Saturday, September 23, 2006

Apology

...For everything I've done
or said,
or wrote,
or thought,
that might hurt any souls,
I deeply apologize.
I'm sorry.
Forgive me.

The faults are mine and mine alone.

Marhaban ya Ramadhan,
I welcome you with tears in both eyes.


...

Wednesday, September 20, 2006

Something Good

...
Tadi siang, pas lagi di Tiki, ada telpon dari Anne. Anne ini adalah gamer cewek yang waktu itu jadi ahli waris game-game lama gue (read this post).

"Halo?" Kayaknya gue sering banget nulis model 'ngborol' kayak gini ya?
"Halo? Mbak Riana?"
"Iya," nebak-nebak, ini suara siapa yaaa?
"Ini Anne, mbak."
"Anne Indosiar?"
"Bukan, Anne..."
"Oooh, Adrianne..! Ada apa, say?"
"Lagi gak di rumah ya?"
"Gak. Lagi di Tiki."
"Ini aku mau mampir ngasihin game.."
"Owalaaaah, Anne gamer!" Halah, masalahnya kenal tiga orang yang namanya Anne.
"Iya. Ini aku mau mampir ke sana, aku kasih ke orang rumah aja ya?"
"Ya ampuuun, makasih bangeeet. Oya, The Longest Journeynya ada tuh, tapi nanti aku kirim aja pake kurir ya?"
"Halah, gampang mbak. Aku cuma mau ngopi aja kok."
"Tapi itu game gak bisa jalan di XP...," blablabla ngobrolin game.

Nyampe di rumah, di atas meja komputer udah ada 11 CD dan 1 DVD yang mewakili 7 game bagus-bagus! Check these out:

Agon

Agatha Christie: And Then There Were NoneParadise

Nibiru: Age of SecretsNancy Drew: Danger By Design

KeepsakeCSI 3: Dimension of Murder

Semua dikopiin sama Anne, gratis! Gue bahkan gak dibolehin ngeganti ongkos CDnya sama sekali. Owh, I must have done something good to deserve this!

Alhamdulillah...


Anne, biar Allah yang bales ya, say..
...

Wednesday, September 13, 2006

Ricky, the Tall Cat

Ricky came to our house about two years ago. He was tall, dirty and skinny when he came, and meowed a lot. When seeing him my hubby yelled,"Look, there's a tall cat!"
He was tall, alright, and full of mucles. We fed him, and he became part of us ever since. My hubby called him, Ricky, the Tall Cat.

Now he's quite clean, except for the ocassional dust on his fur when he spends the whole day sitting on the porch. He also gained weight. But because he's tall, he doesn't look fat, he looks big! When you rub his body, you'll still feel the muscles he got from living on the street. He still meows a lot, though.

...

Tecnorati tag:

Monday, September 11, 2006

Minggu Sore di Tea Addict, 30 thn ke Atas

...
Paling enak, sore-sore minum teh bareng temen-temen dekat. Paling gak, dekat di hati lah :)
Missi sore itu adalah, punya foto bareng ketika semua udah berumur di atas 30 tahun. Kali gara-gara dari dulu punya ide bikin pesta Turning Thirties yang gak juga kesampean :D

Ini juga termasuk mukjizat bisa ketemu berempat. Mana pula sehari sebelumnya si Irzam masih somewhere in China. Seneng banget, setelah sekian lama gak pernah beginian bareng lagi.


Nah kan, missi semula malah gak kesampean. Biasa deeeh, gue jadi asik cetrak-cetrek sendiri.

"Eh, elo-elo pada ngobrol aja ya. Gue mau ngambil foto kalian candid."
"Ok."
"Huuuh, Sandy kok mukanya merenggut melulu seh?"
"Lah, katanya candid, kok ngatur seh?"

Hihihi.

Pulangnya mampir ke Dim Sum Festival di Kemang, beli Will & Grace Season 6 dan 7. Huah, gue gak gaul banget yak. Gak pernah tau ada toko DVD lengkap di sini. Jadi gak usah ke Ambasador lagi deh :)

Sayang Oding gak bisa ikutan. Maybe next time. Insya Allah.

Saturday, September 09, 2006

Just Another Day of a Freelancer

...
Email dari klien setia:


Hi Riana,

I have sent the report to P*** a while ago and awaiting his response but he has been away in New Zealand and will return to Australia on the 10th Sunday so the week of the 11th will revert.

Thanks

F*****

-----Original Message-----
From: Riana
Sent: Tuesday, September 05, 2006 7:23 PM
To: F***** C*****
Subject: Re: L****** & X**** Project

Dear Sir,

Any news on this project?

Regards,
Riana


In other words: nunggu lagi sampe Senin!
Good luck, Riana..

...

Tuesday, September 05, 2006

So Long, Steve Irwin

...
Senin, 4 Sept 2006

"Topaz, gue lupa bilang ke kamu, Steve Irwin meninggal tadi pagi."
"Hah?? Inna lillahi.."
"Iya, sedih ya..," maklum beliau salah satu favorit kita berdua.
"Kenapa meninggalnya?"
"Kena sengat ikan pari beracun."
"I knew it! Gue udah bilang kelak dia meninggalnya pasti karena kerjaannya itu! Kayak Norman Edwin."
"Iya, gue inget kamu pernah bilang begitu."
"Haduuuh... tuh orang.."
"Gue udah menduga kamu pasti sedih banget."
"Kaget iya. Sedih gak terlalu. Abis gue udah dari dulu memperkirakan kejadian kayak gini. Haaah.. tuh orang. Gue udah mengira..."

So long, buddy. We'll be missing you so much..
...

Monday, September 04, 2006

Life Must Go On

...
Hari ini, sebetulnya masih devastated. Masih, tiap kali keinget, nangis. Dan ingetan itu lamaaaa gak mau lepas. Inget waktu dulu sering ke Buaran buat kursus, beli toples, beli loyang, pesen kue kering. Topaz sampe khawatir liat mata gue bengkak. I'm gonna be alright, babe. It's just that I need to mourn. Women do that.

Karena kasian liat gue, Sabtu malem pergilah dia ke rental DVD. Pulangnya bawain Memoirs of Geisha, Friends with Money, sama Reality Bites. Udah lama banget pengen nonton yang terakhir ini. Jangan ampe gue beli juga nih film :)

Lumayan, gue sangat terhibur.

Pagi ini, bangun dan bertekad untuk melanjutkan hidup. Bikin kopi buat Topaz, bikin ramuan Andang Gunawan buat gue. Terus cuci piring, ganti sepre, ngelipetin baju, bersihin debu di kamar, cuci yang harus dicuci, jemur yang harus dijemur. Masak? Belom deh, belom dapet lagi clicknya.

Akhirnya, ke salon aja *mumpung lagi gak ada project dari si klien setia*. Udah setahun gak potong rambut. Maybe, it's time. Potong rambut itu merubah hidup. Ngecat rambut juga. Tapi sekarang kalo mau ngecat rambut, pakenya Henna kali ya.

Ke salon muslimah di koperasi, namanya salon Humairah. Humairah itu artinya apa ya? Yaaah, gak berharap hasil potongnya kayak hasil potongan Alfi sih. Yang dalam sekejap bisa bikin rambut gue seimut Wynona Ryder, or sekeren Elyse Sewell, si cewek kurus di Next America's Top Model season 1.

Dan ..bener deh. Gue mendadak kembali ke 10 tahun yang lalu, waktu orang masih norak2nya pasang rambut shaggy *tinuninung.. tinuninung... tinuninug.... twilight zone!!*
Bodo ah.

Di kasir, iseng banget beli masker bengkoang. Apa coba.

Di deket salon ada warnet nyaman. Cek imel. Gak lama kemudian, ada telepon dari +6221213..sekian-sekian.

"Halo?" Suara cowok. Keren suaranya.
"Halo."
"Bisa dengan ibu Riana?"
"Saya sendiri."
"Lagi di mana?"
"Ada deh."
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik."

Mulai berdua cekikikan.

"Emang elo tau siapa gue?"
"Gak penting."

Ketawa ngakak.

"Kurang ajar loe."
"Loh, kan elo yang nelpon. Berarti elo yang ada perlu sama gue."
"Masa' elo gak nanya sih gue siapa?"
"Kalo orang normal sih biasanya langsung kasih tau 'gue si anu, ada perlu anu'. Itu kalo orang normal...."
"Terus elonya juga gak mau tau siapa yang nelpon, lebih gak normal lagi."
"Lebih gak normal lagi waktu si orang gak normal itu keluar narsisnya 'kok elo gak nanya sih gue siapa'...."

Ngakak lagi.

"Lagi ngapain?"
"Lagi mengais secercah berlian."
"Di mana?"
"Mau tauuuu aja."
"Di radio Delta?"

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......... ternyata Ido Seno!!

Ido adalah rekan sesama penyiar sekaligus mentor gue waktu di Trijaya FM. Ketika orang sekantor menganggap gue anomali, Ido-lah yang ngeliat potensi gue dan ngasih asignment-asignment menantang yang cocok buat gue (ultimately, interview Al Jarreau!!!). Ido yang pinter banget, berakal sehat, bersuara kereeeen, dan sangat baik hati. I love you, Do *loh?????*

"Idooooooooooooooo, I miss you so much!!!"
"Halllaaaaaaaaaa.....hhh..."

*Kalo di film-film, maka fragment ini akan ditutup dengan gambar tanpa suara, gue di sisi satu, dan Ido di sisi lainnya, lagi ngobrol di telpon sambil ketawa-ketiwi gak berenti. Iringannya lagu jazz tua yang asik, sambil gambar perlahan menjauh dan menghilang. Digantiin dengan pemandangan langit sore Jakarta yang oranye dan agak butek karena polusi.*

Alhamdulillah...


...

Friday, September 01, 2006

Berpulang

...
...Saya selalu berpikir bahwa
orang-orang baik selalu dipanggil lebih dahulu...
Ketika kita menyampaikan penghormatan terakhir kepada seseorang yang berpulang, apa yang akan kita sampaikan? Kebaikan-kebaikan beliau di masa hidupnya, permohonan maaf, dan doa.
Hari ini, dan mungkin masih akan berlanjut di hari-hari berikutnya, ratusan orang menyampaikan kata-kata indah dan doa mengiringi kepergian Inong. Betapa beliau telah mengubah hidup mereka (termasuk hidup saya). Betapa beliau telah menjadi sahabat, guru, dan sumber inspirasi yang tak kan lekang dari ingatan (termasuk dari ingatan saya). Insya Allah, pahala akan terus mengalir dari ilmu yang terus diamalkan.

Saya tidak akan menambahinya dengan koleksi panjang prestasi dan kebaikan Inong yang sudah diketahui banyak orang. Bagaikan selebritis di jagat maya, rasa-rasanya tidak ada netters Indonesia yang tidak pernah bersinggungan kontak dengan si pencinta warna ungu ini.

Di sore yang menyesakkan nafas ini, saya hanya ingin menyembuhkan gundah hati.

Hati saya memang gundah sejak kemarin, sejak mendengar dan menyadari harapan yang semakin tipis. Gundah karena sedih, dan rasa bersalah. Sedih tidak bisa bertegur sapa lagi. Rasa bersalah karena beberapa bulan belakangan ini tidak sungguh-sungguh menyempatkan diri melakukan kontak, dan minta maaf atas semua salah saya. Saya hanya berniat, berniat, tapi tak kunjung dilakukan. Kontak terakhir saya adalah beberapa bulan lalu, ketika saya meninggalkan pesan di shoutbox beliau. Setelah itu beberapa kali saya berniat kontak lagi, tapi entah kenapa selalu tidak jadi. Padahal, pasti banyak salah saya yang belum saya mintakan maafnya. Pasti banyak saya menyakiti hatinya. Akankah Inong memaafkan saya?


...Bisa jadi, kita-kita
yang belum 'berangkat' inilah yang harus ditangisi..
Beberapa tahun lalu, Fahmi, sepupu saya, meninggal dunia di usia yang masih sangat muda, 30-an tahun. Ia seorang lelaki yang hampir sepanjang hidupnya digunakannya untuk menemani kedua orangtuanya. Sejak kecil, seingat saya, kemanapun orangtuanya pergi, ia selalu ikut. Di tiap acara keluarga, ia selalu hadir. Setelah dewasa, ia adalah supir abadi kedua orangtuanya, baik bepergian keluar kota, apalagi di dalam kota. Sampai-sampai kakak saya menganggap ia orang yang aneh, karena tidak pernah punya kehidupan pribadi. Jangankan teman wanita, teman pria pun seperti tidak punya. Betul-betul, hidupnya diabdikan untuk menemani orangtua. Hingga tiba saatnya beliau harus bekerja. Orangtuanya sudah pensiun, sehingga tidak lagi banyak keharusan mengantarkan mereka kesana kemari. Ia bekerja kurang lebih setahun, kemudian sakit dan meninggal dunia. Orangtua dan kakak-kakaknya amat sangat bersedih hati. Anak laki-laki satu-satunya yang paling diharapkan, kesayangan keluarga, masih muda, masih banyak cita-cita yang ingin diraihnya, demikian sang kakak curhat kepada kami.
Saya sendiri mengikhlaskannya dengan mencoba mengerti skenario Allah. Mungkin, tugasnya di dunia sudah selesai. Yaitu menemani orangtua sampai saat ia masih bisa. Ketika sang orangtua sudah merasa cukup dan mengikhlaskan sang anak untuk memiliki hidupnya sendiri, maka tugasnya selesai. Dan Allah segera mengambilnya kembali. Waktu yang paling tepat menurut Allah, walaupun kadang tidak terbaca oleh manusia.

Saya selalu berpikir bahwa orang-orang baik selalu dipanggil lebih dahulu. Untuk menghindarkan mereka dari dosa lebih banyak. Dan amalan mereka sudah cukup untuk membawa mereka ke pintu surga. Tugas di dunia sudah mereka tunaikan. Mungkin, Allah memanjangkan umur saya karena amalan saya belum cukup banyak untuk menyelamatkan saya kelak di akhirat. Memberi saya waktu untuk tobat atas segala dosa, dan minta maaf kepada banyak orang. Mungkin tugas saya di dunia belum juga saya tunaikan. Saya yang masih 'mengantri' ini memang sepatutnyalah gundah dan was-was. Seperti Fahmi, berapa persen dari hidup saya yang sudah saya habiskan untuk berbakti pada keluarga? Seperti Inong, akankah saya juga dikenang dan didoakan banyak orang? Bisa jadi, kita-kita yang belum 'berangkat' inilah yang harus ditangisi.

Sore ini, saya tidak ingin menangisi perginya Inong, atau mendera diri dengan rasa bersalah (walaupun belum-belum saya sudah rindu komentarnya, smsnya, semua tentangnya). Karena saya yakin Allah mengambilnya di waktu yang paling tepat. Untuk kebahagiaan Inong, dan untuk 'menempeleng' saya, bahwa minta maaf tidak cukup hanya di niat. Dan silaturahmi tidak cukup hanya di dalam kepala.

Sudah jam 18.03. Saya harus bergegas ke Buaran.

...
Related Posts with Thumbnails