Friday, December 29, 2006

Yea, yea, yea, wa'd up?


Song: Say Goodbye - Dave Matthews Band

On the Table
Photo: one afternoon alone at Red Ginger, Citos
  • Tersebutlah pada jaman dahulu kala gigi gue ditambal pake amalgam. Obviously si amalgam yang lebih kuat daripada gigi gue itu malah mendesak-desak gigi, menghitamkan gigi, menciptakan retakan buat jadi gerbang masuknya kuman, dan akhirnya menciptakan bola pingpong yang nyut-nyutan di pipi gue.

    Jadilah Drg. Arbi yang pintar, jujur dan baik hati itu terpaksa membongkar tambalan amalgam itu, ngobatin infeksinya, ngisi akar gigi gue, rontgen, dan akhirnya nambal permanen dengan bahan yang jauh lebih ringan daripada amalgam.

    Alkisah, Drg. Arbi adalah sobat SMPnya Topaz. Jadi waktu Topaz mau bawa gue ke sana, gue rasanya maluuuuuu...!!! Soalnya gigi gue itu, ya ampuuuuuun.... gak ada kata-kata deh yang menggambarkan kejelekannya. Untung aja gue gak pernah merasa diri jelek pake gigi ini (baca: gak tau malu). Dengan bangganya nyengir mempertontonkan deretan gigi depan yang gak punya email sama sekali!

    Komentar sang dokter waktu pertama kali melongok ke mulut gue yang nyangap:
    "Subhanallaaaaah..........!!"
    Huahahaha.. gue gak bisa nahan ketawa! *pan udah gue bilang gue gak tau malu*

    Sepanjang perawatan, gak berhenti doi tergemes-gemes mau mempermak semua gigi gue. Gue menahan diri untuk gak nyeletuk, "Tapi, Dok, saya merasa cantik dengan gigi tak beremail ini..."

    Sepanjang perawatan juga, doi asik ngobrol kisah-kisah masa SMP sama Topaz. Gak jarang nih, pas lagi asik ngorek-ngorek gigi gue, tiba-tiba pembicaraan jadi makin mengasyikkan, sehingga dia membalikkan badan menghadap ke Topaz untuk ngobrol lebih seru lagi, "Ah yang bener loe, Paz?"
    "Oya?"
    "Emang tuh dia kan dulu blablabla.."
    "Bu Dharso masih idup?"
    ..meninggalkan gue yang ternyangap di atas kursi astronot.
    Huaaaaaaaa......., doooookkk...!!

  • Boy, was I glad I finally checked out that Ladies' Gym! Gak nyesellll...
    Tempatnya nyaman, bersih, bayarnya muraaaah... Bakalan jadi regular nih gue. Bakal berenang doank tapi. But maybe I'll try pilates :D So not me. But one should do something different every now and then, shouldn't one?

    Gak mau bocorin nama tempat dan lokasinya ah. Nanti jadi rame dan gak nyaman lagi *loh?*. Eeeh.. mau deh.. kalo gak laku nanti malah bubar.
    Namanya... Mab_ _ _ Hall, lokasinya di _ _ma_ _. Huahaha... gak niyat banget yak
  • Ke Desa Gumati.
    Sayang ujan, jadi batal mancing deh. Makanan ok, tempat ok. Highly recommended.

  • Akhirnya nyampe juga ke D'Cost.
    Makan siang barengan uni Dewi. Makanan oke banget. Style ok banget (the waiters took our orders using PDAs). Harga amat sangat oke banget, too good to be true, nyaris kayak becanda. Bukan untuk yang lagi buru-buru. Highly recommended. Highly recommended. Highly recommended.
  • Nyobain Ocean Park Serpong.
    Untuk yang mau berenang beneran, jangan ke sini. Mending ke kolam renang di Golf Executive Club aja. Untuk yang berharap menemukan waterpark Ancol versi mini, boleh lah ke sini. Di hari libur, siap-siap jadi cendol. Siap-siap kelaperan, karena gak boleh bawa makanan (tas diperiksain), tapi jumlah makanan yang dijual di dalem juga gak cukup (jam3-an gitu udah pada abis) Tidak adil sekali bukan?
    Not recommended, kecuali iseng.
  • Weits, akhirnya nemu Tenacious-D the movie! The Pick Of Destiny!
    Gambarnya belom bagus, tapi lumayan banget lah. Considering kemungkinan gak akan muncul versi gambar bagusnya.


  • Barusan beli Tempo baru, berita utamanya tentang skandal kontrak Microsoft sama Pemerintah Indonesia. Kekeke.. gak bisa nahan senyum.
    Inget orang-orang Microsoft, waktu dulu masih kerja jadi asistennya si babe. Inget nerjemahin materi-materi campaign-nya mereka. Inget jawab-jawabin pertanyaan kritis bin sinis orang-orang yang mampir di booth BSA seputar monopoli Microsoft. Inget jawaban-jawaban gue yang gak kalah mbalelo,
    "Jadi kita penjahat nih, mbak?"
    "Penjahat kan buat negara, pak. Buat anak istri kan pahlawan."
    Ssssaahhh...! Speak gue bau t** banget.
  • Terserah orang mau bilang apa, gue sedih Saddam digantung.
    Bagaimanapun, bagaimanapun.
    Semoga Allah mengampuni semua dosanya.

...

Saturday, December 02, 2006

Do Not Believe What You Read in the Papers

Song: Paperback Writer - The Beatles



Pengalaman saya di bidang media sih dikit banget. Kerja di radio berita selama 3 tahun, dan di majalah musik selama 2 minggu. Dua minggu! Another storylah itu, dan gak terlalu menarik.

Sependek yang saya selami sesebentar itu, gak ada sesuatu yang cukup besar yang membuat saya mengernyitkan kening menghadapi dunia media dan wartawan. Buat saya semua lurus-lurus aja. Apa yang disampaikan narasumber, diteruskan langsung kepada publik. Simple and fast, loud and clear.

Hingga suatu hari, seorang teman milis yang gak mau disebut namanya, diliput media cetak. Di situ ditulis bahwa si teman ini seolah berniat meninggalkan kantornya dalam 2-3 tahun mendatang. Nahlo!
Teman saya ini dalam emailnya curhat,"Duh, mbak, untuk gak ada foto akunya loh. Kalo sampe ada, dan dibaca orang kantorku, bisa dipecat aku."
Padahal sebaliknya, teman saya ini justru bilang ke wartawan bahwa dia sudah merasa nyaman di kantornya dan tidak berniat keluar. Halah, si wartawan malah ngaraaaang....

Kira-kira sebulan kemudian, giliran Ruri dan mbak Ita, sobat di milis NCC, diliput media cetak juga. Setali tiga uang, info yang ditulis udah ngacak adul ngarang jaya! Mulai dari salah tulis nama, salah tulis kisahnya mbak Ita, dll.

Waktu
itu, asli saya ngakak berat, karena udah mulai mahfum sama kegiatan mengarang bebasnya wartawan.

Terakhir, seorang sobat blogger memperoleh liputan dari media cetak import ternama. Di dalam tulisan tersebut, rupanya sosok saya nyangkut dikit, walaupun tak bernama dan tak berwajah. Tapiii... oh lala, storynya ngarang abissss!!
Karena tulisan yang tidak sesuai kenyataan ini, sobat blogger tersebut sampe gak enak dan mengemail saya tentang ini. Saya sih ketawa aja, karena akhirnya familiar juga dengan kegemaran kuli flash disk ini dalam berimprovisasi sebebas-bebasnya imajinasi.

Seperti yang sudah-sudah, kalo saya gak menyukai sesuatu, sesuatu itu malah terjadi pada saya. Agaknya ini adalah skenario rutin dari Allah untuk menempeleng saya dari waktu ke waktu. Demikian juga kejadiannya dengan praktek 'karang-mengarang' wartawan ini.

Kira-kira sebulan lalu, sebuah media cetak Asia Tenggara menugaskan saya menulis tentang seorang tokoh kuliner di Indonesia (saya nulis ini dengan lagak sok kalem nih, padahal girang banget!). Dengan semangat membara saya menginterview tokoh tersebut dan menuliskannya untuk media itu. Sang editor bilang, "The writing is good," dan beberapa hari kemudian mengirim kembali tulisan yang sudah dieditnya kepada saya.

Ketika saya baca... Halaaaah... udah tau donk apa yang terjadi? Ngaraaaaang..... Well, gak ngarang abis sih, tapi banyak bagian yang dilebih-lebihkan! Saya tulis 'exclusive', diganti jadi 'ultra exclusive'. Yang saya maksudkan 'hebat', diedit jadi 'omigosh amit-amit luar biasa'. Dan actually, ada satu kalimat yang saya tahu pasti memang ngarang! (Karena dia menulis ulang sebuah adegan yang saya alami sendiri dalam interview itu, dengan ditambahi sedikit detail karangan dia). Memang sih gak mengurangi atau mengubah esensi tulisan, tapi secara keseluruhan efek dramatisasinya jadi gila-gilaan, jek! Kayaknya gue aja yang ketemu langsung sama orangnya, dan nota bene hobi mendramatisir tulisan juga, gak ngerasa segitunya deh! Huahaha....!

Tulisan itu saya koreksi sedikit detail faktanya, tapi gak saya ubah gaya dramatisasinya. Saya cuma komentar sedikit ke editor saya,"It's very you :)". Yang maksudnya adalah: ngarang ni ye!
...
Related Posts with Thumbnails