Skip to main content

Catatan Kajian: How Selfie Are You?

Kajian yang makjlebb, setahun lalu di AQL Islamic Center. Bukan cuma urusan selfie, tapi juga tentang narsisme dan kepada siapa kita seharusnya narsis.

Ini pertama kalinya saya posting catatan kajian. Maafkan jika banyak kekurangan dan mungkin sulit dipahami. Semoga Allah memudahkan jalan perbaikan untuk postingan-postingan berikutnya.
Seberapa Selfie-kah Kamu? 
Ustadz Deka Kurniawan
Kajian Q-Gen, AQL Islamic Center
14 September 2014



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." [Q.S. Ali Imran 3:102]

How? Bukankah mati adalah hak prerogatif Allah?
  • Ayat ini mengandung arti sebaliknya. Hiduplah dengan islam. Janganlah hidup selain dengan kehidupan yang islami. Hanya dengan cara itulah kita bisa mati dalam Islam, sesuai perintah ayat di atas.
  • Telunjuk kanan, jari tengah, jari manis, kelingking, kelingking kiri.. dst. Cara memotong kuku sesuai sunnah rasul. Apalagi hal-hal yang besar.
  • Pesan ayat ini adalah untuk mengaudit tiap jengkal hidup kita. Cara hidup, cara bicara, cara berpakaian, dll. Selfie adalah salah satunya. 
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". [Q.S. Al Baqarah 2:131]


وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 


"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." [Q.S. Al Baqarah 2:132]
  • Jangan sampai kita lahir sebagai orang islam tapi mati dalam keadaan tidak sempurna keislamannya. Betapa rugi! Dan ini dicamkan oleh Allah dan para nabi. 
  • Tidak ada urusan yang belum diajarkan oleh Allah melalui Rasulullah ﷺ.
  • Hukum dilihat dari:
    •    Niat
    •    Perbuatannya
    •    Dampaknya
Dilihat dari perbuatannya, mubah saja. Meskipun ada khilafiyah, apakah masuk dalam kategori menggambar mahluk hidup.

Niat

  • Ingin diketahui orang lain, masih mubah.
  • Ingin menunjukkan kecantikan, kekayaan, menyenangi like-like dari banyak orang --» pintu menuju syirik

Pintu-pintu bahaya selfie

1. Pintu perusak tauhid

إِنِّى وَجَّهۡتُ وَجۡهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ 

Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [Q.S. Al An'aam 6:79]
  • Kepada Allah lah wajah kita hadapkan, kita tonjolkan, bukan kepada orang lain atau hal lain. Narsis itu hanya kepada Allah.
  • Ketika ada perasaan senang, menikmati menunjukkan diri kepada orang lain, lagi ada di mana, sedang apa, agar orang tahu, maka syirik dalam arti melakukan sesuatu karena mahluk, karena manusia, sebagaimana ayat di atas.

Rukun haji yang pertama adalah ihram. Kembali ke fitrah. Mengapa harus berihram?

  • Karena ada pakaian dunia yg selalu menutupi kita.
  • Pakaian dunia selalu mendatangkan perasaan tertentu dalam diri kita. Bukan hanya menutupi tubuh, namun juga menutupi hati kita.  Membuat kita terbiasa memperoleh reaksi dari orang lain sesuai pakaian yang kita pakai. Membuat kita menilai segala sesuatu dari bungkusnya dan tidak kita cegah dampaknya ke dalam diri kita.
  • Mengidentikkan diri dengan merk, misalnya. Merasa tinggi dengan atribut duniawi: sebutan, panggilan, merk. Menganggap apa yang menempel di badan adalah sama dengan diri kita. Merasa terdongkrak kemuliaan diri dengan kendaraan yang kita gunakan, dan bungkus-bungkus diri. Ketika kita menganggap diri kita adalah "pakaian" yang kita pakai. Ketika kita adalah merk yg kita gunakan. Sehingga ketika tidak mendapatkan perlakuan yang biasa kita dapatkan, kita merasa tidak nyaman.
  • Kita menyangka, saya adalah:
    • Kecantikan saya
    • Penampilan saya
    • Citra saya
    • Jabatan saya
    • Pekerjaan saya
    • Keturunan saya
    • Kepintaran saya
    • Prestasi saya
    • Kegiatan saya
    • Pasangan saya
    • Dll
  • Jika tidak, maka kita merasa:
    • Direndahkan
    • Dikecilkan
    • Dihina
    • Dijatuhkan
    • Tdk dihargai
    • Tersinggung/marah
    • Kecewa/sedih
  • Ketika menyenangi menonjolkan diri kepada orang lain maka kita sudah terkena syirik. Padahal hanya kepada pencipta kita lah kita harus menonjolkan diri.
  • Ihram = tajarrud (melepas)
    • Melepas segala kesenangan, atribut, kembali ke fitrah.
    • Ihram adalah simbol lepasnya pakaian dunia dari diri kita: badan, pikiran, hati.
    • Ihram adalah simbol lepasnya ketergantungan kita kepada dunia.
    • Ihram adalah kembali kepada diri kita yang sebenarnya... Hamba Allah. Fitrah manusia!
  • Setelah berihram, kita disuruh bertalbiyah. Talbiyah mengembalikan diri kita.
    • Kita disuruh merontokkan segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan kegemaran akan dunia.
    • Innal hamda, segala pujian, kehormatan, derajat, hanya milik Allah.
    • Wanni'mata laka, semua nikmat, kecantikan, jilbab, di mana kita berada, makanan yang kita makan, adalah milik Allah.
    • Wal mulka, semua kekuasaan adalah milik Allah.
  • Kita terbiasa dengan attribut dan sanjungan, menyenanginya, kita syirik already.
  • Karena tauhid adalah yang melandasi SEGALANYA untuk Allah semata. Tidak dipilah-pilah.
Dari Abu Umamah r.a, Rasulullah ﷺ bersabda:
Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling Ku-kagumi di sisi-Ku di antara orang-orang yang dekat kepada-Ku adalah mukmin yang sedikit harta dan anaknya, memiliki bagian (yang banyak) dari shalat (melaksanakan banyak shalat), baik dalam beribadah kepada Tuhannya, ia menaati-Nya dalam kerahasiaan dan ia tidak populer di kalangan masyarakat, tidak ditunjuk oleh jari-jari (bukan seorang tokoh), rezekinya seadanya, namun ia tabah menghadapi cobaan itu.”
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda: “Dipercepat kematiannya, sedikit yang menangisinya, sedikit pula warisannya.”
(Hadits Qudsi Riwayat at-Tirmidzi (demikian juga Ibnu Majah) dengan sanad Hasan)
-- Lihat Ibrahim Athwah Awad (Sunan at-Tirmidzi), hadits 2347, jilid IV h. 575, juga Mahmud Fuad Abdul Baqi

Dalam satu riwayat disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda: ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang tersembunyi yang ahli takwa, mereka yang jika tidak hadir, tidak ada orang yang merasa kehilangan, dan jika mereka hadir, mereka pun tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera-lentera hidayah, selamat dari semua fitnah."

['Afwan, saya tidak sempat mencatat perawi hadits ini dan bagaimana derajat sanadnya]
  • Orang lain merasakan manfaat amalnya, bukan dirinya. Dia tidak ingin menonjolkan diri.
  • Syirik >< ikhlas.

2. Pintu penghapus amal

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَآٮِٕهِۦ فَحَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فَلَا نُقِيمُ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَزۡنً۬ا 

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. [Q. S. Al Kahfi 18:105]
  • Bahkan tidak dihitung amalnya pada hari kiamat. Na'udzubillah..
  • Amalan akan terhapus ketika kita mengharapkan wajah lain selain wajah Allah (ridho Allah).

3. Pintu pengundang fitnah

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” 
(HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shahih)
  • Seorang wanita yang senang parfumnya disenangi orang, Rasulullah ﷺ mengatakan dia pelacur. Apalagi mempertontonkan wajah!
  • Ketika wajah bisa menimbulkan fitnah, hukumnya menjadi wajib berniqob.

4. Pintu pengundang ujub dan takabbur

Rasulullah ﷺ bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ  الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk jannah (surga) barang siapa di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan. Ada seseorang yang berkata: “Sesungguhnya orang itu menyukai pakaian yang bagus, sandal yang bagus.” Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah menyukai keindahan, sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

[Hadits dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan Al Imam Muslim dalam Bab Tahrimul Kibr wa Bayanuhu no. 131, At Tirmidzi Kitab Al Birru wash Shillah ‘an Rasulillah no. 1921-1922, Abu Dawud Kitab Al Libas no. 3598, Ibnu Majah Kitab Az Zuhud no. 4163, Ahmad no. 3600]
  • Kibr = rasa lebih
  • Bukan hanya hal-hal duniawi, juga hal agama. Merasa lebih sholeh, lebih taat karena pakai jilbab syar'i.
  • Harus selalu mengevaluasi amalannya.
  • Jika merasa amalannya lebih baik, hati-hati, itulah bibit riya', ujub, takabbur. Bukan lagi karena Allah.
  • Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal, lebih baik daripada qiyamul lail semalaman namun pagi harinya engkau merasa takjub dan bangga diri, sebab orang yg merasa bangga dengan amalnya tidak kan pernah naik (diterima) amalnya.”
  • Selfie membuka pintu sangat lebar ke arah itu. Adanya tanggapan, pujian, membuka tidak hanya pintu ujub dan takabbur, tapi juga pintu maksiat.
  • Islam agama yang sempurna. Ia memberikan tuntunan bagaimana menghindarkan kemudharatan.
  • Meskipun kita merasa biasa-biasa saja, orang lain adalah manusia seperti kita yang juga digoda syaitan setiap saat. Ketika membiarkan kemaksiatan, sama saja melakukan.
  • Ingatlah nasihat para ulama yang mengatakan bahwa salah satu ciri taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang mubah karena khawatir terjatuh kepada yang haram.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُواْ عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٲبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلۡخِيَاطِ‌ۚ وَڪَذَٲلِكَ  نَجۡزِى ٱلۡمُجۡرِمِينَ 

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.
[Q. S. AL A'raf 7:40]
  • Menyombongkan diri = meremehkan aturan Allah
  • Tidak dibuka pintu langit = doa tidak diijabah
  • Sekali-kali tidak masuk surga hingga unta masuk lubang jarum = tidak akan pernah ever

5. Pintu kerapuhan jiwa

  • Harapan akan sesuatu selain dari Allah. Maka pasti sering kecewa.
  • Sering kecewa - sering kehilangan - rapuh.

6.  Pintu penderitaan dunia dan kesengsaraan di akhirat

  • Di dunia selalu mengharapkan selain Allah, kecewa, menderita.
  • Di akhirat azab Allah.

Bicara amal juga bicara ekspresi diri, salah satunya lewat visual. Bagaimana eksis yang etis sesuai ajaran Islam?

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلاً۬ مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"
[Q.S. Al Fussilat 41:33]

Q & A

  • Eksis yang benar dan mulia adalah lewat karyanya, amalnya, melalui dakwah dan amal sholih.
  • Gunakan socmed justru untuk menyebarkan pesan kebajikan. Eksis bukan pada siapa, tapi pada apa. Menonjolkan apa, bukan siapa.
  • Nilai-nilai keislaman yang kita eksiskan, munculkan, bukan diri kita.
  • Sebegitu pun, meski kita merasa biasa-biasa saja, selfie tetap menjadi pintu-pintu keburukan tersebut.
  • Foto beramai-ramai: menonjolkan apa? Program? Pesan? Cek niat anda. Manfaatnya apa? Nilai dakwahnya apa? Apa yang membuat orang lain menjadi takut Allah ketika melihat foto itu?
  • Selfie ok untuk dakwah, perjuangan menegakkan keadilan dan aqidah (mis. siyasi) --> terdapat maslahat yang lebih besar untuk masyarakat dibandingkan mudharatnya.
Bromo - Oct 2012 -71
Lembah Jemplang, TNBTS, suatu hari di akhir 2012

Comments

  1. MasyaAllah. TFS mbak Ri. Smoga Allah slalu menjaga keistiqomahan kita.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

Ihwal Sepotong Kain (1)

Untuk pertama kalinya merasakan nikmatnya berihklas. Bukan ikhlas yang otomatis. Yang ini lain. Yang ini tidak otomatis. Tapi jauh lebih melegakan.

Untuk pertama kalinya naik angkot terasa nikmat. Peluh bercucuran terasa bermanfaat.

Seorang teman bertanya, kenapa hal ihwal sepotong kain ini gak di-share di blog. Seorang teman yang lain sangat ingin tahu bagaimana prosesnya. Kakak saya sendiri berkomentar cukup mengejutkan,"Are you dying or something?"

Lucu sekali kakak saya ini. Semakin saya jadi diri sendiri, semakin saya mengerti bahwa ia tidak mengenal saya. Subhanallah. Betapa banyak wajah pada setiap hal kecil di alam semesta ini. Tiap-tiap manusia hanya melihat sedikit hal saja, dari sebuah benda yang sama.

Saya sendiri tidak punya kata-kata untuk menjelaskan. Bagaimana saya harus menjelaskan? Bahwa saya adalah daging yang penuh dosa? Yang akan meninggal dengan segera? Bahwa saya hanya ingin berkumpul kembali dengan kedua orangtua, suami dan handai taulan, kelak di surga? …