...

..Allah mengingatkan kami, akan Ramadhan & Idul Fitri yg mungkin tidak akan kami temui lagi...
Lebaran berlangsung seperti biasa, di Serpong. Kali ini berkurang satu keluarga (gak ngitung yang di Pagaralam dan di Pennsylvania), kakak nomor tiga lebaran di Solo sekeluarga, di kampungnya kakak ipar. So rumahnya kita pake buat ngumpul, hihihi..

Ini adalah lebaran yang roller coaster. Dua hari sebelum malam takbiran, gue kena virus Chikungunya. Dokter sih gak nyuruh diopname. Tapi gue yang minta. Abisnya ngeri, belom pernah ngalamin yang kayak gini. Kirain kena DB udah yang paling menderita, ternyata ini lebih menderita lagi. I even thought I couldn't make it! The pain was just too much. Kesadaran gue paling cuma 20%.
Anehnya, esok paginya gue terbangun dengan badan sehat dan segar bugar! Kayak gak pernah sakit sama sekali! Aneh gak?? Mengingat malam sebelumnya gue practically passed out! Subhanallah.. subhanallah.. Sampe sekarang, tiap kali inget penderitaan gue waktu itu, cuma bisa istighfar. Ya Allah. Baru sedikiiiiit aja nikmatNya Dia ambil, gue udah kelojotan. Astagfirullah, ya Allah..

Karena badan udah seger, hasil darah bagus, sorenya gue udah boleh pulang. Alhamdulillah.. Seneng gak terkira bisa malam takbiran di rumah. Rasa lega dan gembira gue gak bisa dilukiskan dengan kata-kata deh. Hihihi.. jadinya di rumah sakit gak sampe 24 jam. Alhamdulillah.. ya Allah, alhamdulillah..

Setelah ngebayangin lebaran bakalan asik dan seru, ketika nyampe di Serpong, giliran Topaz yang kena Chikungunya! Ya Allah, ya rahman, ya rahim, semoga engkau luruhkan dosa kami, ya Allah. Akhirnya Topaz terpaksa pulang lagi ke Pejaten sementara kita pergi ziarah ke Ayah-Mama. Topaz nyuruh gue tetep tinggal di Serpong, karena dia memperkirakan kondisinya gak akan separah gue. Dan, syukurlah memang benar.

Gue udah mulai gembira dan lega ketika tau keadaan Topaz gak separah gue, dan bisa istirahat di rumah. Ketika sebuah kabar duka datang di Senin Subuh, sepupu gue meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.

Almarhumah meninggal karena levernya bengkak dan ada batu dalam empedu. Meninggalnya sungguh indah, karena terus menyebut nama Allah menjelang pergi. Dan meninggal tepat setelah dosa-dosa dilebur dalam satu bulan penuh puasa. Almarhumah masuk rumah sakit tepat di malam takbiran. Subhanallah. Betapa sebuah kematian yang penuh kemenangan. Beliau memang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menemani, melayani, menuruti, meladeni kedua orang tuanya. Terakhir gue bertemu dia di resepsi perkawinan salah seorang sepupu yang lain, wajahnya terlihat lelah.

Ketika subuh itu kakak gue menerima kabar duka tersebut, kita hanya bisa berpandangan. Sebab orang tua beliau, belum lama ini baru kehilangan putra bungsunya. Dan sekarang harus kehilangan putri sulungnya. Betapa berat cobaan oom gue ini. Oom gue ini adalah seorang ustadz. Nampaknya cobaan yang beliau terima juga beda dengan orang biasa, ya.

"Ya Allah, Devi sekarang sendirian..," demikian yang gue dan kakak berulangkali ucapkan. Devi adalah anak tengah tiga bersaudara mereka. Ketika kita menyalami oom gue di rumahnya pada saat melayat, beliau sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Sementara gue juga sibuk menenteramkan gelisah hati, jika nyawa gue juga dicabut sekarang, apakah sudah lebur dosa gue? Apakah idul fitri sudah berarti kembali sucinya jiwa gue?

Keesokan hari, acara lebaran kita lanjutin lagi. Bagi-bagi angpau untuk para keponakan, silaturahmi ke rumah kakak Mama, makan-makan, jalan-jalan (kakak nomor empat belanja-belinji, mumpung ketemu toko khusus Adidas discount sama toko pernak-pernik Beatles resmi). Sambil duka itu masih menggantung. Dan gelisah itu masih memilin hati.

Kita bubaran Rabu malam. Allah mengingatkan kami semua -- the hard way! -- akan Ramadhan yang mungkin tidak akan kami temui lagi, dan Idul Fitri yang mungkin tidak akan kami rayakan lagi.



...