...

...Pada akhirnya,
orang yang

tidak saya mengerti adalah diri saya sendiri...
Biarkan saya bertutur tentang dia. Seseorang yang tidak pernah saya mengerti sesungguhnya. Orang yang memikul beban berat seumur hidupnya. Namun terlambat dihargai sepenuhnya.

Ini kisah tentang ayah saya. Bukan kisah hidupnya, tapi kisah kegagalan saya menghargainya.

Ayah adalah laki-laki sesungguhnya. Penafkah ulung yang bekerja keras sepanjang hidup, melakukan segala sesuatu sesuai standard kesempurnaannya. Jika sesuatu layak dilakukan, ia harus dilakukan dengan benar. Seorang perfeksionis.

Allah menganugerahinya dengan karisma luar biasa. Ayah sangat dihormati kerabat dan tetangga. Imam di masjid dan musholla, dengan berjuz-juz Al-Qur’an dihafalnya luar kepala.

Ayah adalah laki-laki yang kekuatan pikiran dan semangat hidupnya mengalahkan semua hambatan. Menempuh berkilo-kilo meter jalan kaki menuju sekolah, menaklukkan Jakarta, meraih sarjana muda, mendaki jenjang pegawai negeri hingga tiba masa pensiun. “Dulu ayah jual baju ke tukang loak untuk ongkos ke kantor!”

Sambil ia memanggul sebuah keluarga besar: seorang istri calon penghuni surga, dan tujuh anak pemberontak yang sedetikpun tak berhenti memberinya masalah berat.

Sambil ia diganduli adik-adik, keponakan, yang mengandalkannya untuk seribu satu macam urusan: mulai sebuah kursi di kantor, biaya ini itu, hingga tetek bengek yang, mau tidak mau, melekat pada status si anak sulung yang sudah mapan di Jakarta.

Ayah hampir tidak pernah sakit, meski perokok berat, peminum kopi sejati, penggemar sop kaki kambing. Batuk, pusing, flu, “harus dilawan!”

Namun mungkin, cobaan terberat yang pernah ia terima tak lain adalah anak-anak yang tidak mengerti dia.

Ketika kekerasan hatinya saya terjemahkan sebagai ayah yang pemarah.
Ketika larangannya saya artikan sebagai ayah yang tidak mau mengerti.
Ketika perintah-perintahnya saya tangkap sebagai ayah yang kejam dan otoriter.
Ketika niatnya untuk berbincang akrab tidak saya indahkan karena rasa tidak nyaman tanpa alasan yang menyungkupi tempurung pikiran saya sendiri.
Ketika keinginannya akan kesempurnaan saya uraikan sebagai ayah yang sulit dipuaskan.

Saat ayah pergi, jejak-jejak kesempurnaan yang ditinggalkannya membuat hidup anak-anaknya menjadi sangat mudah. Dokumen yang tersusun sempurna, lengkap sempurna. Perencanaan berbagai urusan yang matang sempurna. Bahkan kematiannya ia siapkan dengan sempurna.

Saya menangis tak berhenti ketika menuliskan ini. Sambil susah payah mengatur nafas, mengimbangi sesak yang kian mengilu memeras dada. Berkali-kali saya harus berhenti, untuk tersengguk keras bagai bocah kecil putus asa. Karena saya tidak pernah sanggup berkisah tentang dia. Saya kerap menunggu. Berharap mungkin kelak, ketika sisi manusia saya sudah bertumbuh lebih kuat, saya akan menuliskannya. Dan itu akan jadi pencapaian terbesar yang pernah saya buat.

Karena menuliskannya, berarti saya mengerti. Dan tiba di ujung perjalanan luka, yang masih menganga karena sesal tak berkesudahan.

Pada akhirnya, yang tidak saya mengerti adalah diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya meragukan kualitas seseorang yang bacaan favoritnya adalah tafsir Al-Qur’an?

Ayah, saya mengerti sekarang.



-----------
Tolong hentikan air mata ini, ya Allah. Izinkan saya berdamai dengan diri sendiri. Izinkan saya berkumpul dengan mereka lagi kelak, wahai Sang Maha Tinggi.



...