
Ponsel CDMA saya berbunyi. Dari Tia, sahabat kecil saya. Sungguh sahabat dari kecil, dari taman kanak-kanak. Segera saya tekan tombol hijau, "Tia!" seru saya kesenangan.
Obrolan sore tadi tak pelak pertolongan dari Allah. Karena saat itu saya sedang berada dalam antrian busway, yang panjangnya sudah menjula hingga jembatan penyeberangan di atas jalan Sudirman yang mengarah ke Citibank. Panjang sekali! Padat, merayap maha lambat. Selambat siput bodoh yang sedang sakit. Saya dan Tia bicara tak berhenti hingga antrian maju perlahan mendekati pintu masuk bus. Tentang rencana liburan. Tentang rencana kita berdua "kabur" dari rutinitas, walaupun hanya ke kota sebelah yang tidak jauh dari Jakarta. Tentang Ully, sahabat lama yang selalu kami rindukan. Tentang kehamilannya yang saya selamati sambil sedikit iri hati. Tentang ini dan itu. Penting maupun tidak penting. Pada dasarnya rindu. Dan rasa syukur. Akan persahabatan, akan masa kecil yang seindah pelangi, seharum kue jahe. Pada akhirnya rindu.
Sore itu saya pulang dari membeli hadiah ulang tahun untuk Anya. Berangkat dan pergi naik bus(way), tidak duduk sama sekali, berangkat maupun pergi. Bus selalu penuh, selalu antri. Matahari terik durjana, membuat silau, merusak kulit. Keringat membutir di balik kerudung. Tapi semua terbayar ketika kado dibungkus petugas toko buku dengan kertas kado merah jambu. Cantik. Isinya, pastel block 36 warna dan sketch book A3. Untuk keponakan cantik yang sangat suka menggambar. Untuk dendam akan dunia lukis-melukis yang luput saya tekuni. Untuk sebuah ingatan mesra kepada Pak Tino Sidin.
Mendarat di halte Pejaten, lalu berjalan kaki menuju perempatan Republika. Di sana, saya menunggu angkot M36 yang akan membawa saya hingga ke depan pintu pagar rumah. Malam berhias mendung seperti biasa. Trotoar basah, genangan air di mana-mana. Di depan gardu ojek, saya berdiri menatap ke depan. Ke sebuah obyek raksasa yang terpampang di depan mata. Sebuah mal baru, sedang dalam pengerjaan. Tukang-tukang bekerja tak berhenti, truk keluar masuk. Beberapa dari mereka bekerja di atas platform gantung, puluhan meter di atas tanah. Tanpa pengaman, sama sekali. Bahkan tidak sekedar helm. Fan-bloody-tastic.
Pejaten Village, nama malnya, akan dibuka pada 19 Desember mendatang. Terletak tepat di perempatan Republika. Terbayang kemacetan yang akan ditimbulkannya sepanjang ruas jalan Pejaten Raya. Ah, sudahlah. Saya hanya berharap ada toko buku besar dan lengkap di dalamnya. Dan mungkin pojok nyaman tempat saya bisa menyeruput secangkir teh hijau, sambil membaca atau mengedit foto. Sudut dekat jendela. Sehingga saya bisa memandangi langit sore perlahan beranjak malam. Sambil menatapi orang lalu lalang. Sambil mengingat para sahabat lama. Mengingatmu yang hilang sudah di balik cakrawala.
Jakarta, early in the morning
:ketika bahagia hanyalah perkara pilihan

