin memang niat yang dulu saya pendam sejak SMP keeps linger on and finally taking its toll. Atau mungkin ini memang proses alami seseorang yang semakin bertambah umur dan (mudah-mudahan) menjadi dewasa. Saya tidak tahu apa, siapa, kapan, mengapa. Seperti sebuah gambar yang blur, persis ketika saya menikah dulu. Segalanya blur, seolah digerakkan kekuatan di luar tubuh saya, tahu-tahu saya sudah di ujung lorong, masuk ke ruang hidup yang sama sekali baru. Sebuah hidup baru!

...Mendadak,
sekeliling saya
hening dan memudar.
Hanya ada saya, dan Dia.
Yang bisa tergambar dengan jelas adalah apa yang saya rasakan setelahnya. Saya bahagia sekali! Sungguh tak pernah saya antisipasi bahwa saya akan sebahagia ini! Semua persoalan seakan terbang dan lenyap satu per satu ke angkasa. Bagai gelembung sabun warna-warni yang terbang menari, dan akhirnya pecah, hilang di udara. Semua gundah, semua khawatir, semua masalah, terbang menghilang. Semua potongan menyatu menjadi sebuah gambar besar. Semua jadi tidak penting lagi. Mendadak, sekeliling saya hening dan memudar. Hanya ada saya, dan Dia.

Hidup saya tidak pernah sama lagi.

Sungguh saya tidak sanggup menggambarkan dengan lengkap rasa bahagia ini. Setiap kali mengenakannya di kepala, saya masih merasakan gelombang bahagia yang sama, membuncah memenuhi jiwa saya. Memproduksi serotonin yang bertahan hingga seharian. Hanya sepotong kain ini. Subhanallah.

Pak Amir, Aa Gym, mudah-mudahan tunai tugas saya ya. Walau tentu tak pernah bisa lengkap saya gambarkan, indahnya hidup setelah berkerudung. Namun lega rasanya sudah menyampaikan nikmat Allah ini. Sebagai wujud rasa syukur, bukan bermaksud menggurui.

...ada banyak
muslimah berjilbab
berulangkali menampakkan
wajah mereka sepanjang jalan....
Sekarang saya melihatnya kembali, ada banyak muslimah berjilbab yang berulangkali menampakkan wajah mereka sepanjang jalan yang saya lalui. Teman dekat kakak nomor empat, teman sekelas waktu SMA, teman paduan suara, teman-teman milis. Wajah-wajah yang menampakkan diri sepanjang jalan, seolah menjadi sebuah doa panjang yang terjawab. Hanya Allah yang sanggup menghitung mutiara kebijakan yang mereka jatuhkan sepanjang jalan, dan membalasnya dengan batu mulia yang kilaunya ratusan kali lebih gemerlap.

Biarkan saya akhiri tulisan ini dengan kembali ke awal. Sungguh, sebenarnya tidak ada cerita yang cukup penting di balik keputusan ini. Mungkin malah tidak pernah ada keputusan! Saya tidak pernah merasa membuat, 'dibuatkan' mungkin. Tidak perlu ada alasan, tidak perlu ada sebab. Tidak penting lagi apa, mengapa, bagaimana. Sesudahnya, saya hanya tau sesudahnya. Bahagia.

Maafkan, terlalu banyak kata 'bahagia' dalam tulisan ini. Kosa kata saya sungguh terlalu miskin untuk luasnya samudera rahmat Allah.

...