Skip to main content

Lebaran 2007

...

..Allah mengingatkan kami, akan Ramadhan & Idul Fitri yg mungkin tidak akan kami temui lagi...
Lebaran berlangsung seperti biasa, di Serpong. Kali ini berkurang satu keluarga (gak ngitung yang di Pagaralam dan di Pennsylvania), kakak nomor tiga lebaran di Solo sekeluarga, di kampungnya kakak ipar. So rumahnya kita pake buat ngumpul, hihihi..

Ini adalah lebaran yang roller coaster. Dua hari sebelum malam takbiran, gue kena virus Chikungunya. Dokter sih gak nyuruh diopname. Tapi gue yang minta. Abisnya ngeri, belom pernah ngalamin yang kayak gini. Kirain kena DB udah yang paling menderita, ternyata ini lebih menderita lagi. I even thought I couldn't make it! The pain was just too much. Kesadaran gue paling cuma 20%.
Anehnya, esok paginya gue terbangun dengan badan sehat dan segar bugar! Kayak gak pernah sakit sama sekali! Aneh gak?? Mengingat malam sebelumnya gue practically passed out! Subhanallah.. subhanallah.. Sampe sekarang, tiap kali inget penderitaan gue waktu itu, cuma bisa istighfar. Ya Allah. Baru sedikiiiiit aja nikmatNya Dia ambil, gue udah kelojotan. Astagfirullah, ya Allah..

Karena badan udah seger, hasil darah bagus, sorenya gue udah boleh pulang. Alhamdulillah.. Seneng gak terkira bisa malam takbiran di rumah. Rasa lega dan gembira gue gak bisa dilukiskan dengan kata-kata deh. Hihihi.. jadinya di rumah sakit gak sampe 24 jam. Alhamdulillah.. ya Allah, alhamdulillah..

Setelah ngebayangin lebaran bakalan asik dan seru, ketika nyampe di Serpong, giliran Topaz yang kena Chikungunya! Ya Allah, ya rahman, ya rahim, semoga engkau luruhkan dosa kami, ya Allah. Akhirnya Topaz terpaksa pulang lagi ke Pejaten sementara kita pergi ziarah ke Ayah-Mama. Topaz nyuruh gue tetep tinggal di Serpong, karena dia memperkirakan kondisinya gak akan separah gue. Dan, syukurlah memang benar.

Gue udah mulai gembira dan lega ketika tau keadaan Topaz gak separah gue, dan bisa istirahat di rumah. Ketika sebuah kabar duka datang di Senin Subuh, sepupu gue meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'uun.

Almarhumah meninggal karena levernya bengkak dan ada batu dalam empedu. Meninggalnya sungguh indah, karena terus menyebut nama Allah menjelang pergi. Dan meninggal tepat setelah dosa-dosa dilebur dalam satu bulan penuh puasa. Almarhumah masuk rumah sakit tepat di malam takbiran. Subhanallah. Betapa sebuah kematian yang penuh kemenangan. Beliau memang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menemani, melayani, menuruti, meladeni kedua orang tuanya. Terakhir gue bertemu dia di resepsi perkawinan salah seorang sepupu yang lain, wajahnya terlihat lelah.

Ketika subuh itu kakak gue menerima kabar duka tersebut, kita hanya bisa berpandangan. Sebab orang tua beliau, belum lama ini baru kehilangan putra bungsunya. Dan sekarang harus kehilangan putri sulungnya. Betapa berat cobaan oom gue ini. Oom gue ini adalah seorang ustadz. Nampaknya cobaan yang beliau terima juga beda dengan orang biasa, ya.

"Ya Allah, Devi sekarang sendirian..," demikian yang gue dan kakak berulangkali ucapkan. Devi adalah anak tengah tiga bersaudara mereka. Ketika kita menyalami oom gue di rumahnya pada saat melayat, beliau sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Sementara gue juga sibuk menenteramkan gelisah hati, jika nyawa gue juga dicabut sekarang, apakah sudah lebur dosa gue? Apakah idul fitri sudah berarti kembali sucinya jiwa gue?

Keesokan hari, acara lebaran kita lanjutin lagi. Bagi-bagi angpau untuk para keponakan, silaturahmi ke rumah kakak Mama, makan-makan, jalan-jalan (kakak nomor empat belanja-belinji, mumpung ketemu toko khusus Adidas discount sama toko pernak-pernik Beatles resmi). Sambil duka itu masih menggantung. Dan gelisah itu masih memilin hati.

Kita bubaran Rabu malam. Allah mengingatkan kami semua -- the hard way! -- akan Ramadhan yang mungkin tidak akan kami temui lagi, dan Idul Fitri yang mungkin tidak akan kami rayakan lagi.



...

Comments

  1. duka gak kenal waktu ya Ri...
    curious aja nih, kenapa kalo cuma sakit batu empedu koq sampe meninggal? bengkaknya liver itu karena efek empedu? mungkin udah lama sakit tapi gak di check?

    ReplyDelete
  2. Kayaknya yang terakhir deh. Udah lama sakit gak dicek. Sebelumnya sering ngeluh sakit perut, tapi gak diperiksa sampe dalem gitu.

    ReplyDelete
  3. aduh sayang sekali ya gak diperiksa. soalnya batu empedu itu gampang diobatin, cuma perlu di USG lalu dioperasi, sembuh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…