Skip to main content

Life Must Go On

...
Hari ini, sebetulnya masih devastated. Masih, tiap kali keinget, nangis. Dan ingetan itu lamaaaa gak mau lepas. Inget waktu dulu sering ke Buaran buat kursus, beli toples, beli loyang, pesen kue kering. Topaz sampe khawatir liat mata gue bengkak. I'm gonna be alright, babe. It's just that I need to mourn. Women do that.

Karena kasian liat gue, Sabtu malem pergilah dia ke rental DVD. Pulangnya bawain Memoirs of Geisha, Friends with Money, sama Reality Bites. Udah lama banget pengen nonton yang terakhir ini. Jangan ampe gue beli juga nih film :)

Lumayan, gue sangat terhibur.

Pagi ini, bangun dan bertekad untuk melanjutkan hidup. Bikin kopi buat Topaz, bikin ramuan Andang Gunawan buat gue. Terus cuci piring, ganti sepre, ngelipetin baju, bersihin debu di kamar, cuci yang harus dicuci, jemur yang harus dijemur. Masak? Belom deh, belom dapet lagi clicknya.

Akhirnya, ke salon aja *mumpung lagi gak ada project dari si klien setia*. Udah setahun gak potong rambut. Maybe, it's time. Potong rambut itu merubah hidup. Ngecat rambut juga. Tapi sekarang kalo mau ngecat rambut, pakenya Henna kali ya.

Ke salon muslimah di koperasi, namanya salon Humairah. Humairah itu artinya apa ya? Yaaah, gak berharap hasil potongnya kayak hasil potongan Alfi sih. Yang dalam sekejap bisa bikin rambut gue seimut Wynona Ryder, or sekeren Elyse Sewell, si cewek kurus di Next America's Top Model season 1.

Dan ..bener deh. Gue mendadak kembali ke 10 tahun yang lalu, waktu orang masih norak2nya pasang rambut shaggy *tinuninung.. tinuninung... tinuninug.... twilight zone!!*
Bodo ah.

Di kasir, iseng banget beli masker bengkoang. Apa coba.

Di deket salon ada warnet nyaman. Cek imel. Gak lama kemudian, ada telepon dari +6221213..sekian-sekian.

"Halo?" Suara cowok. Keren suaranya.
"Halo."
"Bisa dengan ibu Riana?"
"Saya sendiri."
"Lagi di mana?"
"Ada deh."
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik."

Mulai berdua cekikikan.

"Emang elo tau siapa gue?"
"Gak penting."

Ketawa ngakak.

"Kurang ajar loe."
"Loh, kan elo yang nelpon. Berarti elo yang ada perlu sama gue."
"Masa' elo gak nanya sih gue siapa?"
"Kalo orang normal sih biasanya langsung kasih tau 'gue si anu, ada perlu anu'. Itu kalo orang normal...."
"Terus elonya juga gak mau tau siapa yang nelpon, lebih gak normal lagi."
"Lebih gak normal lagi waktu si orang gak normal itu keluar narsisnya 'kok elo gak nanya sih gue siapa'...."

Ngakak lagi.

"Lagi ngapain?"
"Lagi mengais secercah berlian."
"Di mana?"
"Mau tauuuu aja."
"Di radio Delta?"

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......... ternyata Ido Seno!!

Ido adalah rekan sesama penyiar sekaligus mentor gue waktu di Trijaya FM. Ketika orang sekantor menganggap gue anomali, Ido-lah yang ngeliat potensi gue dan ngasih asignment-asignment menantang yang cocok buat gue (ultimately, interview Al Jarreau!!!). Ido yang pinter banget, berakal sehat, bersuara kereeeen, dan sangat baik hati. I love you, Do *loh?????*

"Idooooooooooooooo, I miss you so much!!!"
"Halllaaaaaaaaaa.....hhh..."

*Kalo di film-film, maka fragment ini akan ditutup dengan gambar tanpa suara, gue di sisi satu, dan Ido di sisi lainnya, lagi ngobrol di telpon sambil ketawa-ketiwi gak berenti. Iringannya lagu jazz tua yang asik, sambil gambar perlahan menjauh dan menghilang. Digantiin dengan pemandangan langit sore Jakarta yang oranye dan agak butek karena polusi.*

Alhamdulillah...


...

Comments

  1. Fotonya bagus amat tuh...Jam berapa ngambilnya??

    ReplyDelete
  2. Riana,

    Humairah itu artinya kemerah-merahan. Itu panggilan kesayangan rasulullah buat aisyah karena pipi aisyah itu ngepink (baca: tanpa perlu pake pemerah pipi hehe)

    ReplyDelete
  3. Thanks, Shell. Jadi dapet pengetahuan baru lagi nih. So cute artinya..

    ReplyDelete
  4. Esti, itu gambarnya aku ambil dari sxc.hu :)

    ReplyDelete
  5. Ri, anak gue namanya Humayrah. Hehehehe...

    ReplyDelete
  6. Weleh, weleh, ternyata dunia emang selebar "daun kelor" ya mbak...Ido Seno itu dulu mantan bosku di Trijaya FM Yogyakarta, kikikik. Tapi gak usah bilang-bilang aku bikin blog ya mbak, hehehe (ge-er, sapa juga yang mau ngomong2). Mbak masih jadi penyiar? Dulu waktu di trijaya pake nama apa? duh, aku kok lupa2 inget yaa...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…