Skip to main content

Laut yang Tunduk

Wakatobi 026

 اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
"Allah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur."
(Q.S.Al Jatsiyah 45 :12) 

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
"Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur."
(Q.S. An Nahl 16:14)

IMG_2241-p IMG_2236-p

Saya sangat mengagumi para nelayan. Dan orang-orang yang enggan beranjak dari laut. Memilih hidup darinya, bahkan di atasnya. Mereka adalah orang-orang yang kerap saya temui dalam perjalanan-perjalanan di mana manusia hanya memiliki setitik saja kendali. Ketika merasa sangat kecil dan tak berdaya. Ketika Allah terasa amat dekat. Mereka menyapa dengan senyum lebar dan kebaikan hati. Di tengah samudera tak bertepi.


A Fisherman and His Son

Nelayan ini kami temui di kepulauan Widi, Halmahera Selatan. Sore itu, kami harus memancing kalau tidak ingin kehabisan bekal. Arung laut masih panjang. Dari Ternate, singgah di Pulau Bacan, lalu Pulau Sukar, esok pagi kami harus melanjutkan beberapa hari lagi hingga tiba di Wayag, gerbang Nuu War. Anda lebih mengenalnya dengan Irian Jaya. (ya, nama asli bumi indah itu Nuu War. Bukan Irian, apalagi Papua. Kedua nama terakhir itu memiliki makna yang buruk, terutama Papua. Entah kenapa justru nama yang kurang baik itu yang digunakan sebagai nama resmi dari bumi yang bagaikan surga.)

Courtesy of http://enasrullah.wordpress.com
Kami berkeliling kepulauan Widi mencari spot untuk memancing. Lalu bertemu perahu bapak nelayan dan putranya. Saya lupa nama bapak nelayan ini, karena seluruh catatan perjalanan harian saya hilang sebelum sempat saya transfer ke komputer (hingga kini belum sembuh saya sesali).

Kami bertegur sapa. Beliau sudah berlayar beberapa hari mengarungi samudera dari Pulau Obi. Itu jauh sekali untuk perahu sesederhana ini! Pulau Obi terletak jauh di bawah kaki bawah Halmahera Selatan. Check the map to reckon yourself.

Mengetahui kami hendak memancing untuk makan malam itu, beliau menawari kami ikan tangkapannya yang sudah ia asinkan sepanjang perjalanan. Ah, bapak yang baik, bukankah itu bekalmu? Allah Maha Kaya, menundukkan lautan untukmu. Jutaan ikan tersedia untukmu, karenanya engkau tak pernah ragu membagikan secuil rejekiNya untuk kami.

Wakatobi 003Kali lain di perairan Wakatobi, kami kelaparan menjelang tengah hari di dekat Pulau Lentea. Di kepulauan Tukang Besi ini, kemanapun anda pergi pasti bertemu nelayan. Kami membeli ikan segar tangkapan pagi itu dari seorang nelayan di tengah laut. Transaksi halal di atas perahu menghasilkan seember besar ikan segar seharga lima puluh ribu rupiah. Yes, for all. One bucket full. Ikan segar warna-warni hingga ke tulangnya yang biru turquoise.

Tiap kali saya merencanakan pengarungan laut, informasi cuaca paling terpercaya saya dapatkan dari nelayan lokal. Begitu pula keterangan mengenai lokasi-lokasi yang jarang tersentuh manusia. Pulau-pulau tak berpenghuni, hamparan karang bak taman bunga seluas belasan kali lapangan sepak bola, pantai berpasir merah jambu, laut dangkal hingga ke pulau berikutnya. Seolah dipersembahkan untuk kami sendiri. Mereka yang paling memahami, kemana kami harus pergi dan kapan.

Wakatobi 019

Ternate3

Wakatobi 062

Beberapa hari kemarin saya mengikuti berita tenggelamnya kapal Putri Krakatoa. Betapa terkejutnya, karena belum lama berselang saya berniat untuk ikut perjalanan diving ke area yang sama, Pulau Sangiang, dengan kapal ini. Dan benar, kapal memang tengah melakukan diving trip ketika badai menerjang. Tujuh belas korban yang terkatung-katung di tengah lautan diselamatkan oleh kapal nelayan, sebelum ditemukan lagi sisanya (hingga detik saya menulis ini, 1 orang dari total 23 orang masih belum ditemukan. Semoga Allah memberikan yang terbaik).

Akhirnya melalui nelayanlah pertolongan Allah datang. Mereka yang berhambur melaut begitu badai reda. Menyambut hasil laut yang meruah sehabis badai.

  Wakatobi 054

Sungguh tak ada yang lebih menghayati ayat-ayat tentang lautan dari pada mereka, yang saban hari mengarung hidup dan mencari hidup di luasnya samudera Allah. Para nelayan, nakhoda, peneliti dan petualang laut.

Karena telah ditundukkanNya untuk manusia, maka laut menjadi surga.
Allahu akbar, walillahilhamd..

Pejaten, 1 Ramadhan 1434 H

Wakatobi 077

Lembutnya debur ombak, menyembur tepi sampan nelayan
bersahutan jerit camar, seakan menyapa indahnya senja

Di bawah tegap nelayan, bersimpuh insan yang renta
sinar menyibak luas samudera biru

Terlukis di raut wajahnya, menyentuh alam dan sukma
walaupun usia telah renta, namun jiwa tak gentar

Kau nelayan seputih burung camar, cintamu pada samudera
tiada lelah, menerjang badai taufan
sampai akhir hayatnya


Lagu ini kerap saya nyanyikan sendiri di sela deru angin dan ombak dan mesin perahu. Dan seringkali terharu sendiri. Tentu suara saya kalah lantang oleh camar. Dan air mata sekejap kering tersapu angin. Namun saya serasa camar-camar itu. Meneriaki nelayan yang hebat. Merasakan takut dan lemah mengingat Allah yang menundukkan laut untuknya. Agar diambilnya sebagian rezeki dariNya.

Wakatobi 064

Comments

  1. mba riii... foto2nya bagus bangeeettt pemandangannya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wallillahilhamd.. Segala puji hanya bagi Allah..
      Terimakasih sudah mampir, Sabrina. Namanya cantiiikk sekali :*

      Delete
  2. mba ri..photo dan tulisannya selalu keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segala puji hanya bagi Allah..
      Terimakasih sudah mampir, Winda *hug*

      Delete
  3. Subhanallah foto-foto dan tulisannya sungguh indah, luar biasa bisa menemukan blog ini
    Salam Kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walillahilhamd..
      Salam kenal kembali, terimakasih sudah berkunjung.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …