Skip to main content

They're Tearing It Down

...



...now we can't even remember why we sold the house in the first place...
Finally, someone else is tearing down the house.

About a week ago, me, my big sister, Ahmad my nephew, Anya my niece, our maid, and 2 of my inlaws drove by the house. Some relative told us, apparently someone finally bought the house, tore it down and is building on the lot.

We stopped our car across the street and saw our used-to-be house was gone. We could see some workers were working on a new building.

When we found out that the house was being re-offered (read Aneh and Makin Aneh), I was hoping nobody would buy the house until finally someone in my family can afford to buy it back. But now the hope seems to be drifting away. When the new building is finished, we have to be a giant billionaire to be able to afford such perfect lot.

Now we can't even remember why we sold the house in the first place.

My sister finally broke the silent,"Gue harap skenarionya kelak akan gini nih: Wida pulang ke Indonesia bawa duit banyak, dan ngebeli lagi rumah ini."
"The one who ran away from the house will be the one who finally gets it back?" Me, getting all sentimental.
"Yup, lot of stories go that way, right?"
"Yea, biasanya begitu."

Silent again. This time I was the one who broke it.

"Ahmad, nanti kalo udah besar, Ahmad bikin perusahaan kayak si Soichiro Honda, dapet uang banyak, terus beli lagi rumah ini ya."
"Oh, iya, itu udah Ahmad rencanain," Ahmad tried to hide his tears.

Everybody murmured,"Amin....."

Allah, hear us.

...

Comments

  1. sampe skrg gw ga mau lewat depan rmh yg 20th lebih kt tinggalin dan akhirnya dijual. Rmh itu sudah di hancurkan, totally new. Amat sangat penuh dg kenangan. Dari TK sampe kawin. Kalo kesana pasti sedih. hiks.. Live goes on...:)

    ReplyDelete
  2. ya ampun Ri...gue ikut sedih baca ceritanya. banyak kenangan ya disitu...my parents' house in jkt is still a house, fortunately, & i missed it a lot too...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)
...Dalam linangan
air mata
saya menyadari
satuhal... Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentan…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…