Suatu hari di jaman dahulu kala, ketika Friendster adalah Facebooknya hari ini, saya terkejut melihat foto profil seorang sahabat. Halah, kok cakep? Gak mungkin! Hahaha. Sahabat saya hanya tertawa ketika saya tuduh dia operasi plastik bareng Krisdayanti, “It’s all about lighting and angle, Ri.”

Ah, couldn’t be truer! Betapa saya selalu takjub melihat wajah-wajah di cermin kamar mandi hotel dengan lighting yang cantik, lalu seketika berubah lagi ketika lighting ruangan berubah lagi. It really is about good lighting!

Karena saya yang sering menyamar jadi food photographer, lighting is everything, of course. Kami melukis menggunakan cahaya. Seolah cahaya dapat melakukan apapun. Membuat bayangan, mengubah mood, menciptakan imaji, menerjemahkan ekspresi, hingga merangkai cerita.

Ketika menjadi fotografer, saya adalah pengejar matahari. Cahaya matahari adalah yang tercantik! Tapi ketika harus menghadapi sesi foto yang panjang, matahari yang tidak ada remotenya itu pun mau tak mau harus digantikan oleh cahaya buatan yang bisa meniru semirip mungkin cahaya indahnya. Sebaran yang rata, warna putih lunak, pancaran yang tidak menyilaukan.

Ini juga terjadi ketika saya kembali ke identitas asal sebagai home baker alias bakul kue rumahan. Penerangan yang memadai sangat mempengaruhi kenyamanan mengaduk adonan, menilai warna, tingkat kematangan, dari urusan teknis proses produksi hingga pengendalian mood ketika bekerja di dapur. Terlebih lagi ketika hasil baking pun menuntut direkam dalam bingkai gambar. Dapur harus bisa berfungsi ganda sebagai studio foto odong-odong. Yang artinya hanya satu: mutlak memiliki pencahayaan yang baik.

Beberapa minggu lalu saya baru saja menyelesaikan sesi foto untuk buku resep NCC selanjutnya. Ketika break, saya termangu-mangu memperhatikan lampu home-made yang dibikin oleh foodstylist saya untuk studio odong-odong kami. Betapa powerfulnya lampu sederhana ini. Dengannya, bentuk dan mood bisa diubah-ubah. Saya ingat ketika sebuah perusahaan tepung terigu melihat saya memotret dan terkejut betapa sederhananya lampu saya. “When the lighting is good, you don’t need anything else,” jawab saya sambil nyengir lebar. Haha. Terus pikiran saya jadi melayang ke Thomas Alfa Edison *gak ada hubungannya*

Saya memang sangat mempermasalahkan urusan yang satu ini, baik untuk urusan memotret, baking, membaca, maupun penggunaan sehari-hari di rumah. Saya yang paling terganggu jika ada lampu putus dan gak segera diganti, jika ada fitting lampu yang gak terisi, dan paling maksa memilih lampu berkualitas bagus meskipun harganya lebih mahal. Cahaya seharusnya lunak, tidak menyilaukan, panas minimal, sehingga nyaman untuk mata dan suasana. Dan ketika bumi menuntut penghematan energi besar-besaran, maka sudah gak ada tempat lagi lah buat lampu yang boros energi. Buat saya sih, sesederhana kemalasan mengganti lampu tiap kali. Kalo bisa ganti lampu 5 tahun sekali seperti pemilu, kenapa harus setahun sekali?

Nah, pentingnya pencahayaan yang berkualitas ini hanya bisa dipenuhi oleh lampu LED. Sependek yang saya alami sendiri, selain memberikan solusi hemat energi, lampu LED juga memberikan kualitas cahaya superior untuk kenyamanan dalam rentang waktu terlama dibanding jenis lampu lainnya. Teknologi pencahayaan LED memang menawarkan manfaat dan kemungkinan yang tidak dapat dicapai oleh pencahayaan konvensional. Ia bebas timah dan timbal, nyaman, silau cahayanya rendah, memiliki umur yang lebih panjang, tidak memancarkan panas berlebihan dan UV. Teknologi lampu LED memiliki manajemen panas yang efisien. Panas dilakukan oleh built-in sync panas. Jika sebuah bola lampu pijar hanya berhasil mengubah sekitar 8% dari listrik yang dikonsumsinya menjadi cahaya, lampu LED mengubah sekitar 15-25% dari energi yang dikonsumsi diubah menjadi cahaya,sehingga panas yang dihasilkan lebih sedikit.

Semua kualitas superior itu mengakibatkan siklus penggantian lampu LED menjadi rendah, yang mana buat saya ini adalah bonus paling top! Secara signifikan ini mengurangi biaya pemeliharaan dan menjaga kewarasan  yang dapat sedikit terganggu karena sebentar-sebentar harus ganti bola lampu :).

Urusannya akan beda lagi ketika harus memilih merk lampu LED, secara berbagai macam merk tersedia di supermarket hingga pasar tradisional. Yang paling tepat adalah memilih merk yang sudah leading sejak lama, yang konsumsi energinya bisa menghemat hingga 80% lebih kecil dari lampu pijar atau halogen, yang berarti penghematan biaya tagihan listrik.

Teknologi memang seharusnya semakin murah, semakin accessible dan membuat hidup manusia menjadi lebih baik, bukan begitu?

Saya selalu kagum dengan para desainer interior, terutama ketika mereka sudah bermain dengan pencahayaan. Ketika warna, posisi, intensitas cahaya digabungkan dengan geometri dan konsep desain, hasilnya sungguh dapat mempengaruhi hidup seseorang! Pencahayaan lampu LED memungkinkan para arsitek dan interior designer menciptakan bentuk desain baru yang tak terbatas. Ambians yang dihasilkan pun berkualitas premium, karena lampu LED light dapat diredupkan sesuai keperluan atau dimmable, memiliki pilihan cahaya putih yang hangat maupun dingin, dan efek pencahayaan berkilau yang memberikan aksen pada benda tertentu.

Salah satu lighting yang sangat saya sukai adalah pencahayaan untuk membaca. Sederhana. Tapi buat saya, lampu baca itu indah sekali! Dan umumnya diciptakan dengan aneka desain lampu maupun cahaya yang sangat artistik dan ergonomis, sesuai dengan kegiatan manusia yang sangat nikmat itu. Saya ingat waktu pergi liburan malah bela-belain membeli sebuah lampu baca. Semacam oleh-oleh yang aneh! Karena dan hanya karena, yah itulah.. good lighting is everything!

Ehm, sebenernya sih saya cuma mau bilang bahwa pencahayaan sering dianggap sepele dan gak pernah terlalu dipikirkan. Buat saya, hal itu sesederhana dan serumit rasa dan mata manusia.You know, everything can feel and look different under different lighting.

They say nothing new under the sun. Yet for me, everything is always new under a good lighting. 'Nuff said.

---