Ah! Sebuah libur kerja yang menyenangkan!
Pagi setelah bikin kopi dan mandi, saya ke kantor pajak Jakarta Selatan. Mau laporan pajak ceritanya.
Status: ibu rumah tangga tanpa penghasilan.
Sampai di sana, tanya sana tanya sini, hasilnya adalah:
- Dengan status keren tersebut, formulir yang harus saya isi adalah formulir SPT Tahunan PPh Orang Pribadi nomor 1770SS.
- Lampiri formulir tersebut dengan surat pernyataan pribadi yang menyatakan bahwa diri ini tidak bergaji.
- Perkara mupeng bebas fiskal, ternyata, gak masalah apakah saya sudah lapor pajak atau belum. Tetep bebas kok. Ehm.
- Cukup bawa kartu NPWP aja nanti pas pergi-pergi. Kata petugas pajaknya begitu.
Makan siang yang nikmat lagi menyehatkan, a.k.a. karedok dan nasi lentil plus rempeyek tipis. Sisa siang hingga sore dihabiskan dengan leyeh-leyeh di sofa membaca sebuah buku menarik, a.k.a.
Subject: Re: by Novita Estiti, sambil menemani si sahabat batin mengerjakan thesisnya. Tepatnya, gangguin dia dengan celotehan tentang buku yang lagi saya baca. Dia menanggapi sesekali, sambil berusaha sopan untuk gak bilang, "Haduh, berisik amat sih! Bea siswa gue tinggal dua bulan lagi neeeh!!"
Selepas maghrib pergi ke citos untuk ngopi sama Maya. Phewh, akhirnya mulai terbayar satu demi satu janji saya menawari kopi dan makan siang. **Nuke, sama elo belom!!**
Ketika lagi asik berisik, seorang perempuan cantik lewat dekat sekali dengan meja kami, yang memang tepat di pinggiran teras kafe, tempat orang lalu lalang. Saya tidak kenal dia. Tapi wajah cantiknya, entah kenapa, lekat di benak saya hingga spontan saya menyapa, "Hera!"
Ia menoleh, lalu menghampiri meja kami. Singkat cerita, saya dan dia akhirnya ngobrol sebentar, lalu dengan petakilannya diakhiri dengan saling mengadd di facebook. Sekilas lintas, cerita ini gak menarik. Tapi begini, saya itu tidak kenal dia. Dia pun gak kenal saya. Hanya saja, seorang sahabat sering bercerita tentang dia, lalu dalam sebuah kesempatan pernah menunjukkan fotonya di facebook. Hanya itu.
"Kok elo segitu ingetnya, sampe-sampe ketemu selintasan di tempat umum bisa langsung ngenalin wajahnya?"
Jawabannya mudah: karena dia sungguhlah cantik sekali.
"Kok elo segitu impulsifnya negor seseorang yang gak elo kenal?"
"Segitu yakinnya dia bakalan menyambut sapaan loe?" tanya seorang sahabat yang bergabung kemudian.
Jawabannya mungkin akan sama jika saya balik bertanya. "Kok dia juga segitu yakin membalas sapa saya dengan menghampiri meja lalu ngobrol dengan saya?"
Saya lebih suka menjawabnya dengan satu jawaban basi dan teramat sangat logis, hingga cenderung mistikal: itulah jodoh. Dalam segala hal. Perjumpaan, pertemanan, percintaan, perdagangan, perdanlainlainan. Kalau mengutip dari cerber Keabadian karya PennyLane, yaitu ketika senyawa-senyawa yang bersesuaian saling mencari lalu bertautan erat di ruang kosmik. Klik. Kun fayakun.
Di hari libur kerja yang sangat menyenangkan, saya pulang dengan bertambah satu teman.