Skip to main content

Pada Sebuah Angkot

Suatu hari, 2003

Sebuah angkot, berjalan di jalanan panas berdebu Kali Malang, sekitar pukul 5 sore, hari kerja. Angkot berhenti mengambil penumpang. Masuklah seorang ibu, usia 30-an, duduk tepat di belakang supir. Mereka mulai mengobrol.

"Bang..."
"Eh bu, mau kemana?"
.......... ngobrol gak penting....
"Gimana suami?"
"Yah, gitu deh, Bang. Suami gak bisa kerja yang lain."
"Emang gak bisa kerja lain selain jadi tukang sepatu?"
"Gak bisa."
"Ya situ mesti cari duit juga."
"Iya, saya sih mau."
"Mendingan buka warung rokok. Modalnya lima ratus ribu udah cukup. Asal rajin belanja ke pasar tiap hari."
"Iya gitu, bang?"
"Kalo warung rokok kan enak, tiap hari nungguin ya di situ aja. Tidur, makan di situ. Bisa gantian sama suami. "
"...."
"Yang penting tiap hari belanja ke pasar, beli rokok, permen, kacang. Nanti yang dipajang sih rokoknya macem-macem, tapi belanjanya yang sering dibeli orang aja. Palingan bayar preman tiap hari, atau kasih dia rokok."
Si ibu terus mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan pertanyaan dan persetujuan.
"Nanti saya bikinin warungnya. Sekarang cari dulu lima ratus ribu, jadi dah tuh warung. Lumayan hasilnya."
"Iya, ya."
"Atau jualan kaca mata juga lumayan. Tuh banyak orang cirebon yang dapet banyak, jualan kaca mata," sambil menunjuk pedagang ceng-dem di pinggir jalan.
Si abang angkot meneruskan penjelasannya,"Beli kaca matanya di Tangerang tuh, bawa ke sini. Lumayang untungnya. Banyak juga yang beli."

Seorang wanita bekerja, duduk di samping supir, matanya berkaca-kaca. Tadi malam ia masih mengeluh: gaji kurang gede, kantor terlalu jauh. Kalau saja ibu dan bapak supir itu tau, berapa yang ia peroleh dengan pasti dalam sebulan (yang jumlahnya kemarin ia rasakan begitu kecil), hanya dengan melakukan pekerjaan yang bisa ia lakukan sambil merem. Tanpa keringat, karena ruangan ber-AC. Tanpa usaha terlalu serius. Mungkin mereka sudah menempeleng kepalanya atau mengusirnya keluar dari angkot.

Tempeleng saya, ibu yang baik. Usir saya, bapak supir. Itu masih terlalu ringan untuk keserakahan hati saya. Keserakahan hati manusia yang tidak mampu bersyukur.

Comments

  1. Riana, gue gak tau mau kasih tau elo dimana...elo dapet VH1 gak disana? disini, hari Selasa depan jam 11 pm EST/8 pm PST ada acara StoryTeller. Dave Matthews Band bakal perform selama 1 jam. Kayaknya acaranya baru deh...

    ReplyDelete
  2. Ri, kayaknya gue juga musti ditempeleng deh...Astagfirullah..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …