Karena manusia diciptakan dengan dua kaki,
maka pejalan kaki adalah raja.
Karena manusia bernapas dengan paru-paru,
maka udara bersih adalah haknya.
Karena manusia dianugerahi mata dan hidung,
maka sampah tidak seharusnya mengotori lingkungan.
Dan pepohonan rimbun memenuhi tiap sudut kota.
Karena manusia senantiasa berpindah tempat,
maka transportasi murah dan nyaman adalah kewajiban.
Karena manusia berhak memilih keyakinannya,
maka semua umat sama dihormatinya.
Karena kicauan burung menyenangkan hati,
maka mereka bebas beterbangan tanpa takut hantaman ketapel.
Karena manusia selalu melangkah ke depan,
maka teknologi tersedia untuk semua orang.
Karena bebas dari rasa takut adalah hak asasi manusia,
maka tingkat kriminalitas nyaris nol.
Karena manusia bukan tai!
Puisi di atas
saya tulis 4 tahun lalu, tahun 2005 tepatnya. Sebuah oleh-oleh sederhana dari seseorang yang melancong ke negeri tetangga. Ternyata saya masih menyukai puisi itu. Masih mengingatnya ketika bulan lalu kembali melawat ke negeri kinclong tersebut. Masih menganggap puisi itu relevan dan
nonjok. I guess my love affair with this country is somewhat still going on at some level.
Namun ternyata, bertambah usia 4 tahun cukup berpengaruh pada kegalakan menulis. Karena ternyata, saya tidak lagi ingin marah-marah di sini. Juga tidak berminat untuk mengambil angle pepatah basi "rumput tetangga" and its craps **walaupun kamu mengharapkan saya tetap segalak dulu dalam menulis**.
Cukuplah foto-foto a la turis ini bercerita. Semoga kali ini, ada manfaatnya buat orang lain.
Main-mainlah ke
flickr set saya, di mana saya tuliskan cerita di balik setiap foto. Jangan lupa tinggalkan pesan atau komentar, supaya saya tidak kesepian.