Skip to main content

PTD: ..and Justice For All

And Justice For All

Kencan kedua barengan Batmus *setelah kencan pertama yang langsung bikin 'ser-seran'*, kali ini ke Museum Keramik yang pada tahun 1870 berfungsi sebagai gedung Raad Van Justitie atawa Dewan Pengadilan. Seperti biasa, Adep yang cerita lengkep di bawah. Tante loe setor foto-foto dan cerita ringan seputar plesiran aja.

Gue kesiangan bangun! Norak! Praktis gak ada cerita, selain kegaktaumaluan untuk tetep nongol demi cuma kepingin berada di museum di minggu pagi yang adem itu. Sampe di Museum, disambut ibunda(nya Adep), "Kamu baru bangun???" Buuu, jangan gitu donk ah. Percuma juga wong saya gak tau malu.

The Man

"Ya
udah, gak dapet name tag ya. Nih, roti buaya. Masuk langsung, lagi pada bikin gerabah tuh."
Hihuy, that will do. Roti buaya masuk tas, bakal oleh-oleh orang rumah. Masuk ke aula tengah, langsung keluarin kamera tua nan setia, mata mulai jelalatan cari objek.

Sambil cetrak-cetrek, ngobrol sama sculpture artist yang ngajarin bikin gerabah, "Mas, mas ini Anang suaminya Krisdayanti ya?"
"Bukan, mbak."
"Oh, pantesan gak mirip."

Nanya ini-itu seputar pembuatan gerabah dan keramik; bahan baku, proses, peralatan, biaya belajar, sambil asik merhatiin tangan dan kaki si "Anang" bergerak harmonis; yang satu ngebentuk lempung, satunya lagi "ngebecak" di bawah, nggowes si meja puter.




Spinning

Spinning Around

Oops! Just Been Shaped

Still Wet

Ada gerabah yang dibentuk kayak film Ghost di atas, ada juga yang langsung dicetak. Cetakannya lutu-lutu dan matem-matem. Bintang laut, kodok, kura-kura dalam perahu, koepoe-koepoe *obat sakit perut kali*, etc.

Clay Mold

Clay Starfish It's A He

My Heart Was Made From Clay

Occupied Busy

When I Was So LittleKelar belajar bikin gerabah, harusnya gue keliling museum sendirian. Tapi gak tau kenapa, "Ah, nanti aja ke sini lagi gampang." Dasar. Yang diincer malah tukang es krim Woody. Sebab udah dari tahun lalu gak nemu es krim Woody segitiga jaman SD dulu. Nah, kali ini ada! Jodo gak kemana!

Jilat-jilat es krim Woody segitiga, ngambil snack di ibu, ngobrol bentar sama Adep *which was pasti langsung terlupakan sama si seleb ini. Riana yang mana ya??*, motret tiang-tiang yang dalam pikiran adalah lambang keadilan tegak tak tergoyahkan *halah*. Lalu melumpat keluar menyudahi kencan di museum, di siang hari yang ternyata masih juga tetep adem itu.

And The Pillars Have Spaces Justice

Fatahillah ParkNyebrang ke taman Fatahillah yang cantik. Pagi harinya Komunitas Ontel Batavia pada ngumpul kayaknya, sebab masih banyak sepeda ontel lutu-lutu nangkring di sana-sini dan pemiliknya gak bertampang ojeg.

Aha, stasiun busway makin cihuy aja, sebrangan bawah tanahnya udah jadi dan cakep. Bisa-bisa gue pilih juga tuh si Sutiyoso jelek buat jadi presiden.

Fatahillah Museum

Dep, silakan dimulai dongengnya...



Adep ngedongeng:

PLESIRAN TEMPO DOELOE: And Justice For All
minggoe pagi tanggal 16 boelan Maart tahoen 2008 dari pagi ampe siang jam 11-12


PTD kali ini kita koelilingin satoe gedong jang doeloenja tempat dimana keadilan kerap dipoetoesken. Banjak jang bilang bahoea di djeman doeloe, rasa keadilan poen sama saperti sekarang, jang koeat bole menang, sedangken orang jang lemah aken menerima straf (hoekoeman) jang tiada adil bagi idoepnja, kerna kakoeasaan oeang jang bisa atoer samoea itoe.

Di bawah ini tjontoh atas rasa adil jang tiada sebanding, dimoeat di courant djadoel bertadjoek: Pembrita Betawi, terbit Djoemahat 27 Januari 1888 jang membritakennja:
Kemaren, orang-orang jang mendjoealan di lapang depan gedong Bitjara, telah di oesir oleh perentahnja kandjeng toean assistent-resident, tetapi jang dioesir boekannja semoeanja, melaenken separo sadja dari marika itoe, ia itoe toekang toekang djoealan jang baroe berdagang disitoe, marika itoe jang terseboet ialah 2 toekang kopi tjina, 1 toekang ogio, 1 toekang tembako dan 2 toekang roedjak, dan jang tiada di oesir ia itoe 1 toekang kopi orang slam, 1 toekang ogio orang slam, 2 toekang tembako orang Tjina, 1 toekang pangsit orang Tjina, 1 toekang sotoh dan 1 toekang satee orang slam, djoemlah ada 7 toekang dagangan, sebab marika itoe soeda dibri idzin oleh kandjeng toewan assistent-resident Von Czernicki. catatan: Gedong Bitjara = Museum Fatahillah. Slam = islam (kadang ditulis: selam).

Misih ada banjak lagi perkara jang tida ketjil jang ada kedjadian pada masa silam, teroetama boeat orang Tjina, dimana tatkala marika kaloe-kaloe hadepi casus perdata aken disidang di pengadilan wong londo, namoen kaloe-kaloe casus-nja adalah pidana, disidang di pengadilan orang inlander. Ach mendingan kitaorang kassie koendjoengan sadja ke gedongnja langsoeng, jang dibikin pada tahon 1870, moela-moela dipake boeat Raad Van Justitie, djoega diseboet: Dewan Pengadilan, kamoedian koetika Tentera Nippon jang masoep sedari boelan Maart 1942, ini gedong berobah functienja mendjadi asrama militair, sempet djoega djadi Kantoor Walikota Jakarta Barat, laloe hingga achirnja diresmiken sebagi Gedong Balai Seni Rupa pada tahon 1976.

Daritadi, bitjara tentang perkara meloeloe, sekarang tempohnja boeat tjeritaken isihnja ini gedong. Kitaorang koelilingin ini museum, dan didjelasken perihal loekisan tentang pra sejarah, lukisan Raden Saleh, lukisan karya pelukis asing, saperti: Antonio Blanco, Arie Smith, Lee Man Fong, laloe masoep ka roeang: Mooie Indie, ada lukisan Rapat Ikada 19 September, Pengantin Dayak, Pembukaan Pameran karya Hendra Gunawan, yang punya ciri khas di warna mencolok, lalu ke ruangan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), ada lukisan karya mantan Gubernur Jakarta: Henk Ngantung, kamoedian masoep ka roeang: Revolusi Fisik Perang Kemerdekaan, ada lukisan tentang pedagang yang menjual apapun, dilukiskan dengan gambar bapak-bapak bawa meja, lantas ada lukisan berjudul: Turun Ke Kota, rakyat membawa hasil bumi dibarter dengan kebutuhan pokok. Juga ada yang berjudul: Menghadang Konvoi, yang berkisah rencana Tentara Republik yang akan menyerang Belanda.

Uuuuuh, kelar liet-liet lukisan, kini saatnya bikin gerabah!!! Boleh mencontoh gerabah jaman Majapahit, berbentuk periuk, wajah wanita atau celengan (tau gak sih, celengan berasal dari kata celeng-an, yah tempat menabung uang yang berbentuk celeng, dan tau juga gak sih asal kata tabungan? ini katanya jaman dulu rakyat biasa menyimpan uangnya di dalam tabung, hingga kini kita mengenalnya: tabungan)

Adapun bikin gerabah, kitaorang bisa buat macam-macam karya yang sudah disediakan cetakannya.. tapi kalo mau buat yang laen, silahkan saja, misal mau bikin asbak, atau putri duyung, skuter, bintang laut, angsa, capung, kodok, daun talas, pot bunga, ayam jantan, singa, mobil-mobilan, rumah-rumahan, burung, muka orang purba, kura-kura, dan lain-lainnja.

Antjer-antjernya:

Museum Seni Rupa dan Keramik, Jl. Pos Kota No.2 letaknya di sebelah kanan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), yang ada pilar-pilar gede, sebelah kanan persis Kantor Imigrasi Jakarta Barat.

Kalo mau kesini gampang aja kok, kalo misalnya baru turun nih dari Halte Busway Taman Stasiun Kota, kagak usah nyebrang, susurin aja bagian kiri gedung Bank Mandiri cabang Jakarta Kota yang terletak di bagian utaranya halte ini, lalu jalan kaki ke arah Museum Fatahillah, sampe lapangan atau Taman Fatahillah, lihat aja ke arah kanan ada bangunan megah di ujung sono, nah itu adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, tulisan gede terpampang di halaman depannya. Kalo mo parkir mobil atau motor, bisa kok di halaman depan ini, luas deeh parkirannya, bisa nampung banyak kendaraan.

Oh iya kalo naek kendaraan, jika dari Halte Busway Taman Stasiun Kota, lurus aja, belok kiri pas ada beton penghalang jalan, masuk ke Jl. Bank, lalu langsung aja belok kanan ke Jl. Kali Besar Timur, lurus aja sampe ketemu lampu merah, kemudian belok kanan (kayaknya boleh langsung), lantas luruus aja, di depan ada tiga patung melambai tangan, paling kiri anak SMP, tengah Pak Pulisi dan di kanannya anak SD (et dah! apal bener) nah kalo udah liet patung ini, belok kanan aja, trus siap-siap ambil jalur kiri, setelah lewatin gedung pertama, maka sudah sampailah kita di Museum Seni Rupa dan Keramik. Okeh jek?
*yaelah Dep, emang gue jeki?*

Comments

  1. qiqiqiq... pas pertama kali liat pilarnya yakin banget itu semacam parliament house ato sejenisnya...lho kok gedung keramik ? eh dilalah bekas
    gedung pengadilan... ^_^
    seneng baca ceritanya, jadi berasa kayak nonik belana kekekkkk

    ReplyDelete
  2. demen nih gaya elo kocak nyeritainnya...roti buaya itu bentuknya kayak apa sih Ri? baru pernah denger *tentu aja...gue tinggalnya dimana, elo tinggal dimana*...

    ReplyDelete
  3. Mbak Ri, seneng baca critanya. Fotonya bagus2, as always. Surprise liat museum Fatahillah dah rapih banget. Kita sempet ke sana akhir Nov 07, waaah lagi brantakan :D.
    *Lisa, roti buaya itu bentuk buaya-aslinya gedeee, belakangan udah banyak yg jual ukuran kecilnya. Ayo, bikin Lis.

    ReplyDelete
  4. aduch bener2 you made my day dech..

    iya tuch bener stasiun bus-way (bener ngga sich namanya stasion?) keren banget..pake bawah tanah gitu, bangga bener gue jadi orang indonesia..ck..ck..ck..keren...

    ReplyDelete
  5. @ Rita:
    Iya tuh si Adep emang paling bisa deh cerita a la VOC :)

    @ Eliza:
    Bentuknya buaya, Liz. Itu roti biasanya kalo kawinan orang betawi jadi anteran, gedeeee dibawanya gotongan. Kalo sekarang banyak yang kecil ukurannya bakal dimakan sehari-hari.

    @ Vania:
    Iya, Van, sekarang udah cuantek lagi deh.

    @ Nuke:
    Hihihi... iya jadinya gak pake takut ketrabak mobil lagi :)

    ReplyDelete
  6. Kalau keluarga saya senang ke museum layangan, sampai saat ini sudah 2 kali. Selain senang melihat koleksinya, juga ada activities untuk anak-anak. Wah senang sekali mereka. Salah satunya juga adalah kerajinan keramik.
    Tapi sepertinya belum banyak orang yang tahu tentang museum di daerah Pondok Labu ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…