Thursday, October 28, 2010

Kamu, Akan Jadi Milikku. Catat Itu!


Sebab aku sudah sangat membutuhkanmu
seperti udara dan napasku, karenanya
sebelum tahun ini berganti, baby
sebaiknya kita sudah ijab kabul!


Ini semua gara-gara kakak saya. Singkatnya, saya sangat kehilangan Powershot A95 yang setia menemani saya dalam suka dan suka semata itu. Lalu di suatu siang yang dingin karena ruangan berAC, saya bertemu dia dan menyentuhnya. Dan bercakap-cakap dengannya cukup lama. Dan sisanya adalah sejarah: saya jatuh cinta. Pada S90! *loh?*

Belum sampai berjodoh dengan S90, adiknya muncul, dan dengan segera saya turun ranjang. Ketika hati sudah memilih, pertanyaan "mengapa" menjadi tidak relevan lagi bukan? Satu hal yang saya tahu pasti: ring controlnya membuat saya serasa punya banyak lensa, dari 28mm sampai 105mm. Apa lagi yang bisa saya harapkan dari sebuah kamera pocket selangsing ini? Senjata otomatis a la James Bond? Semburan api Bat Mobile? Tidak, tidak. Cukup ring control itu saja.

A95. S95. I smell destiny.
...

Tuesday, October 12, 2010

Girl Power

All photos are courtesy of Eliza Adam

Girl Power :)

She is the owner of Notes From My Food Diary and Tambatan Hidup. She lives in Oregon.
She is the owner of Vania Recipes and The Samperuru's. She lived in Balikpapan, then Mumbay, now back in Jakarta.
She is the owner of Dapur Syl and Keluarga Cemara. She lived in Myanmar, Vietnam, Manado, now back in Bogor.

We know each other through the same gigantic wire networks that've been connecting you and me: internet. Blogs. Somehow, we made friends and got familiar with each other over these past five years.

One cloudy day, we finally met. And although time was short, we had the time of our lives. Shaping the sweetest memory that remains forever. Miss you all, gals.

Friday, October 01, 2010

Cerita Hujan dan Petualangan


Saya masih ingat riap gerimis yang selalu menggerakkan jari-jemari saya di sini. Bercerita tentang hangatnya mengerlung di sofa bersandaran tinggi, ditemani secangkir coklat panas dengan kaus kaki melekat hangat. Seperti Lotta. Seperti siang ini, terasa masih terus pagi. Senja nanti, akan terasa sudah malam. Hujan, rimis air. Kelok garis fana di jendela berwarna. Kedai kopi, sapaan yang akrab di telinga, "Sudah kauseduh tehmu?" Seperti pernah mendengar ratusan kali sebelumnya. Dalam puisi pujangga tak bernama.

Langkah saya terhenti di depan sebuah mobil mungil berwarna merah. Terlalu merah. Seperti darah. Atau lipstick merk mahal yang dipakai gadis cantik dalam iklan di majalah terjemahan. Satu tarikan senyum mengembang renyah. Saya hampir bisa mendengar tawa darinya sudah. Mendadak saya mengerti, mendung dan dingin hujan, memang selalu menipu. Hangat yang menyamar menjadi ini dan itu.

Perjalanan menguak jalan-jalan kecil di tengah kota membuktikan bahwa kami masih para petualang kecil yang sama. Menjula matahari tidak berarti terbakar panasnya. Memecahkan paru-paru demi mutiara tidak berarti tenggelam lalu terlupa. Saya juga tidak tahu apa arti dua kalimat barusan. Hanya saja, saya menjadi mahfum, bahwa kembara hanya takluk pada musim. Nyatanya sesak ibu kota yang seharusnya menghambat kami hingga bodoh di atas aspal, tidak seujung kukupun berhasil menyentuh bayang si merah. Ah, dia terlalu merah!

Related Posts with Thumbnails