Monday, June 22, 2009

Pembeku Waktu

Dia sudah tak ingin menulis lagi.

"Aku ingin membekukan waktu saja."

"Mengapa?" tanyaku putus asa.

"Karena aksara tidak lagi menggetarkan nadi. Sementara waktu yang membeku seperti berhenti selamanya. Ada warna yang langsung terekam mata. Bahasa lain yang lebih menggoda ketimbang diksi dan frasa."

"Tapi aku tidak mungkin bisa berada di dalamnya. Sementara susunan aksara bisa memuat ribuan aku dan kamu."

"Aku tahu," sahutnya tanpa penjelasan.

Lalu demikianlah. Dibekukannya waktu satu demi satu. Detik demi detik. Bingkai demi bingkai. Membahasakan cintanya yang lain lagi.

Membisik ia pada sore berlangit sempurna, maafkan aku. Hanya mereka di benakku. Mengapa tak ada lagi kamu, aku pun tak tau.


A Lazy Afternoon in Studio
by Riana Ambarsari

Saturday, June 20, 2009

Today's Desktop: Celoteh Strawberry Pie


  • Whoa! Stylus pen gue ketemu! Ada di kotak lost and found di studio siaran. And by kotak lost and found I mean kotak butut di ambang jendela pembatas yang isinya benda-benda aneh bin ajaib. Siapa-siapa aja yang masukin benda-benda itu ke situ biarlah jadi misteri. Kenapa tiba-tiba stylus pen gue yang udah dua kali ilang terus nongol di situ, wallahualam bissawab. Yang pasti gue seneng banget. Alhamdulillah..

    **males aja beli stylus pen tiga kali, emangnya cewek apaan**
  • Mantan kakak ipar pulang dari Moskow, bawain boneka matryoshka. Senangnya. Keponakan saya nganterin boneka itu ke rumah, bareng sama adiknya. Duh, kapan lulusnya sih kamu, keponakanku sayaaaang?

    Mengenai si matryoshka sendiri, dia adalah lambang disambiguation. Similar object within similar object. Seperti bawang bombay, dikeletek satu lapis, lapis berikutnya sama. Begitupun lapis berikutnya, dan berikutnya. Tidak berubah. Sama dari kulit hingga inti terdalam. Jeng Matryoshka juga begitu. Dia gak menyembunyikan sesuatu yang berbeda dengan yang ia tampilkan di lapisan terluar dirinya. Menyebutkan kata "ambigu", saya langsung teringat kepada seseorang. Sudahlah. **duileh**
  • Udah dua bulan belakangan saya komplain tentang jadwal siaran. Jamnya nanggung. Dua hari lalu saya bicara ke bu pidi (program director), "maksimal dua kali seminggu aja deh say, aku siarannya," gaya bener sama boss manggil say. Emangnya lagunya Ray Sahetapy sama Dewi Yull.

    "Yaaah, malah harusnya 5 kali, Ri."

    Halah.

    "Gak bisa bu, beneran."
    "Tiga kali deh. Gimana?"

    Cong, kayak nawar sayuran neh.

    Setelah pembicaraan sedikit muter-muter, diselingi mata bu pidi yang berkaca-kaca karena beratnya beban kerja, akhirnya diri ini mengalah, "Ok, aku coba 3 kali di bulan depan ya. Tapi to be restructured after a month ya, bu. Janji?" Gimana sih, anak buah malah merintah-merintah atasan.

    "Ok, aku juga coba utak-atik lagi deh jadwalnya."

    Hmmm.
  • Sejak siaran lagi, pola makan saya hancur-hancuran **not that I got it right before :D **. Bukan menyalahkan siarannya, tapi memang jadi sulit sekali. Bukan hanya karena di sekitar kantor cuma ada warteg full minyak, tapi juga karena 4 jam siaran berdua, ternyata membutuhkan mood booster yang luar biasa. Yang tadinya cukup dengan teh dan sedikit madu, naik tingkat jadi kopi abang-abang, naik tingkat lagi jadi kopi instan. Selincah apapun saya mensiasati keadaan dengan berbekal makanan rumah dan buah-buahan, tetap banyak sekali hari yang lolos di mana kami, Rully dan saya, lagi-lagi harus ngewarteg lagi... ngewarteg lagi...

Banyak yang bisa diceritain, tapi semua gak ada yang penting. So, that's it, folks.

Friday, June 19, 2009

Pada Sebuah Rabu



Ah! Sebuah libur kerja yang menyenangkan!

Pagi setelah bikin kopi dan mandi, saya ke kantor pajak Jakarta Selatan. Mau laporan pajak ceritanya.

Status: ibu rumah tangga tanpa penghasilan.

Sampai di sana, tanya sana tanya sini, hasilnya adalah:
  • Dengan status keren tersebut, formulir yang harus saya isi adalah formulir SPT Tahunan PPh Orang Pribadi nomor 1770SS.
  • Lampiri formulir tersebut dengan surat pernyataan pribadi yang menyatakan bahwa diri ini tidak bergaji.
  • Perkara mupeng bebas fiskal, ternyata, gak masalah apakah saya sudah lapor pajak atau belum. Tetep bebas kok. Ehm.
  • Cukup bawa kartu NPWP aja nanti pas pergi-pergi. Kata petugas pajaknya begitu.
Makan siang yang nikmat lagi menyehatkan, a.k.a. karedok dan nasi lentil plus rempeyek tipis. Sisa siang hingga sore dihabiskan dengan leyeh-leyeh di sofa membaca sebuah buku menarik, a.k.a. Subject: Re: by Novita Estiti, sambil menemani si sahabat batin mengerjakan thesisnya. Tepatnya, gangguin dia dengan celotehan tentang buku yang lagi saya baca. Dia menanggapi sesekali, sambil berusaha sopan untuk gak bilang, "Haduh, berisik amat sih! Bea siswa gue tinggal dua bulan lagi neeeh!!"

Selepas maghrib pergi ke citos untuk ngopi sama Maya. Phewh, akhirnya mulai terbayar satu demi satu janji saya menawari kopi dan makan siang. **Nuke, sama elo belom!!**

Ketika lagi asik berisik, seorang perempuan cantik lewat dekat sekali dengan meja kami, yang memang tepat di pinggiran teras kafe, tempat orang lalu lalang. Saya tidak kenal dia. Tapi wajah cantiknya, entah kenapa, lekat di benak saya hingga spontan saya menyapa, "Hera!"

Ia menoleh, lalu menghampiri meja kami. Singkat cerita, saya dan dia akhirnya ngobrol sebentar, lalu dengan petakilannya diakhiri dengan saling mengadd di facebook. Sekilas lintas, cerita ini gak menarik. Tapi begini, saya itu tidak kenal dia. Dia pun gak kenal saya. Hanya saja, seorang sahabat sering bercerita tentang dia, lalu dalam sebuah kesempatan pernah menunjukkan fotonya di facebook. Hanya itu.

"Kok elo segitu ingetnya, sampe-sampe ketemu selintasan di tempat umum bisa langsung ngenalin wajahnya?"

Jawabannya mudah: karena dia sungguhlah cantik sekali.

"Kok elo segitu impulsifnya negor seseorang yang gak elo kenal?"
"Segitu yakinnya dia bakalan menyambut sapaan loe?" tanya seorang sahabat yang bergabung kemudian.

Jawabannya mungkin akan sama jika saya balik bertanya. "Kok dia juga segitu yakin membalas sapa saya dengan menghampiri meja lalu ngobrol dengan saya?"

Saya lebih suka menjawabnya dengan satu jawaban basi dan teramat sangat logis, hingga cenderung mistikal: itulah jodoh. Dalam segala hal. Perjumpaan, pertemanan, percintaan, perdagangan, perdanlainlainan. Kalau mengutip dari cerber Keabadian karya PennyLane, yaitu ketika senyawa-senyawa yang bersesuaian saling mencari lalu bertautan erat di ruang kosmik. Klik. Kun fayakun.

Di hari libur kerja yang sangat menyenangkan, saya pulang dengan bertambah satu teman.

Wednesday, June 10, 2009

Mimpi Bayang Jingga, kata Sanie



Saya masih ingat bagaimana girangnya rasa hati, ketika salah dua pengarang favorit saya, yang sudah saya puja sejak masih SD, meninggalkan komentar di postingan Kef!.

Kurnia Effendi dan Sanie B. Kuncoro.

Saya masih ingat kalimat-kalimat indah yang ditinggalkan seorang Kef.

kurnia_ef said...
Hai, pennylane, ah siapa pun namamu, aku membayangkan dirimu dalam samar kabut masa lalu. Di mana kau berdiri saat itu? Tentu kau mengira aku sedang berada dalam bilik yang penuh serakan aksara puisi yang kupunguti dengan hati-hati, lalu kujalin kembali menjadi berlembar-lembar cerita cinta. Andai suatu saat nanti, dalam kepingan waktu yang mendera hidup kita, janganlah engkau sampai kecewa. Mungkin aku hanya manis dalam hamburan kata-kata, seperti malam ini, tak seindah yang kaubayangkan. Aku sungguh merasa tersipu oleh pujianmu yang kelewat batas. Janganlah cemburu. Terima kasih. Dengan cara tidur yang kerap terlambat kan kubalas cintamu, dari balik bisik sebuah dongeng yang tak kunjung selesai...
7/04/2008 11:00:00 PM
Lalu saya berbunga-bunga.
PennyLane said...
Kef! Kamukah itu? Masih setia kunanti bisik dongengmu, Kef. Lagi dan lagi. Tak ada putusnya serupa rembulan dan mentari menyambangi bumi. Tak akan ku kecewa sebab hanya hamburan kata-kata yang kuminta. Dan kepingan waktu itu akan tersambung akhirnya. Tak 'kan lagi ku cemburu, Kef. Sebab kaubalas cintaku dengan tidurmu yang kerap terlambat. Melantuni ruangku, melintasi langitku. Aku yang berterimakasih!
7/05/2008 09:28:00 AM
Lalu Sanie meningkahi.
maysanie said...
Akhirnya kalian telah saling berbalas. Aduhai romantisnya anyaman kalimat kalian. Semoga tidak menimbulkan kecemburuan massal.
Tahukah, Kef sempat kesulitan masuk di blogmu dan tega mengganggu pulasku. Demi dirimu, pennylane....
7/22/2008 04:35:00 PM

Maka ketika buku Sanie yang ketiga ini terbit, tidak sulit untuk ditebak bahwa dalam sekejap dia sudah menghuni tas selempang saya.

Sanie menyisipkan sebuah puisi karangan Kef di dalamnya. Kabut, katamu. Judul yang indah, Kef. Kamu selalu berhasil memikat saya.

Saya baru menyadari kalau buku ini adalah sebuah kumpulan cerita justru setelah selesai membaca semuanya. Tidak banyak, hanya tiga cerita. Seperti yang sudah dibahas oleh Rini NB Hadiyono dalam resensinya, ketiga cerita ini tentu memiliki benang merah yang sama, menggabungkan ketiganya sehingga tidak tak berhubungan sama sekali.

Saya menambahkan sedikit saja kepada yang sudah dituliskan Rini. Selain tema cinta segitiga, pilihan frasa-frasa yang sama, satu lagi adalah jalan keluar yang serba terlalu. Terlalu mudah, terlalu tragis, terlalu cepat, terlalu tidak masuk akal. Apakah seorang wanita cerdas dan modern akan memilih bunuh diri untuk alasan cinta yang tidak direstui dan terlanjur hadirnya janin dalam rahim? Apakah karakter yang sejenis di cerita kedua akan menjadi gila hanya karena impian yang lepas dari genggaman dengan cara menyakitkan? Cerita ketiga mungkin tidak menghadirkan keputusan yang terlalu mudah itu, lebih masuk akal dan wajar. Namun buat saya masih terasa terburu-buru. Apakah seorang lelaki yang baru saja bersumpah dua hari tanpa berhenti untuk tidak meninggalkan sang kekasih, dapat dengan renyah tertawa ketika sang kekasih malah mengatakan akan mencari orang lain?

Ah, Sanie. Saya tidak bermaksud ngrasani kamu. Apalagi sok membuat kritik buku. Tetaplah saya terbuai dengan diksimu, seakan kembali ke usia belasan tahun saat membaca Anita pertama kali. Tetaplah saya nantikan karya-karyamu berikutnya. Semata karena nikmatnya membaca kalimat indah tidak dapat digantikan bahkan oleh pemenang pullitzer sekalipun.

Saturday, June 06, 2009

Berasal Dari Tuhan


..Benar-benar suatu kenyataan yang gila, bahwa perjalanan hidup kami harus terulur-ulur demikian panjangnya, dan kami baru tahu halnya setelah bertutur-tutur dalam pertemuan kami kelak, di saat kami sama-sama tua dan tidak cantik lagi, namun tetap saling cinta, seperti selamanya cinta yang tulus, yang berasal dari Tuhan, tidak pernah luntur oleh zaman.
Kembang Jepun - Remy Sylado, Bab Dua Puluh Dua, paragraf 8


I burst into tears.

Bukan buku yang sempurna, cerita maupun tuturannya. Bahkan saya hampir-hampir memutuskan untuk menutup dan meninggalkannya di tengah cerita, karena bosan ketika gaya bertutur tentang jaman kemerdekaan mendadak jadi tidak menarik lagi. Jalan ceritanya pun banyak terasa dipaksakan di sana-sini.

Namun paling tidak, saya tidak kecewa. Dan saya menangis.

*ah, dasar saya cengeng*
Related Posts with Thumbnails