Thursday, December 18, 2008

Pada Akhirnya



Ponsel CDMA saya berbunyi. Dari Tia, sahabat kecil saya. Sungguh sahabat dari kecil, dari taman kanak-kanak. Segera saya tekan tombol hijau, "Tia!" seru saya kesenangan.

Obrolan sore tadi tak pelak pertolongan dari Allah. Karena saat itu saya sedang berada dalam antrian busway, yang panjangnya sudah menjula hingga jembatan penyeberangan di atas jalan Sudirman yang mengarah ke Citibank. Panjang sekali! Padat, merayap maha lambat. Selambat siput bodoh yang sedang sakit. Saya dan Tia bicara tak berhenti hingga antrian maju perlahan mendekati pintu masuk bus. Tentang rencana liburan. Tentang rencana kita berdua "kabur" dari rutinitas, walaupun hanya ke kota sebelah yang tidak jauh dari Jakarta. Tentang Ully, sahabat lama yang selalu kami rindukan. Tentang kehamilannya yang saya selamati sambil sedikit iri hati. Tentang ini dan itu. Penting maupun tidak penting. Pada dasarnya rindu. Dan rasa syukur. Akan persahabatan, akan masa kecil yang seindah pelangi, seharum kue jahe. Pada akhirnya rindu.

Sore itu saya pulang dari membeli hadiah ulang tahun untuk Anya. Berangkat dan pergi naik bus(way), tidak duduk sama sekali, berangkat maupun pergi. Bus selalu penuh, selalu antri. Matahari terik durjana, membuat silau, merusak kulit. Keringat membutir di balik kerudung. Tapi semua terbayar ketika kado dibungkus petugas toko buku dengan kertas kado merah jambu. Cantik. Isinya, pastel block 36 warna dan sketch book A3. Untuk keponakan cantik yang sangat suka menggambar. Untuk dendam akan dunia lukis-melukis yang luput saya tekuni. Untuk sebuah ingatan mesra kepada Pak Tino Sidin.

Mendarat di halte Pejaten, lalu berjalan kaki menuju perempatan Republika. Di sana, saya menunggu angkot M36 yang akan membawa saya hingga ke depan pintu pagar rumah. Malam berhias mendung seperti biasa. Trotoar basah, genangan air di mana-mana. Di depan gardu ojek, saya berdiri menatap ke depan. Ke sebuah obyek raksasa yang terpampang di depan mata. Sebuah mal baru, sedang dalam pengerjaan. Tukang-tukang bekerja tak berhenti, truk keluar masuk. Beberapa dari mereka bekerja di atas platform gantung, puluhan meter di atas tanah. Tanpa pengaman, sama sekali. Bahkan tidak sekedar helm. Fan-bloody-tastic.

Pejaten Village, nama malnya, akan dibuka pada 19 Desember mendatang. Terletak tepat di perempatan Republika. Terbayang kemacetan yang akan ditimbulkannya sepanjang ruas jalan Pejaten Raya. Ah, sudahlah. Saya hanya berharap ada toko buku besar dan lengkap di dalamnya. Dan mungkin pojok nyaman tempat saya bisa menyeruput secangkir teh hijau, sambil membaca atau mengedit foto. Sudut dekat jendela. Sehingga saya bisa memandangi langit sore perlahan beranjak malam. Sambil menatapi orang lalu lalang. Sambil mengingat para sahabat lama. Mengingatmu yang hilang sudah di balik cakrawala.

Jakarta, early in the morning
:ketika bahagia hanyalah perkara pilihan

Friday, December 12, 2008

That Thing Called Sastra


Began the day with the usual helter-skelter. Coffee, fresh juice, no dish-washing but washing myself. Six hours sleeping is not enough, took a bath half-slept. Took a bus(way) to the Jilfest **not Jiffest, mind you**.

When I was first asked by a friend to go to this international literary event, what I had in mind was an unknown realm jam-packed with people I don't know, talking about things I actually like, but had no idea about. When I read the schedule, all I know was one thing: Kef wouldn't be there to give speech or anything. So, ok, I thought I'd be just floating around like a ghost, taking pictures of walls and leaves.

First day went by, and no, I had no idea what I was doing there. This morning was the second day, and I think it started to grow on me. Or maybe it's just because I read Kef's writing about the short-story competition, or because I liked Katrin Bandel that much, I'd never know. However, yes, I finally started to dig it, even to feel like I was part of them. Well, they ride the same clouds as me, so we're in the same fragile boat after all.

They think too much, though.

Grey sky outside my window,
December 12, 2008

Tuesday, December 02, 2008

Menderitalah, Lalu Berkaryalah

Mint Tea
Resto Abu Nawas, end of November 2008

Saya tinggal di sebuah kawasan padat penduduk di Selatan Jakarta, tepat di samping sebuah universitas swasta tertua di Indonesia. Sudah bisa diduga, bisnis yang ramai berkembang di pertetanggaan (neighbourhood) adalah bisnis foto kopi, kos-kosan, warung makan, jasa cuci kiloan, dan... warnet.

Yang terakhir ini jadi berkah untuk saya dan tentunya orang-orang lain yang periuk nasinya mengepul dengan mengandalkan komunikasi via internet. Berbagai model warnet dengan beragam tingkat teknologi dan jangkauan tarif tersedia dalam jarak jalan kaki. Dari yang paling "bronx" --smoking area, non-AC-- sampai yang paling mewah --kursi nyaman, full AC, ruangan bebas berisik, minuman tinggal ambil di kulkas. Dari teknologi paling sudra dan paling trondol **bahkan gak ada USB drive di CPUnya**, sampai yang paling canggih dan paling kumplit-plit --LCD 24 inch wide, webcam, headphone keren dan bening suaranya. Dari harga 2000 rupiah hingga 10.000 rupiah per jam.

Sehingga suatu hari, ketika saya sudah betul-betul fed up berpindah dari provider mahal-tapi-dodol satu ke mahal-tapi-dodol lainnya (baca: MyNet ke Speedy Telkom), dengan senang dan ringan hatilah saya rela berpisah dari si broadband, karena warnet 3000an-tapi-kenceng baru saja buka di sebelah rumah. Belek masih menempel di mata, saya sudah bisa cek email. Mantaps.

Beberapa bulan lalu, The Patch buka di dekat rumah saya, bergabung dengan belasan warnet lainnya, meramaikan perang tarif bagai operator telepon seluler berlomba melacur adu murah hanya untuk mengeduk account-account baru. Ujung-ujungnya tentu menguntungkan konsumen (baca: saya). Warnet franchised ini dengan segera memimpin sebagai yang ternyaman, tercanggih, tercepat, terkeren, terbesar, in the area. Dengan segera jadi favorit saya, "Paket 10 ribu, mas!" Saya anteng tiga jam.

Akan tetapi, entah bagaimana, walau mata dimanjakan dengan LCD 24 inch wide setajam warna aslinya, headphone canggih bening stereo, bilik sejuk nan lega berkaca foggy, bagai kubikal kantor mewah lagi artistik di kawasan segi tiga emas, kursi ergonomis yang serasa memijat sendiri, saya tidak pernah bisa menghasilkan tulisan yang layak upload ketika bekerja di warnet ini. Sebagian besar tulisan, yang dengan narsisnya saya publish dengan rasa puas diri yang memalukan, saya hasilkan ketika berada di warnet yang kecil, panas, buruk, trondol, sudra. Selain tentunya di kamar saya sendiri, yang sudah pasti dengan biasnya saya nilai sebagai "super duper nyaman", walaupun sarang laba-laba kadang menggantung di langit-langit lupa saya bersihkan, dengan alasan, "Jangan diusir, nenek moyang mereka kan yang menyelamatkan Nabi Muhammad dan Abu Bakar dari tentara kafir Quraish waktu ngumpet di gua Tsur." Halah.

Beberapa tulisan favorit saya lahir di warnet sebelah rumah yang kian hari kian panas saja, kian gelap saja, kian lambat saja, dan kian bau saja! Tulisan lain terlahir di warnet koperasi yang tidak hanya lambat, tapi juga makin banyak virus dan makin bikin sakit punggung **kursinya sering dapet yang gak ada sandarannya. Oh, teganya**

Lantas di The Patch yang laksana surga? Nothing. None. Zero. Nihil. Gak ada. Saya harus menulis dulu di rumah sebelum membawanya ke sana untuk dipost.

Padahal... bukankah teorinya semakin nyaman kondisi kerja, semakin deras energi kreatif mengalir? Karena itu pula para karyawan berprestasi diberi insentif ini itu bukan? Nah, sesudah ini, saya pasti habis-habisan dimusuhi para karyawan kantor. Karena saya baru akan bilang dengan keras dan yakin, "Gak juga!!"
Baby I want you, like the roses want the rain
You know I need you, like the poet needs the pain
(Bon Jovi -- "In These Arms")
So the poet needs the pain! Ya, ya. Semua juga tau sejak dulu. Hanya saja tidak pernah saya sangka bahwa faktor pain tersebut saya dapatkan dalam wujud sebuah bilik warnet busuk, dengan kursi yang bikin sakit punggung lantaran tidak ada sandarannya.

Well, meski begitu, sekarang ini saya masih gemar nongkrong **duduk denk** di The Patch. Walau dengan konsekuensi harus menulis dulu di rumah, atau di waktu lowong di sela-sela seminar seperti sekarang ini. Tidak bisa on the spot, wong kenyamanannya bikin jari kelu dan otak buntu. Kreativitas berhenti, lalu terukirlah seringai dungu. Tapi sekali waktu, bolehlah saya kunjungi warnet-warnet busuk itu lagi --dengar-dengar sekarang sudah turun lagi tarifnya jadi 2000 rupiah per jam-- sekedar untuk menguji teori sok tau saya, yang kalau menurut professor Wijaya Herlambang, namanya hipotesis. **No, prof, itu namanya sok tau**

Jika memang teori itu terbukti benar, maka sepatutnyalah manusia bersyukur ketika derita mendera. Karena derita ternyata mengasah rasa dan estetika, menajamkan nurani dan kejujuran hati. Menggerakkan manusia menghasilkan karya-karya berarti, membuat perubahan, menciptakan peradaban. Maka bersyukurlah atas derita, karena derita bisa berarti mahakarya!

Ritz Carlton Ballroom - Pacific Place, suatu waktu di awal 2008
:di sela bosannya seminar dan dinginnya AC durjana
Related Posts with Thumbnails