Skip to main content

Kembali Ke Titik Nol

Song"Sajadah Panjang" - Bimbo

"..pertanyaannya adalah, di manakah kita? Ada di mana kita dalam bangunan perjuangan menegakkan keadilan di bumi Allah? Apakah jadi tiangnya? Sekrupnya? Atau sekedar serpih debunya? Bahkan menjadi debunya masih jauh lebih baik ketimbang hanya diam dan menonton.." (Tantular Wirta Sancaya, my dear brother)

...Dalam linangan
air mata

saya menyadari
satu hal...
Belasan tahun lalu, kakak saya nomor empat mengatakan ini, ketika gerakan reformasi baru mulai menggeliat. Kalimat ini terngiang kembali di telinga saya, tak berhenti, dalam dua bulan terakhir, ketika saya berjuang menyelesaikan terjemahan sebuah dokumen politik setebal 601 halaman.

Selama ini, saya selalu beranggapan bahwa dalam berjuang di jalan Allah, berjihad, setiap manusia memiliki jalannya masing-masing. Memiliki monumen pahalanya masing-masing. Dan itu tidak mesti bersinggungan langsung dengan label agama. Ketika kita mendedikasikan hidup untuk menyusuri sajadah panjang membentang dari kaki buaian hingga lubang kuburan*) untuk mencari cinta Allah semata, maka setiap hela nafas, tapak langkah, bulir keringat, kerja, karya, derita, bahagia, pikiran, segalanya, adalah dzikir dan ibadah dalam segala manifestasinya. Tidak ada yang percuma, tidak ada yang sia-sia. Saya mencurahkan segala kemampuan untuk berkarya, berusaha menjadi manfaat, dalam bentuk apapun, lalu berkata, "Inilah dzikir saya, inilah perjuangan saya, kendaraan saya." Tidak harus berlabel agama, karena toh saya meniatkannya untuk mencari ridho Allah. Saya tidak terlalu suka segala sesuatu yang terlampau dilabeli dengan agama tertentu. Tanpa harus mengusung bendera tertentu, agama sudah seharusnya menjiwai setiap langkah kehidupan manusia karena itulah panduan hidup manusia. Tanpa label apapun, agama sudah terpancar dengan sendirinya. Universal, natural, sesuai fitrah manusia.


Ketika seorang teman mengajak saya ikut kajian Al-Qur'an yang kebetulan tabrakan dengan jadwal saya memotret, saya (terpaksa) menolaknya sambil mengatakan bahwa saya harus bekerja hari itu. Sang teman berkata, "Sisihkan kerjaanmu sesekali, Rin." Dengan pongah saya berkata, "Kerjaan gue kan ibadah gue juga, Sand. Jadi sama aja donk." Betapa bodohnya saya.

Suatu kali, teman saya yang lain meminta pendapat mengenai siapa kira-kira yang saya rekomendasikan untuk menjadi pembicara untuk sebuah workshop creative writing yang akan ia adakan. Saya mengajukan nama seorang penulis kawakan.
"Yang muslim dong, Rin."
"Lah, emang kenapa? Dia kan ciptaan Allah juga." Haduh.

Dan akhirnya, Allah kembali menempeleng saya dengan ini. Oh, tidak hanya menempeleng, Dia menceburkan saya ke dalam jurang. Ketika saya tidak hanya harus bersinggungan dengan sesuatu berbendera --bukan label lagi, bendera! --agama, tapi sekaligus menceburkan pikiran saya dalam dasar-dasar perjuangan dakwah melalui jalur... politik! Dua hal yang saya hindari, dilemparkan Sang Khalik ke muka saya sekaligus!

Dokumen yang sulit. Dari segala sisi. Dari sisi bahasa, dia banyak sekali menggunakan istilah-istilah bahasa Arab *eh, saya penerjemah bahasa apa sih sebenernya? hihihi* Dan bahasa Arab adalah bahasa tinggi. Makna satu kata seringkali tidak dapat begitu saja diterjemahkan ke dalam 1-2 kata pengganti. Many times I found myself harus membaca satu artikel panjang demi untuk mengerti satu kata bahasa Arab yang sepertinya sederhana. Lalu jungkir balik mencari padanan kata dalam bahasa Inggris yang tidak lebih dari tiga kata.


Tahukah kamu, banyak sekali kata-kata bahasa Arab yang diterjemahkan salah oleh Google Translator? Saya gak bicara sekedar salah meleset sedikit atau lucu-lucuan. Tapi salah yang berpotensi menimbulkan prasangka buruk dan friksi. Satu contoh fatal adalah dakwah, diterjemahkan sebagai propaganda. What? And you wonder why Islam is so misunderstood by the western world. *sigh*



Dari sisi teknis, ehm, no question. Gak akan saya bahas.


Barangkali kecuali RUU dan UU, yang notabene adalah hardcore dari dokumen hukum dan karenanya harus sempurna, nyaris tidak pernah saya temukan dokumen dengan tata bahasa yang benar dan enak dibaca. Semua acak adul. Ya, ya, bahkan dokumen resmi seperti annual report dan kawan-kawannya. Surprise, surprise. Kali ini, keacakadulan itu ada 601 halaman. Spasi satu!


Tapi yang terberat adalah dari sisi konten. Politics. Not a good start. I dislike politics. As much as I understand bahwa politik menyentuh segala sesuatu menyangkut keteraturan sebuah sistem, yang justru memungkinkan hidup manusia berjalan aman dan nyaman karena semua kepentingan dapat terjaga, tetap tidak mengubah preferensi saya. I'll leave it to other people, not me. Saya menolak nonton berita lokal, tidak baca koran kecuali untuk cerpen dan teka-teki silang. Sehingga sejak huruf pertama masuk ke dalam kornea mata, resistensi itu sudah bekerja tanpa ampun. Menahan saya dalam kesakitan melangkah maju. Word by word. Line by line. Paragraph by paragraph. Page by page.

And a strange thing happened.
I started to care.
I got angry when I thought the diction and wording were not wise enough or could easily be misunderstood. I felt responsible, I felt I bear the same burden. I was touched when it said something beautiful and true. I had tears in my eyes when it told me about the life of Indonesian farmers and fishermen. I had fire in my heart when it peptalked me about striving for justice. I felt warm when it told me about hopes we still have in front of us. Then I heard a scream, "Why do I care so much?!!" You got it right. It was my voice.

...di manakah saya selama
ini? saya

bahkan tidak berani menjawabnya...
Dalam linangan air mata itulah saya menyadari satu hal. Saya ada di dalamnya. Ketika ia bersedih, saya bersedih. Ketika ia berjuang, saya berjuang. Lalu kalimat demi kalimat kakak nomor empat kembali terngiang di telinga. Membuat saya mempertanyakan kembali semua yang sudah saya lakukan dan belum saya lakukan. Mempertanyakan lagi pilihan-pilihan hidup saya. Cara saya mengartikan sesuatu yang dinamakan "menegakkan keadilan." Semua penafsiran saya seakan mentah kembali. Saya berdebat, menolak, lari. Bertengkar, melunak, mencibir lagi. Bersimpati, bosan, berusaha tak peduli. Namun akhirnya gagal dan menyerah pada kehendak Allah. Pada suara hati yang semakin keras setiap kali. Pada ngiang suara kakak nomor empat. Saya sadari di sinilah Allah menceburkan saya di satu tempat yang paling tepat untuk satu tujuan: memerintahkan saya memenuhi tugas paling mumpuni: memberikan tiap partikel dalam jiwa untuk sebuah bangunan megah: perjuangan menegakkan keadilan Allah.

Sekarang saya mengenangkan kembali kali pertama buku ini tiba di hadapan saya. Di sebuah food court nyaman dan sepi, di atas meja, dalam diskusi singkat di sore hari kurang lebih tiga bulan lalu. Little did I know dia akan membawa saya melalui perjalanan spiritual penuh roller coaster. Menantang kemampuan profesional saya hingga ke batas maksimal, menguji kualitas nurani saya sebagai manusia dan hamba Allah, lalu menghempaskan saya di kaki Sang Khalik dalam keadaan lemas tak berdaya. Kembali ke titik Nol. Saya tidak tahu apa-apa. Belum berbuat apa-apa. Belum jadi bagian dari bangunan perjuangan itu. Titik Nol.

Kini saya mengingatnya dengan cara yang lain. Ia jatuh di pangkuan saya bagai bayi diamanatkan untuk saya pelihara. Bersinar ia dalam genggaman saya menunggu tangan dan jari saya menuliskannya kembali. Pada tiap ketukan papan kunci, segala ego dan kepongahan diri lebur dalam ketentuan Allah. Saya tak punya pilihan selain menyerah. Membiarkan pikiran saya bersatu dengannya, memberikan diri saya seluruhnya, menerima ia seutuhnya.

Di mana saya sekian lama? Saya bahkan tidak berani menjawabnya. Tapi dalam sujud syukur saya malam ini, yang masih dipenuhi rasa takjub karena tidak membayangkan saya akan bisa menyelesaikannya *saya pikir saya akan menyerah di tengah-tengah dan berhenti*, doa saya hanyalah agar diperkenankan jadi bagian dari bangunan itu. Ijinkan hamba menjadi sekrupnya, atau sekedar serpih debunya, ya Al-Mutakabbir. Menjadi bagian dari perjuangan menegakkan keadilanMu. Melalui segala yang hamba mampu. Melalui apapun yang hamba mampu.


Sepanjang "karir" saya sebagai penerjemah, amatiran sejak bangku SMP, professionally sejak 2003, bisa dikatakan ini adalah puncaknya: yang tersulit, terlama, terbanyak, tertebal!

Despite of my happiness terbebas darinya, yang berarti saya bisa kembali leyeh-leyeh melamun dan melanjutkan nonton Dexter, I think I'm gonna miss the times I struggled finishing this.

Mojok seharian di kafe dari siang hingga menjelang midnight, hanya berteman Versa, Earl Grey dan kicauan twitter.

Kiriman makan siang dan madu dari Mbak Fat, rengginang lorjuk dari Widya, Cinnamon Cake dari Ndoey.

Doa dan salam rindu dari sahabat-sahabat NCC. Sebuah SMS dari Yeni dalam perjalanan NCC ke Cirebon tanpa saya:
Riana, kata mbak Fat: jaga kesehatan.
kata mas Wisnu: jangan lupa, masih ada Topaz
*sumpah, saya gak ngerti maksudnya :D*
kata Eka: mbak Riana, kapan keluar guanya..?
kata Nadrah: Riiii, dicariin banyak orang..
kata gue: buruan kelariiiin, gak seru gak ada elo!
Saya sungguh mewek dengan sukses.

Saat-saat mencuri waktu untuk tetap bisa nonton Teater Koma, Festival Sinema Perancis, Lincoln Lawyer, The Fall, King's Speech.

Nyolong hari untuk tetap bisa meeting, blogging, demi menjaga dapur tetap ngebul.

Kabur di suatu Senin untuk ngopi di Sabang 16 bareng para bakul kue.

Melarikan diri ke rumah Amel bersama Ndoey agar bisa kerja sambil melihat birunya langit, mendengar ricik air, merasai angin sore, lalu nyebur berenang begitu kepulan di atas kepala makin tebal, terancam erupsi dalam 7 skala Richter.

Mengambil sisa waktu yang tinggal secuil di penghujung hari untuk menamatkan serial Dexter, sambil badan tergeletak lemas bersama otak yang kadung menolak berpikir.

Teriak ke Mita dan Ending minta diculik makan seafood, karena kelaparan telat makan tapi craving seafood, gegara kemarin malamnya liat kakak beradik Dexter dan Debra Morgan makan seafood di pinggir pantai Miami.

Sempet-sempetnya bikin chocolate chips cookies di pagi buta, ketika insomnia akibat telat tidur berkelahi dengan logika kesehatan.

Ya, ya, saya akan merindukan saat-saat itu. Mengenangkannya sebagai dua bulan penuh keanehan. Keanehan!




Pejaten, 5 minutes after midnight
Arsenal VS Liverpool, EPL
April 17th, 2011




*) dikutip dari lagu "Sajadah Panjang" milik kelompok vokal Bimbo

Comments

  1. hai mbak, selamat ya, saya tahan napas bacanya. Tfs, masih percaya bahwa ngga ada sesuatupun yang kebetulan, mampir ke sinipun rasanya bukan kebetulan. terimakasih sudah membagi tulisan yang jadi sekrup perjalanan saya hari ini. :)

    ReplyDelete
  2. Selamat ulang tahun Ri....
    Gue udah nunggu tulisan ini saat loe tanya apa sms dari cirebon masih gue simpan :)
    Ikut nina tahan napas dan secara aneh berkaca2 mata gue waktu bacanya...

    ReplyDelete
  3. Speechless....

    Happy B'D Mbak Riana,... Pengen bisa jumpa Mbak Ri langsung,... Kapan yaaa...?
    Makasih buat tulisan yg 'berat' buat saya, tapi sungguh menggedor2 pintu dan jendela di hati saya... Trimakasih... :)

    ReplyDelete
  4. huuuhuuu..... *speechless sambil mewek*
    Happy b'day, mbak Ri... semoga sisa sajadah panjangmu terisi penuh dengan makna & manfaat bagi serpihan2 debu di sekitarmu, amiin...

    ReplyDelete
  5. Apabila setiap hari jadi dapat dirayakan seperti ini, Naaaaa.....apakah sekrup - sekrup itu tidak akan bersinar seperti mutiara........*desah
    Selamat hari jadi, my dear soul........

    ReplyDelete
  6. penasaran, dokumen apa yg ditranslate.

    ReplyDelete
  7. Idem dg Sizukha96, tulisanmu'berat' buatku, tapi....aku penasaran baca kalimat-kalimatmu supaya bisa nangkap maksudnya, hihihi

    Selamat Ulang Tahun Ri, sukses selalu.

    ReplyDelete
  8. @ All: amin untuk semua doa, syukron untuk segala cinta, biar Allah yang membalasnya berkali lipat *big bear hugs*
    @ Rifda: platform! :)
    @ Yeni: guepun membombay dengan sukses waktu nulisnya *ohoks*

    ReplyDelete
  9. Nana...seperti biasa, kata2 luar biasamu membiusku...

    Sungguh, alangkah kaya perjalanan jiwamu..
    Bahkan orang bisu atau tuli sekalipun bisa tahu..kamu mengamati dan mengunyah setiap episode dengan sepenuh hati..


    Selamat hari jadi Nana..

    Sudut mataku membasah..

    ReplyDelete
  10. Selamat ulang tahun,,
    Barakallah laki tuula 'umrik..

    ReplyDelete
  11. @ mbak Ami: terimakasih sangat, mbak Ami, it didn't come from me :)
    @ Nungki: amiin, syukron for the du'a *hug*

    ReplyDelete
  12. walau telat...met ulang tahun mbak Riana, salam kenal dariku. Betul banget bacaan ini berat buatku tapi aku sama denganmu tidak suka dengan dunia politik, dan akupun sampai ditempat baruku karena sudah bosan dengan kondisi negara kita yang acak adut itu. Nice blog...nice writing.....and satu lagi....i love debra morgan :) jadi pengen nyelesein dexternya juga nih....:D

    ReplyDelete
  13. @ Wistara: thank you so much, am i glad to meet another morgan's family freak :D

    ReplyDelete
  14. @ wistara: thank you so much *hug* ..and boy, am i glad to find another morgan's family freak :)

    ReplyDelete
  15. hahaha.....Dexter keren ya Ri, Debra apalagi hehehe....jadi inget pengen nyelesain season 5-nya nih, udah donlod sampe selesai tapi belum sempet nonton :D let's finish it soon.....

    ReplyDelete
  16. sangat! gegara Debra, i have so many curse words in my head everytime :D. Btw, aku udah tamat sampe season 5, gak sabar nunggu season 6. marilah suatu hari kita marathon nonton dexter :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Taman Nasional Ujung Kulon: Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Scroll down to go directly to technical data: "Not So Lonely Planet" section.
Di belakang antrian 9 set foto dan 16 catatan perjalanan yang entah kapan bisa lunas, dengan ngos-ngosan namun pantang menyerah, saya mulai cicil hutang ini sebelum maut menjemput. Biangnya adalah hilangnya smart phone saya yang menyimpan catatan-catatan perjalanan Wakatobi, Ternate, Raja Ampat, Banda Neira, Ambon (day to day!) dan Baduy Dalam. Usaha mengerahkan teman-teman saya untuk meng-sms nomor saya tersebut meminta agar file-file tersebut diemailkan ke saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya harus mengikhlaskan dan memblokir nomor itu lalu mengurus kartu baru.

Sejak itu, hutang yang memang sudah menumpuk menjadi semakin menggila. Saya berhenti mencatat. Baik secara harfiah maupun dalam kepala. Setiap kali backpacking, semuanya saya biarkan lewat tanpa berusaha menangkap kata-kata. Saya resapi segalanya, namun enggan menerjemahkannya ke dalam diksi. Rasanya malas sudah menyusun bunga rampai…

What Happened To The Universe?? - Ketika Semut Tak Lagi Doyan Kemut

Sebetulnya saya sangat sayaaaaang pada mahluk koloni yang rajin ini. Pekerja yang tangguh, giat dan ulet. Selama ini saya merasa mereka adalah sahabat-sahabat saya di dapur dan di mana-mana. Tiap kali mereka mengerumuni makanan di atas meja, saya cuma tersenyum maklum, lalu memindahkan makanan ke tempat yang aman dari jangkauan mereka. "Semut juga perlu makan." Ehm, bijak.

Merekaada di sekitar saya untuk mengingatkan supaya senantiasa memelihara kualitas ketangguhan dan kerajinan seperti mereka. "Piknik tanpa semut, bagaikan ke pasar tanpa beli duren." *eh*

Tapi, tapiiiiiiiii... akhir-akhir ini mereka semakin nakal dan banyak akal. Air putih pun mereka kerumuni. Wadah kedap udara berhasil mereka tembus. Tutup botol diterabas. Plastik digeripisi. Hey, hey, lantas apa arti persahabatan kita selama ini? Apa???

Tahukah kamu, semut-semutku sayang, sudah bertahun-tahun para penjual racun semut itu saya cuekin karena sungguh saya gak mau melukai kamu? Sekarang, inikah balasa…

Taman Nasional Karimun Jawa: How Can I Leave This Place?

Saya sudah berhutang terlalu banyak catatan perjalanan. I realize the beast that holds me back adalah karena saya sendiri sering terbosan-bosan baca catatan perjalanan. Yang langsung saya baca adalah data teknisnya. Lalu seorang teman bilang, "Kalo gitu baca aja Lonely Planet." Lah, memang! :)Bukan cuma itu. Menuliskannya kembali memaksa saya untuk menghidupkan lagi semua ingatan akan segalanya. Dan itu kerap kali bikin seluruh badan mengilu ingin kembali dan membanjiri wajah saya dengan air mata. Jangankan menulisnya. Baru sampai di bus pulang atau di Damri dari airport saja saya sudah mewek tersungguk-sungguk sampe kondektur Damri salting sendiri. In the case of Karimun Jawa, saya bahkan sudah nangis di perahu yang membawa kami menjauhi P.Menjangan Kecil di hari terakhir! Bukankah keterlaluan?