Tuesday, January 01, 2019

FinTech dan Anak 80an

My favorite smartphone years back.
Photo by GSMhistory.com
Saya adalah satu dari banyak "anak 80-an" yang sangat menikmati kemajuan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan. Seperti yang sering dibahas orang, anak 80-an itu mengalami segalanya.

Transisi dari "primitif" ke modern, dari orde baru ke era reformasi. Masih tenarnya The Beatles, Queen, Genesis, Rolling Stones, Aerosmith, lalu Level 42, Duran-duran, Guns n Roses, Nirvana, Red Hot Chilli Pepper, sampai Goo Goo Dolls. Bus Gamadi bayar 100 perak sampai Transjakarta yang pakai e-wallet. Pembangunan jalan layang besar-besaran dan jalan tol lingkar dalam dan luar, menyaksikan kawasan lampu merah tomang dari 1 jalan hingga susun 4 lapis,  mengalami jalan TB Simatupang masih tanah semata dan Citos masih cuma bangunan Sport Center kecil dan sendirian, hingga kini serasa kita tenggelam dalam lautan beton jalanan dan gedung tinggi.

MS-DOS, Mac OS X Kodiak, Windows 3.1, dBase, Pascal, Linux, MIRC, ICQ, newsgroup, mailing list, discussion board, Pacman, Load Runner, Digger, tumbuh hingga Syberia dan Tomb Rider sampai game gak ngetrend lagi, sampai macam-macam messenger dan social media.

PDA berbasis Symbian, Windows Mobile, Palm, Java, hingga menjadi smartphone berbasis iOS, BB, Android. I still love my Sony Clie yang sekarang wafat itu! Simple, keren, nyaman buat baca buku di angkot. Saya nyelesaiin baca buku Harry Potter & The Philosopher's Stone yang tuebelll itu di angkot pergi-pulang kantor cukup pakai Sony Clie tamvan seukuran telapak tangan. Gak kayak smartphone yang tampilannya rame dan "penuh gangguan", tampilan buku di PDA so clean dan gak nusuk mata, dan bebas gangguan.

Masa jaya Ericsson (sebelum nikah dengan Sony), Nokia dan Motorola dari segede tempe sampai segede remote kunci mobil (which I still love kalo masih ada yang jual). SMS antar operator dari gak bisa hingga akhirnya para operator menyerah, mungkin males saingan sama layanan SMS-Oke or SMS via internet dan chat service.

Jamannya Bank Bumiputera mengeluarkan kartu ATM yang pertama di Indonesia, bisa ambil uang jam berapa saja lewat mesin gede yang canggih dan baik hati itu menjadi hal paling cetar dan nyaman.

Jamannya pakai kamera pocket Fuji M15 yang warna-warni, Ricoh yang kerenan dikit, dan SLR analog dan lensa 50mm manual. Cuci cetak di Rapico, nongkrongin hasil cetak sambil bilang sama petugas, "Warnanya matengin ya, mas!" Klise foto disimpen baek-baek bakal dicetak lagi nanti ukuran 20R kayak foto model majalah Gadis dan Mode (udah almarhumah). Sampai lahir brujulan DSLR mulai paling canggih sampai entry level, yang dari kamera bisa langsung lumpat ke hape bakal  narsis di socmed --walaupun ngakunya gak suka narsis :D, atau tembak langsung print pakai mesin mungil bernama Canon Selphy, lalu brujulan mirrorless hingga kini dia pun full frame pulak (come to mama!).

Yes, we've seen it all, experienced it all. We saw the changing, the transition, the evolution of the world through time. We've become the changing itself. Dibandingkan angkatan lain, mungkin gak sebanyak ini perubahan yang mereka alami, baik pra maupun pasca 80an.

Sekarang ini yang namanya FinTech meraja dan melela, sangat memudahkan berbagai urusan, karena memang sangat dibutuhkan. Kemarin ini saya instal beberapa aplikasi FinTech yang kece-kece, kayak Ammana, Zakatpedia, e-Salaam, T-Cash dan Flip. Terkhusus Flip, sangat bermanfaat dan betul-betul jadi solusi. Ketika belanja online dan jualan online dan kerja jarak jauh menjadi hal yang lumrah, bank-bank yang masih saja narik biaya Rp 6.500,- untuk transfer antar bank sungguh sangat gak keren bin gak ganteng samsek. Dari semalam sampai tadi sore saya kelar kirim-kirim surat cinta (baca: tagihan) ke customer, yang mana akun bank sudah disesuaikan dengan bank pilihan customer, via Flip. Bebas biaya transfer, alhamdu..lillah!

Untuk pelapak online yang mau pakai Flip, Flip ini akan membuat kode unik di belakang jumlah uang yang harus ditransfer. Nah, supaya kita gak sengaja makan uang yang bukan hak kita, kalau saya, saya discount dulu total tagihan sebanyak 100 rupiah. Jadi ketika Flip menambahkan kode unik, sudah aman, karena jumlah total tagihan tidak akan melampaui yang seharusnya kita terima.

Next yang saya incar adalah Ammana. Ammana ini bikin kita mudah berinvestasi di usaha-usaha kecil milik rakyat, seperti toko kelontong, ternak ikan, kebun sayur, dll. Data pelaku usaha dan badan yang menyalurkan dananya juga lengkap, juga portofolionya, sampai agunannya. Nilai "saham" yang kita mau beli juga terjangkau per unitnya. Dan ada crowdfunding juga.

Baiklah. Senang sekali mulai menulis lagi. Semoga bermanfaat dan berkah. Aamiin.

Hello, stalkers. I'm back :)

** Postingan ini tidak mengandung iklan **

Pejaten, 23 Rabiul Akhir 1440
Hari pertama 2019


This entry was posted in

2 comments:

  1. Alhamdulillah....seneng deh akhirnya bisa baca tulisan mba Ri lagi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiiiih, muah muah muah.. I almost forgot how I love writing 😂

      Delete