Thursday, July 30, 2009

Nothing



Betapa suci hati manusia ketika Allah berkenan membasuhnya. Betapa berlimpah rejeki Allah disiramkan ke atas kepala manusia ketika manusia bahkan tidak cukup peduli untuk meminta. Mengalirlah air mata sederas riam sungai, ketika saya temui orang-orang berhati malaikat di sekeliling saya. Betapa tidak sanggup saya menanggung rasa haru, takjub, sekaligus tak berdaya. Apa daya hamba tanpa pertolonganMu melalui mereka? Apa yang bisa hamba buat tanpa orang-orang baik yang Engkau kirimkan ke dalam alur hidup hamba? Betapa tak ada daya upaya selain milikMu!

..melirih namaMu,
rindu yang menggeremus nadi

terima aku,
biarkan kuhamparkan sengkarut jiwaku di keluasanMu..


Jakarta, May 22th, 2009

Tuesday, July 28, 2009

Manusia Tetap Bukan Tahi

Every Morning
Karena manusia diciptakan dengan dua kaki,
maka pejalan kaki adalah raja.

Karena manusia bernapas dengan paru-paru,
maka udara bersih adalah haknya.

Karena manusia dianugerahi mata dan hidung,
maka sampah tidak seharusnya mengotori lingkungan.
Dan pepohonan rimbun memenuhi tiap sudut kota.

Karena manusia senantiasa berpindah tempat,
maka transportasi murah dan nyaman adalah kewajiban.

Karena manusia berhak memilih keyakinannya,
maka semua umat sama dihormatinya.

Karena kicauan burung menyenangkan hati,
maka mereka bebas beterbangan tanpa takut hantaman ketapel.

Karena manusia selalu melangkah ke depan,
maka teknologi tersedia untuk semua orang.

Karena bebas dari rasa takut adalah hak asasi manusia,
maka tingkat kriminalitas nyaris nol.

Karena manusia bukan tai!


Puisi di atas saya tulis 4 tahun lalu, tahun 2005 tepatnya. Sebuah oleh-oleh sederhana dari seseorang yang melancong ke negeri tetangga. Ternyata saya masih menyukai puisi itu. Masih mengingatnya ketika bulan lalu kembali melawat ke negeri kinclong tersebut. Masih menganggap puisi itu relevan dan nonjok. I guess my love affair with this country is somewhat still going on at some level.

Singapore Flyer


Namun ternyata, bertambah usia 4 tahun cukup berpengaruh pada kegalakan menulis. Karena ternyata, saya tidak lagi ingin marah-marah di sini. Juga tidak berminat untuk mengambil angle pepatah basi "rumput tetangga" and its craps **walaupun kamu mengharapkan saya tetap segalak dulu dalam menulis**.

Cukuplah foto-foto a la turis ini bercerita. Semoga kali ini, ada manfaatnya buat orang lain.

Elgin Bridge

Under the Cloudy Sky

The Fullerton

Hello, Mr. Fish Fountain of Wealth The Toast


Main-mainlah ke flickr set saya, di mana saya tuliskan cerita di balik setiap foto. Jangan lupa tinggalkan pesan atau komentar, supaya saya tidak kesepian.

One Cloudy Morning

Sunday, July 12, 2009

Kekasih Hati

Aku hanya ingin mencintaiMu saja
Karena hanya denganMu, cinta tidak menyakiti
tidak meninggalkan
tidak mengkhianati
tak ada kecewa
Karena hanya denganMu, cinta selalu berbalas
selalu memeluk
selalu menggenggam tangan
selalu menghibur luka hati
selalu merayu
Karena hanya denganMu, kemesraan tak pernah berhenti
keyakinan tak pernah tergerus ragu
harapan tak pernah pergi

Ampuni aku mendua
Lihatlah aku berlari mencariMu lagi
memohon cintaMu lagi

CintaMu, cukup bagiku


Jakarta approaching midnight
luluh lantak di kakiMu


Saturday, July 11, 2009

Kisah Rumit Merak dan Rindu


He let go of me,
yet he gave me the world already.

Apa yang bisa dikisahkan tentang cinta: materi usang yang diulang hingga karatan. Ia memutar dunia dalam berjuta manifestasinya. Masihkah ada tempat untuk cerita cinta dua anak manusia?

Dua orang yang saling jatuh cinta, namun tak berkutik oleh situasi; jarak, waktu, status, prinsip. Disatukan hanya dan hanya oleh satu hal saja: ingatan lamur akan tatap mata.

Dua puluh tahun lalu mereka bertemu. Tidak pernah bertegur sapa, tidak pernah saling mengenal. Hanya beberapa kejap tatap mata yang ternyata abadi dalam ruang memori. Dua puluh tahun kemudian, semesta yang aneh membawa mereka bertemu dalam libatan prosa dan puisi. Lalu ketika diksi dan metafora dipertukarkan, dikelit-beliungkan seperti angin memuntiri daun gugur, derasan emosi yang dijuluki cinta menghantam keduanya habis tak bersisa.

Akankah cerita panjang ini ada akhirnya?

..unreachable horizon ahead, waiting eternally..



Judul: Sahabat Batin - Kisah Merak dan Rindu yang Rumit
Pengarang: Pangeran Api dan Puteri Angin
Harga: Rp 40.000,- + ongkos kirim Rp 10.000,- untuk Jabodetabek, luar Jabodetabek sesuai tarif Tiki
Pemesanan ke: p3nnylan3 at gmail dot com, sebutkan alamat lengkap dan nomor telpon ya..
Pembayaran ke: BCA #5540250628 atau Bank Muamalat cabang Mampang #9004523889, a.n. Riana Ambarsari

Dicetak sangat terbatas, 200 eksemplar saja. Kalo gak kebagian, gak janji bakal cetak lagi kapan. Jadi buruan aja deh..

Baca resensinya Ade klik di sini

Related Posts with Thumbnails