Skip to main content

Coming Up This July!


Video by Pinot

Ooh, yeah! Gak sabar mau ngumumin ini!

Pada jaman dahulu kala, tapi bukan di jaman jahiliyah, 4 foodblogger perempuan Indonesia bertemu di ranah maya dan saling menggauli melalui blog dan imil. Dua orang tinggal di Kuwait, satu orang di New Zealand, satunya lagi menggapai harapan di Jakarta, Indonesia. Mereka disatukan oleh dua hal yang sungguh menggairahkan: makanan dan fotografi.

Di suatu hari di mana terik matahari asik banget buat njemur kerupuk, mereka memutuskan untuk menulis buku mengenai dua hal tersebut digabung jadi satu: fotografi makanan *pake salaman dan cap jempol darah*. Mereka mengerjakannya selama 8 bulan, dan sekarang buku tersebut dalam perjalanan menuju toko-toko buku di seluruh Indonesia! Hore!

Mereka menamakan diri EmpatRana: Arfi Binsted, Dita Ichwandardi, Irra Fachriyanthi dan *ehm* Riana Ambarsari :)

Here how the book cover will look like:



Food Photography Made Easy


Disini kami bicara tentang fotografi makanan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, sebagaimana kami mempelajarinya in the first place. Kami juga buka-bukaan *hush* tentang studio odong-odong yang kami gunakan untuk memotret, yang sebetulnya sih hanya sebuah meja, sumber cahaya, reflektor sederhana, props, dan bantuan kecil dari putra-putri kami :).

Buku ini diproyeksikan sudah akan tersedia di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia paling lambat tanggal 13 Juli 2011. So stay alert, you will wanna have this, sumpah! *banting kopiah!*

..

Comments

  1. congrats ya! semoga sukses dan bertambah jilid bukunya :)

    ReplyDelete
  2. *pasang alarm tgl 13 july 2011* teeeettt....ngacir ke gramed !!

    ReplyDelete
  3. totally excited... *sampe pengen pasang tenda depan gramed =))) Congrats ya... Mba Riana & friends.. Thank you for generously sharing your passion!

    -jane

    ReplyDelete
  4. Selamat buat bukunya mba... aku mau beli :)

    ReplyDelete
  5. @ all: thank you soooo mat! *hugs all*
    @ ketut epi: epi, kamu mau ngereview bukunya gak buat pcplus? kalo mau ngereview nanti kukirim.

    ReplyDelete
  6. sayangnya pcplus gak ada kolom review buku mba :|

    ReplyDelete
  7. Rianaaa....kau selalu mengejutkan aku dengan segala ulah-mu dan kali ini kroyokan..hmmmm...aku tidak suka memasak..tapi aku suka sekali makanan dan fotografi (you know that!)...so..13 juli aku bantu buka pintu etalase Gramedia secepatnya...*mungut kopiah, lumayan buat lebaran...*

    ReplyDelete
  8. Congrats mbak Nanaaaa dan tiga Rana lainnya...minta tanda tangan, cap bibir, cap jempol :-D

    ReplyDelete
  9. Oh Wow!!! Dream come true ya Mba? Congratulations!!!

    ReplyDelete
  10. @ mbak Ami, Noni, Dina, Rubina: thank youuu soo much for the support *hugs*

    ReplyDelete
  11. Congrats Ri... jangan lupa .. nanti kalo gue beli bukunya.. lu kudu tandatanganin yeah..

    ReplyDelete
  12. @ Tatut: thank you so much! sip, nanti gue kasih cap bibir :D

    ReplyDelete
  13. Salam kenal sebelumnya, kemaren sy langsung cari di Gramedia Lampung. Alhamdulillah sdh tersedia juga bukunya. Kebetulan tertarik dg FP dan baru mulai jeprat jepret makanan hsl karya sendiri..Anyway bukunya bagus banget, cocok buat pemula di FP spt sy...Congratulation...!!

    ReplyDelete
  14. @Mamiek: terimakasiiiih.., semoga bermanfaat ya *hug*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?