
Pagi itu, jendela kamar saya buka lebar-lebar. Kecipak ikan koi mengacak air. Matahari pagi putih menembus mendung tipis. Sego pecel dalam perjalanan. Celoteh para sahabat mengundang saya segera bersatu. Seperti lagu.
Indah pagi ini
nada sumbang enyahlah kau
biarkan kami
-iwan fals-
Seraut wajah pucat melintas di sela obrolan riang dan kesibukan. Sepasang mata sempit bercahaya gemintang. Berusaha mati-matian terus bersinar dalam redup gerimis malam. Pasrah dengan jatah rizki dan bencana dalam sejuring hidup yang sudah digariskanNya. Dia perempuan berpelupuk mimpi.
"Pada pagi di mana cinta menguap hilang bersama asap, hanya basa-basi menjaga semak hati sekedarnya. Berhentilah berkat-kata. Manusia dewasa tidak butuh alasan untuk berpisah jalan. Jika kidung kedasih tak terdengar lagi, ceracau murai sekalipun tak kan mampu memecah sunyi."
Teras cantik dan kecipak ikan koi, canda tawa, semilir angin pagi, matahari hangat. Ramai kendaraan dan dahan-dahan pohon berkejaran di luar jendela. Sebuah pesan formal di layar telepon. Kamukah itu?
Sore datang tanpa wara-wara. Lelah bekerja seharian, sebuah cinta yang mengejawantah. Kesenangan, pengabdian, kepul periuk nasi. Wajah pucat dengan sepasang mata sempit berkelebat lagi. Genang air mata perempuan berpelupuk mimpi, menghanyutkan saya dalam tapa puisi rembang petang.
"Pada sore di mana cinta tak lagi bisa dipercayai, sapa basa-basi kembali menari-nari. Lidahnya menipu kalbu. Mata pisaunya melecut pikiran agar bangun membaui aroma luka. Teruslah berdusta, sampai engkau muak.
Seperti lagu."
Seperti lagu."
Berkemas-kemas dalam gegas waktu. Alur hidup tak pernah sedia berhenti. Hidup wajib dilanjutkan, walau lubang besar menganga tak terisi. Bunyi telepon menandakan datangnya pesan. Sapa basa-basi penuh tanggungjawab sosial. Sungguhkah itu kamu?
Saya menjerit lantang tak tahu malu, "Wanita berpelupuk mimpi! Cinta itu milikmu masih. Lindap sejenak bukan berarti lenyap serupa asap. Tekuri lagi surat panjang tempo hari! Temukan kebenaran hakiki yang hanya dimiliki ksatria sejati! Biarkan pesan-pesan kosong ini kutanggung sendiri. Namun cinta itu milikmu. Biar aku yang menghadapi sunyi!"
Malam turun di atas Bintoro dua. Gemeritik jemari di atas papan kunci. Kopi jahe asli, ya kopinya, ya jahenya. Canda tawa seakan tak pernah habis mengawangi hari. Tak ada pesan lagi.
"Kutemukan kebenaran hakiki milik ksatria sejati. Pada suatu hari di sebuah negeri, ksatria berhati singa menyunting hati terlembut milik seorang putri. Dua tangan bergenggam kejat, lalu dipaksa lepas tanpa ampun. Pada malam di mana cinta berjuang bertahan, biarlah Sang Pemutar Hidup menuliskan ceritaNya. Aku di sini menyerah di genggamNya."
Sebuah pesan tersisa menutup hari. Masih dengan warna-warni yang bukan lagi pelangi. Ah, sudahlah. Tulisan ini saya akhiri di sini, karena kopi jahe pun sudah tak kepul lagi.
Surabaya, 16 Mei 2009
:saat rindu tak lagi hendak dirumiti

