Skip to main content

Kellinciku, Kelinciku, Kau Manis Sekali

...
Kelinci

Yaaaaah, begini deh kalo belom punya buntut. Yang dipotoin kalo gak makanan, benda-benda diam yang tak mampu melawan, atau bonbin depan rumah.

Karena itu marilah kita bernyanyi lagunya Chicha Koeswoyo jaman dahulu kala. Everybody sing!

Kelinciku, kelinciku, kau manis sekali
Melompat kian kemari, sepanjang hari
Aku ingin menemani, sepulang sekolah
Bersamamu lagi, menari-nari..

Kelinciku ----- sang by Chicha Koeswoyo

Seeing The Future Together

Doi berdua belom ada namanya sejak dibeli waktu masih kecil dulu. Udah segede gini, namanya masih 'kelinci' aja. Namain donk!

We'll Always Be Together

...

Comments

  1. pertama............hehehe
    hmm kasih nama "bona-boni" aja mbak... :P lucu banget sih kelincinya...

    ReplyDelete
  2. Dulu waktu aku kecil, pernah punya 2 ekor kelinci. Yang warnanya abu2 namanya Hendrik, yang kecoklatan warnanya Okak (pelesetan dari cokelat:-p). Tapi karena ini warnanya putih...., hhmmmm...
    Oh, no!!! Jangan dikasih nama Bianca ya...! :(
    (bianca artinya putih :))

    ReplyDelete
  3. lucu banget...dulu kelinciku warnanya aneh-aneh. kalo ga abu-abu ya coklat:-D yang putih mati melulu

    dan di lembang, itu sate kelinci ko bisa laris ya?? tega hix hix hix

    ReplyDelete
  4. Niam said...

    *-edited-

    dan di lembang, itu sate kelinci ko bisa laris ya?? tega hix hix hix

    hmmm....awas ya jangan kepikiran bkn sate klinci.....(ini mgkn kata si kelinci lucu)

    ReplyDelete
  5. cukup lucu, cuma matanya kok kayak horor begitu ya?

    ReplyDelete
  6. Gemes gemes gemes! Kiyut buanget terwelu panjenengan itu, jeng Riana.

    ReplyDelete
  7. jd inget dl py kelinci namanya sybil (gara2 baca buku).. skrg siy dah mati.. mbak riana ini bikin sirik aja deh, ga moto makanan, moto apa aja, pasti slalu bagus.. btw blog dapurnya dah aku link ya, he3..

    ReplyDelete
  8. kelinci aja jadi tambah cakep kalo difoto mbak Riana.
    foto aku dong mbak.. ;)

    ReplyDelete
  9. Mbak Riana, dakuw mampir niy.
    Liat foto kelinci2 ini, jd inget 10 th yll, wkt belom nikah gw pernah punya kelinci putih, mirip bgt ama punya Mbak Ri. Dikasi temen kerja yg kebetulan tinggal di Bogor. Trus tu baby klinci gw bawa dari kantor ke rumah ortu di Ps Minggu naek metro mini S62. Serunya gak dpt tempat duduk, jd bediri spanjang jalan... trus si klinci pipis pulak.Stress kali ya...he..he..
    Si klinciku itu dinamain Texas (gw lupa dari mana awal nama itu).

    ReplyDelete
  10. dikasih nama peter rabbit aja...hehehe.

    kelincinya lucu banget :)

    ReplyDelete
  11. Aku dulu waktu kecil punya kelinci. Tapi setelah itu hilang. Sayang banget.
    Aku seneng kelinci karena hidungnya yang selalu gerak-gerak luttuuuuu...gitu.

    ReplyDelete
  12. Niam:
    Gak bisa buka profilemu neeeeh..

    Dhika:
    Kelincinya emang kelinci albino. Jadi matanya horror, hohoho...

    All:
    Dikasih nama Kocar sama Kacir aja. Atau Mondar sama Mandir. Hihihi...
    Atau Sayur sama Mayur. Huahaha..

    ReplyDelete
  13. namain bobo sama coreng aja gimana? ato titi teliti sama tutup pintu (yey...emangnya keluarga bobo..)

    ya udah lah.. sayur mayur seru juga kok.. (pasrah)
    :D

    ReplyDelete
  14. Mbak, aku juga belon punya buntut tapi gak punya kelinci...jadi maen apa'an ya...hehehe. Dulu juga pnya kelinci di rumah, satu ekor, warna hitam. tapi yang pelihara adikku. kalo mbak pelihara kelinci, apa jadi terpengaruh juga ga mau makan sate kelinci? berarti gak akan ada resep sate kelinci di blog kitchennya doong? Wah, aku jadi inget, di Tawangmangu, banyak orang jual sate kelinci...(dan aku pernah nyicip..:( kalo liat foto kelinci di blog ini, jadi nyesel, hiks)

    ReplyDelete
  15. gimana kalo Keli dan Inci...kekekekekekk....garing.com!

    ReplyDelete
  16. Usul 1 lagi: cheese cake & choco cake :-p
    BTW, mbak bantuin aku ngerjain PR berantai ya... :)
    PR-nya ada di blog ku. Ngerjainnya entar aja..., kalo bikin kue buat lebarannya udah selesai :D

    ReplyDelete
  17. gimana kalo namain yg satu hoppity yg satu lagi hop. kan kalo dipanggil jadi "hopitty-hop!" LOL

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…