...
...Saya selalu berpikir bahwa
orang-orang baik selalu dipanggil lebih dahulu...
Ketika kita menyampaikan penghormatan terakhir kepada seseorang yang berpulang, apa yang akan kita sampaikan? Kebaikan-kebaikan beliau di masa hidupnya, permohonan maaf, dan doa.
Hari ini, dan mungkin masih akan berlanjut di hari-hari berikutnya, ratusan orang menyampaikan kata-kata indah dan doa mengiringi kepergian Inong. Betapa beliau telah mengubah hidup mereka (termasuk hidup saya). Betapa beliau telah menjadi sahabat, guru, dan sumber inspirasi yang tak kan lekang dari ingatan (termasuk dari ingatan saya). Insya Allah, pahala akan terus mengalir dari ilmu yang terus diamalkan.

Saya tidak akan menambahinya dengan koleksi panjang prestasi dan kebaikan Inong yang sudah diketahui banyak orang. Bagaikan selebritis di jagat maya, rasa-rasanya tidak ada netters Indonesia yang tidak pernah bersinggungan kontak dengan si pencinta warna ungu ini.

Di sore yang menyesakkan nafas ini, saya hanya ingin menyembuhkan gundah hati.

Hati saya memang gundah sejak kemarin, sejak mendengar dan menyadari harapan yang semakin tipis. Gundah karena sedih, dan rasa bersalah. Sedih tidak bisa bertegur sapa lagi. Rasa bersalah karena beberapa bulan belakangan ini tidak sungguh-sungguh menyempatkan diri melakukan kontak, dan minta maaf atas semua salah saya. Saya hanya berniat, berniat, tapi tak kunjung dilakukan. Kontak terakhir saya adalah beberapa bulan lalu, ketika saya meninggalkan pesan di shoutbox beliau. Setelah itu beberapa kali saya berniat kontak lagi, tapi entah kenapa selalu tidak jadi. Padahal, pasti banyak salah saya yang belum saya mintakan maafnya. Pasti banyak saya menyakiti hatinya. Akankah Inong memaafkan saya?


...Bisa jadi, kita-kita
yang belum 'berangkat' inilah yang harus ditangisi..
Beberapa tahun lalu, Fahmi, sepupu saya, meninggal dunia di usia yang masih sangat muda, 30-an tahun. Ia seorang lelaki yang hampir sepanjang hidupnya digunakannya untuk menemani kedua orangtuanya. Sejak kecil, seingat saya, kemanapun orangtuanya pergi, ia selalu ikut. Di tiap acara keluarga, ia selalu hadir. Setelah dewasa, ia adalah supir abadi kedua orangtuanya, baik bepergian keluar kota, apalagi di dalam kota. Sampai-sampai kakak saya menganggap ia orang yang aneh, karena tidak pernah punya kehidupan pribadi. Jangankan teman wanita, teman pria pun seperti tidak punya. Betul-betul, hidupnya diabdikan untuk menemani orangtua. Hingga tiba saatnya beliau harus bekerja. Orangtuanya sudah pensiun, sehingga tidak lagi banyak keharusan mengantarkan mereka kesana kemari. Ia bekerja kurang lebih setahun, kemudian sakit dan meninggal dunia. Orangtua dan kakak-kakaknya amat sangat bersedih hati. Anak laki-laki satu-satunya yang paling diharapkan, kesayangan keluarga, masih muda, masih banyak cita-cita yang ingin diraihnya, demikian sang kakak curhat kepada kami.
Saya sendiri mengikhlaskannya dengan mencoba mengerti skenario Allah. Mungkin, tugasnya di dunia sudah selesai. Yaitu menemani orangtua sampai saat ia masih bisa. Ketika sang orangtua sudah merasa cukup dan mengikhlaskan sang anak untuk memiliki hidupnya sendiri, maka tugasnya selesai. Dan Allah segera mengambilnya kembali. Waktu yang paling tepat menurut Allah, walaupun kadang tidak terbaca oleh manusia.

Saya selalu berpikir bahwa orang-orang baik selalu dipanggil lebih dahulu. Untuk menghindarkan mereka dari dosa lebih banyak. Dan amalan mereka sudah cukup untuk membawa mereka ke pintu surga. Tugas di dunia sudah mereka tunaikan. Mungkin, Allah memanjangkan umur saya karena amalan saya belum cukup banyak untuk menyelamatkan saya kelak di akhirat. Memberi saya waktu untuk tobat atas segala dosa, dan minta maaf kepada banyak orang. Mungkin tugas saya di dunia belum juga saya tunaikan. Saya yang masih 'mengantri' ini memang sepatutnyalah gundah dan was-was. Seperti Fahmi, berapa persen dari hidup saya yang sudah saya habiskan untuk berbakti pada keluarga? Seperti Inong, akankah saya juga dikenang dan didoakan banyak orang? Bisa jadi, kita-kita yang belum 'berangkat' inilah yang harus ditangisi.

Sore ini, saya tidak ingin menangisi perginya Inong, atau mendera diri dengan rasa bersalah (walaupun belum-belum saya sudah rindu komentarnya, smsnya, semua tentangnya). Karena saya yakin Allah mengambilnya di waktu yang paling tepat. Untuk kebahagiaan Inong, dan untuk 'menempeleng' saya, bahwa minta maaf tidak cukup hanya di niat. Dan silaturahmi tidak cukup hanya di dalam kepala.

Sudah jam 18.03. Saya harus bergegas ke Buaran.

...