Saturday, May 16, 2009

Pada Pagi, Sore dan Malam

Afternoon in a Terrace

Pagi itu, jendela kamar saya buka lebar-lebar. Kecipak ikan koi mengacak air. Matahari pagi putih menembus mendung tipis. Sego pecel dalam perjalanan. Celoteh para sahabat mengundang saya segera bersatu. Seperti lagu.

Indah pagi ini
nada sumbang enyahlah kau
biarkan kami

-iwan fals-

Seraut wajah pucat melintas di sela obrolan riang dan kesibukan. Sepasang mata sempit bercahaya gemintang. Berusaha mati-matian terus bersinar dalam redup gerimis malam. Pasrah dengan jatah rizki dan bencana dalam sejuring hidup yang sudah digariskanNya. Dia perempuan berpelupuk mimpi.

"Pada pagi di mana cinta menguap hilang bersama asap, hanya basa-basi menjaga semak hati sekedarnya. Berhentilah berkat-kata. Manusia dewasa tidak butuh alasan untuk berpisah jalan. Jika kidung kedasih tak terdengar lagi, ceracau murai sekalipun tak kan mampu memecah sunyi."

Teras cantik dan kecipak ikan koi, canda tawa, semilir angin pagi, matahari hangat. Ramai kendaraan dan dahan-dahan pohon berkejaran di luar jendela. Sebuah pesan formal di layar telepon. Kamukah itu?

Sore datang tanpa wara-wara. Lelah bekerja seharian, sebuah cinta yang mengejawantah. Kesenangan, pengabdian, kepul periuk nasi. Wajah pucat dengan sepasang mata sempit berkelebat lagi. Genang air mata perempuan berpelupuk mimpi, menghanyutkan saya dalam tapa puisi rembang petang.

"Pada sore di mana cinta tak lagi bisa dipercayai, sapa basa-basi kembali menari-nari. Lidahnya menipu kalbu. Mata pisaunya melecut pikiran agar bangun membaui aroma luka. Teruslah berdusta, sampai engkau muak.
Seperti lagu."

Berkemas-kemas dalam gegas waktu. Alur hidup tak pernah sedia berhenti. Hidup wajib dilanjutkan, walau lubang besar menganga tak terisi. Bunyi telepon menandakan datangnya pesan. Sapa basa-basi penuh tanggungjawab sosial. Sungguhkah itu kamu?

Saya menjerit lantang tak tahu malu, "Wanita berpelupuk mimpi! Cinta itu milikmu masih. Lindap sejenak bukan berarti lenyap serupa asap. Tekuri lagi surat panjang tempo hari! Temukan kebenaran hakiki yang hanya dimiliki ksatria sejati! Biarkan pesan-pesan kosong ini kutanggung sendiri. Namun cinta itu milikmu. Biar aku yang menghadapi sunyi!"

Malam turun di atas Bintoro dua. Gemeritik jemari di atas papan kunci. Kopi jahe asli, ya kopinya, ya jahenya. Canda tawa seakan tak pernah habis mengawangi hari. Tak ada pesan lagi.

"Kutemukan kebenaran hakiki milik ksatria sejati. Pada suatu hari di sebuah negeri, ksatria berhati singa menyunting hati terlembut milik seorang putri. Dua tangan bergenggam kejat, lalu dipaksa lepas tanpa ampun. Pada malam di mana cinta berjuang bertahan, biarlah Sang Pemutar Hidup menuliskan ceritaNya. Aku di sini menyerah di genggamNya."

Sebuah pesan tersisa menutup hari. Masih dengan warna-warni yang bukan lagi pelangi. Ah, sudahlah. Tulisan ini saya akhiri di sini, karena kopi jahe pun sudah tak kepul lagi.

Surabaya, 16 Mei 2009
:saat rindu tak lagi hendak dirumiti

Thursday, May 14, 2009

Agar Kau Mengerti


Langit Serpong lagi. Terasa sudah lama sekali sejak terakhir wara-wiri di sini. Percakapan malam yang membebaskan. Jawaban dari Allah atas jeritan sesat hati. Kudekati Engkau satu jengkal, Kaurengkuh aku serapat perdu. Allah, Allah. Rinduku berbalas sempurna! PadaMu cinta sejati. PadaMu, Sang Kekasih Hati.

Rasa syukur mengingatkan akan sebuah syair nyanyian. Suatu saat dalam silam masa pernah mengawangi ruang di sela mimpi dan tawa.

Malam ini kita bercanda, tertawa sambil reguk dahaga
akan hari-hari yang tak pernah kita rasakan bersama

Yang dulu tak pernah ada, dan esok pun tak 'kan ada
ucap terakhir engkau pun tahu, ada nada cakrawala

Kausapa daku, kutanya dirimu, "Adakah kau pernah tahu?"
Kukatakan semua ini, agar kau mengerti
engkau mengerti

Jangan lagi kita ulangi, ramainya sepi yang hampir pasti
akan hari-hari, yang t'lah kita rasakan..

-vina panduwinata-


Selamat sore, pijar mentari.
Ingatkah kamu akan ulah kita menggurati jingga langit Serpong?

..

Saturday, May 02, 2009

Sang Waktu

Simple Beauty

Saya hanya hendak mengucapkan terimakasih. Dan memohon maaf.

Terimakasih atas segala doa. Semua kata-kata indah. Saya tidak punya kata-kata seindah itu. Karenanya ijinkan saya mengambil dari tulisan tahun lalu:
Terimalah terimakasih saya yang tak ada wujudnya ini. Bagaimana bisa doa tulus dibalasi selain dengan doa lagi? Bagai sinar perak bulan yang memantul di permukaan samudera Allah, lalu tertangkap kembali oleh seisi bumi sebagai rahmat bagi alam semesta. Untuk kalianlah doa-doa indah itu kembali! Biar Allah membalasnya. Biarlah Allah yang membalasnya.

Maafkan saya, masih saja berkutat dengan pekerjaan. Tidak meluangkan waktu untuk sekedar ajakan makan siang dan minum kopi. Betapa saya rindu. Ingin menikmati lagi obrolan ringan ditingkahi harum teh melati. Memandangi langit sore berubah warna, dari jingga, ungu. Lalu hitam berhias bintang. Dan tawa lepas kita tanpa beban.

Tapi boleh rindu itu saya simpan? Ketika longgar semua beban kerja dan kehidupan, boleh saya yang menawari kopi dan makan siang? Mudah-mudahan, langit sore masih di tempatnya. Detak waktu masih dipanjangkan. Untuk sekedar bertukar cerita kita, akan hal-hal yang tidak dapat dijawab manusia.

Pejaten, 2nd May 2009


Related Posts with Thumbnails