Skip to main content

Cerita Manusia

...
Ditatapnya wajah sang pemilik perusahaan dengan tatapan setajam pedang, "Saya percaya bapak orang baik. Hanya saja bapak mudah tertipu oleh orang-orang jahat di sekitar bapak," ucapnya tegas nyaris berdesis, bercampur tangis dan wajah basah oleh air mata.

Wajah sang boss besar mendadak pias. Matanya seperti bertanya-tanya tak mengerti. Tak sanggup berkata apa-apa mendengar kalimat terakhir pegawainya tersebut.

Wajah pias itu tak pernah dilupakannya. Wajah kosong nyaris dungu, seolah-olah seketika meragukan semua penilaian yang dibuatnya sendiri.

Dengan dada masih sesak oleh emosi, dihempaskan tubuhnya ke jok taksi yang sudah menunggu dengan OB yang sibuk memasukkan barang-barangnya ke bagasi. Setelah menyebutkan tujuan, tangisnya pun pecah. Pak supir taksi yang baik hati bertanya ada apa. Jawabannya nyaris tak tertangkap telinga karena tangis dan amarah yang amat kental,"Saya difitnah pak..."

Hari itu, hari yang amat berat. Ia setengah tak percaya ada mahluk-mahluk bermuka amat manis namun berhati teramat busuk. Bahkan hingga sekarang pun ia masih terpukau ketika mengingatnya.

Namun Allah memang maha memberi pelajaran. Keesokan harinya ia terbangun pagi-pagi. Masya Allah. Semua rasa sakit hilang tak berbekas! Semua sedih, sakit karena fitnah, marah karena ketidakadilan, ternyata hilang pagi itu bagai terbasuh embun. Yang hadir malah rasa lega yang melapangkan, pasrah yang menenangkan, bahagia yang memaafkan.

Hidup pun dimulainya lagi dengan hati ringan dan gembira. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimushsholihat. Pagi itu, dengan mudah ia memaafkan semua, tanpa usaha. Orang, peristiwa, segalanya. Dikenangnya setiap orang dan peristiwa bagai mengenang sebuah film komedi situasi yang baru ditonton. Hanya sebuah episode dalam rangkaian musim yang panjang untuk ukuran manusia. [Oh, ingin segera beli Tesaurus Bahasa Indonesia! Kosa kata saya miskin sekali!]

Berita itu datang dari seorang teman baik yang selalu dirinduinya, yang meninggalkan pesan singkat di YM, "Check this out ____ [alamat sebuah berita di JakNews]."
T____ _____ Direktur PT T______ dijatuhi hukuman 6 tahun penjara karena kasus korupsi dengan lembaga bla-bla-bla..
Hanya setahun berlalu sejak siang penuh emosi di lobby sebuah gedung perkantoran di kawasan Buncit itu. Hanya setahun. Tidak ada dendam, apalagi benci. Hanya sejimpit rasa kasihan. Teringat wajah pias nyaris dungu itu. Sorot mata yang bertanya-tanya, yang mendadak ragu akan semua keputusan yang dibuatnya.

"Ah, pak T. Saya masih percaya anda orang baik," lirihnya sambil menutup jendela browser.



...

Comments

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…