Lumba-Lumba di Perairan Pulau Kapota

Pagi hari, adalah waktu di mana hewan-hewan keluar mencari makan. Saya ingat sebuah pelayaran satu pekan melintasi Laut Halmahera hingga ke Nuu Waar, pagi hari usai subuh di mana yang lain terkantuk-kantuk di kabin, saya pasti ada di atap kapal, menikmati laut lepas yang ramai oleh elang, camar, bangau laut, juga.. lumba-lumba!

Subuh mentas di Wanci, berkemas, dalam waktu singkat kami sudah di perairan Pulau Kapota, di selatan P. Wangi-Wangi. Dalam keremangan subuh, seketika saya menyadari, betapa ramainya perairan ini sudah! Dalam sekejap kami sudah bergabung dengan belasan nelayan yang juga turut serta dalam keriaan mencari makan bersama para hewan, memanen rejeki Allah yang disebarkanNya di segenap penjuru alam, untuk semua mahlukNya tanpa terkecuali. Allahurrahman.

Di perairan Pulau Kapota yang luas, dalam remang sapuan lembut matahari jelang syuruq, tampak nelayan bertebaran menjala ikan. Masya Allah, what a view.

Wakatobi 026

By Indhira Kinong
Dan.. hop! Satu lumba-lumba melompati mereka! Lalu satu di sisinya, lalu satu di sisi lain, satu lagi lebih ke tengah, .. satu lagi, ..satu lagi, ..lompat-melompat di sekeliling mereka seperti ikut bergembira menyambut para pencari rejeki Allah. Di sinilah saya baru mengetahui bahwa Allah menciptakan lumba-lumba sudah built-in dengan kemampuan melompat dalam aneka gaya tanpa harus diajari pelatih manapun. Lompatan normal melengkung, lurus menukik, melintir spiral, lompat terbalik, salto, mengibas ekor, ..aaah, mereka memang sungguh sangat senang melompat! Makin kami bersorak kesenangan, mereka makin atraktif! Satu lumba-lumba, a big one, ultimately melompati atap boat kami dalam satu lompatan yang sangat tinggi. Bagaimana mereka mengukur tinggi kapal lalu melompat sedemikian akurat? Masya Allah. Afala ta'qilun (tidakkah kamu berpikir)? Masihkah kamu bilang Tuhan tidak ada?

By Indhira Kinong
Memotret lumba-lumba was a whole different story. Mereka bergerak demikian cepat, tiba-tiba, tidak terduga muncul dan silamnya. Dalam tiap perjalanan memang selalu ada dilema antara menikmati atau memotret. Untuk mengabadikan mereka, you need to sharpen your high speed and high burst shooting. Di pagi dengan mendung tipis menggantung seperti yang kami alami, dengan kamera entry level tua renta, mendapatkan foto ini sudah prestasi :D. Indhi kayaknya berhasil dapat lebih cakeb sih, haha.. But well, semakin hari saya semakin gak terlalu peduli sama foto, mwaaa.. *jangan bubar yaaa*

Wakatobi 027

Wakatobi 076

Matahari semakin tinggi, kami harus segera menyudahi kencan bersama para nelayan dan mamalia laut nan ramah dan lucu ini. *Kelak saya ketemu yang guedeeee banget di laut Derawan*

Dadah-dadah donk ke para bapak nelayan yang sejak tadi nyengir aja ngeliatin kita yang norak parah.   Lalu segera menuju pelabuhan kecil tempat kapal umum reguler datang dan pergi membawa penduduk dari pulau ke pulau. Ke Pulau Hoga we were to sail, tempat fasilitas Project Wallacea dibangun dan dilakoni sejak bertahun lalu.

..to be continued.

Next: 

Operation Wallacea, Laboratorium Kelautan di Jantung Segitiga Karang Dunia